Libertarian
3 tahun lalu · 101 view · 1 menit baca · Puisi karnaval.jpg

Pada Sebuah Karnaval

Kumpulan puisi karya Saidiman Ahmad.

 

Pada Sebuah Karnaval

Pada sebuah karnaval senja yang tak rapi
seorang ibu menepi di jalan tersisih
berdiri
ia pasrahkan rintik hujan
semena-mena menggempur wajahnya
sementara angin menelusuk masuk
tanpa bisa ia kenali

Di seberang jalan,
orang-orang di tepi
merokok tak tahu diri
menebar racun di angin lirih
rencananya busuk tak punya hati
membunuh entah siapa lagi

Jakarta, 10 November 2009

 

Telaga di Matamu Memancarkan Pagi

Telaga di matamu memancarkan pagi
tak habis-habis kupandangi
aku ingin menggigil telanjang di sana.

Bau cendana di putih susumu
kuhirup kuhirup kuhirup.

Aku ingin rebah
di bulu halus kulit perutmu.

Jakarta, 16 November 2009 

 

Berburu

Aku melihat fasis bergerak berderap-derap
di permukaan kerak bumi yang padat
mereka mengubah khutbah menjadi senjata
dan biji-biji tasbih menjadi peluru.

Berdirilah
berkobar-kobar semangatmu
berapi-api jiwamu
ambil tahiyat terakhir
patahkan di udara
di depan sana menunggu orang-orang serakah.

Mereka bergerak berderap-derap
mereka membunuh membunuh membunuh
merampok kedamaian
memperkosa kebebasan
membakar dunia.

Tapi, hari ini kita angin menderu-deru
songsonglah dan terbitkan gentar di hati mereka
jungkalkan sujud-sujud mereka
pecahkan takbir di kepala mereka.

Mereka bergerak berderap-derap
kita gelombang gemuruh
berburu berburu berburu.

Jakarta, 19 November 2009 

 

Laki-laki, Perempuan, dan Buku Tua

Laki-laki dengan jidat hitam penyok
membasuh mata, telinga