81794_87011.jpg
Cerpen · 5 menit baca

Pada Suatu Hari Yang Aneh
http://www.zonealarm.com/blog/2014/05/8-signs-your-pc-is-a-zombie/

Kami tak menyangka, keinginan berkemah untuk liburan dan bersenang-senang malah menimbulkan ancaman bahaya bagi kami. Wuster, Artar, Arita, Appleby, Bovin, Roisin, Rallo, Armon, dan aku, dalam situasi di ujung tanduk, terjebak dalam bangunan tua di hutan dan dikelilingi oleh para zombie. Salah satu zombie itu adalah Rey dan Patsos, teman kami. Mereka tergigit ketika kami melarikan diri untuk melindungi diri dari serangan mayat hidup itu.  

Kami tidak tahu asal zombie-zombie itu. Ketakutan telah membuat kami hilang konsentrasi, untung di tengah hutan kami menemukan rumah tua yang bisa dijadikan perlindungan. “Kita akan mati, kita akan mati” Dalam ketakutannya, Arita terus berucap kata-kata itu. Appleby sedikit lebih tenang, meskipun wajahnya pucat. “Bagaimana dengan lukamu?” Tanyaku pada Armon yang tergigit zombie. Wuster dan Artar tampak cemas. “Kita harus ikat Armon, Armon terjangkit” Kata Wuster sedikit keras. Artar menyetujui pendapat Wuster, sedangkan Bovin hanya pasrah, ia terus memeluk Arita kekasihnya yang ketakutan. Roisin dan Rallo tak ambil pusing, mereka juga menginginkan Armon diikat agar tak menggigit saat berubah.

Di luar bangunan ada sekitar dua puluh lima zombie yang siap menggigit kami. Tak ada jalan keluar, kami menghadapi kebuntuan. Situasi sulit itu memaksa kami untuk bertahan. Dinding bangunan sudah kami tutupi, tinggal merencanakan keluar dari kepungan zombie itu. Armon semakin pucat, ia terjangkit. Tinggal menunggu waktu ia berubah. “Aku punya rencana, kalian semua harus selamat. Biar aku menjadi umpan para zombie, setelah itu kalian lari” Ucap Armon disisa energinya sebelum ia berubah. Aku diam, meskipun tidak rela Armon menjadi umpan tapi rencana itu termasuk yang terbaik untuk semuanya.

Tanpa menunggu waktu Roisin dan Rallo membuka ikatan Armon. Kami semua tak tega tapi Armon sungguh nyakin dengan rencananya. Roisin dan Rallo minta maaf pada Armon, karena selalu bertengkar selama ini. Armon tersenyum, ia tlah memaafkan kami semuanya. Di ujung sunyi kami siap dengan rencana. Armon berlari di pintu barat, kami lari di pintu timur. Tanpa melihat apapun kami berlari dengan kecepatan tinggi sampai menjauh dari kumpulan zombie. Kami terhenti, saat mendengar teriakan Armon yang menandakan ia telah dimangsa. Arita dan Appleby menanggis, kami semua bersedih. Kami terus berlari dan mencari jalan keluar sebelum gelap datang, karena ketika malam semua menjadi lebih rumit.

Kembali dengan situasi tak terprediksi. Malamnya kami membuat api unggun untuk menerangi kelam, membakar ketakutan berharap esok menemukan jalan pulang. Roisin dan Rallo kembali dari tugas mengawasi sekitar. Mereka menemukan pondok yang tak jauh dari peristirahatan kami. Kami bergegas kesana berharap menemukan kenyamanan dan keamanaan yang lebih terjamin. Sampai di pondok kami merasa senang karena ada orang yang tinggal. Nenek itu gembira dengan kedatangan kami. Kami lega tlah terhindar zombie. Nenek itu kebetulan sedang memasak sup dan kami diajaknya untuk makan bersama. Awalnya aku curiga tapi sikap nenek yang baik menutupinya. Kami makan dengan lahap dan beberapa kali menambah.

Pikiranku tak henti berspekulasi. Ada beberapa kemungkinan siapa nenek itu. Pertama, ia orang biasa. Kedua, ia adalah iblis, setan, atau roh penunggu hutan. Dan yang ketiga penyihir, seperti yang di film-film kita tonton. Semua teman-temanku tak ada yang curiga. Mereka semua nyaman tapi aku selalu waspada. Dalam situasi rumit hal-hal yang aneh patut  dicurigai. Kami semua tertidur, hanya aku yang pura-pura, terjaga untuk mengawasi hal yang buruk. Kulihat nenek masih merajut, ia belum tidur. Di tengah merajut itu ia hentikan goyangan kursi goyangnya dan tersenyum mengerikan. Kecurigaanku menjadi, pun detak jantungku berdenyut kencang. Rasanya ada sesuatu yang tak beres, tapi apa? Nenek menyihir satu persatu temanku hingga berubah zombie. 

Aku mengerutu, mengutuk nenek itu. Aku berusaha membangunkan Bovin. Kulihat ia mulai terjaga. Masih dalam pengaruh mimpinya, aku menyuruhnya diam, dan menunjukan ulah nenek itu. Bovin kaget, dan kami merencanakan pelarian. Bovin berusaha membangunkan Arita di ujung eksekusi Appleby. Tanpa banyak bicara kami lari dengan sempurna. Nenek yang mengetahui itu murka dan menyuruh teman-teman kami yang menjadi zombie untuk mengejar kami. Kami bertiga lari sekuatnya, berusaha sembunyi untuk hidup. Dalam kelelahan yang luar biasa kami berusaha untuk menembus hutan dan menemukan jalan raya. 

Cukup lama berlari akhirnya kami menemukan jalan raya dan berusaha untuk menumpang mobil yang lewat, namun tak ada yang berhenti untuk memberi tumpangan. Kami frustasi, sampai akhirnya ada mobil truk yang memberi kami tumpangan. Para teman-teman kami yang menjadi zombie terus mengejar tapi mereka kalah oleh kecepatan truck. Jantung kami terasa lepas. Aku lega bisa lari dari penyihir dan zombie. Aku berterima kasih pada supir truck itu, tapi sikap supir truck yang diam dan hanya mengangguk saat ditanya menimbulkan keanehan. Aku waspada, kembali curiga. 

Tak lama truck berhenti dan supir  izin untuk kencing. Aku dan Bovin juga keluar untuk melakukan hal yang sama. Arita yang tak mau sendiri mengikuti kami. Kami saling menunggu untuk hal itu. Kami melanjutkan perjalanan. Arita tertidur, dan Bovin mendekapnya. Aku melihat jalan, sambil membuka pintu untuk menghirup udara yang lebih kuat. Hari yang panjang dengan segala keanehan. Aku merasa letih dan mengantuk. Tiba-tiba aku mendengar suara mengetuk dari dalam truck. Aku merasa takut. “Pak supir, apa isi dalam truck” Tanyaku curiga.  “Ngak ada apa-apa, itu hanya getaran saja” Jawab pak supir tenang.

Aku melepas kecurigaan, mungkin pak sopir benar. Tak lama aku mendengar lagi suara mengetuk. Arita terbangun, ia bertanya suara apa itu. Pak sopir hanya menjawab itu sebuah getaran. Bovin yang dari tadi diam menjadi khawatir, ia curiga kalau truck itu berisi sesuatu yang aneh. Suara itu kembali, Bovin berteriak menghentikan truck. “Kita harus periksa isi dalam truck ini” Kata Bovin curiga. Pak sopir yang memiliki wewenang tak mengizinkan. “Itu hanya getaran, percayalah” Ucap pak sopir menjelaskan. Terlihat gelagat mencurigakan dari pak supir, aku nyakin ada sesuatu yang tak beres.

Karena kami terus memaksa akhirnya pak supir membuka isi dalam truck. “Kalian nyakin mau melihatnya” Kata pak supir menghentikan kami. Bovin kembali memaksa, ia meminta kunci  dan membuka truck. Arita yang cemas memegang tanganku. Kami berharap isi truck itu bukan zombie atau hal buruk lain. Kami telah lelah dengan petualangan lari-larian menghindar zombie untuk hidup. Pintu truck terbuka, dalamnya kelam. Bovin meminta senter pada pak supir untuk melihat isinya.

Belum sempat menyenter, sesuatu keluar dan menyerang kami. Para zombie mengigit Bovin dan pak supir. Aku dan arita berusaha lari namun kami terkepung. Arita digigit, aku pasrah dan memejamkan mata untuk mati. Tiba-tiba semua sunyi, aku membuka mata. Kulihat para zombie tertawa. Arita dan Bovin yang telah mati kembali hidup. “Sial aku dikerjai” Pikirku dalam hati. Arita dan Bovin menyanyikan lagu ulang tahun bersama zombie-zombie palsu, yang tak lain adalah teman-temanku sendiri. Aku hampir frustasi, tak menyangka diberi kejutan yang gila. Hari itu luar biasa, menjadi ulang tahun terspektakuler yang tak pernah aku bayangkan. (Tanjung Aur, 12 April 2018)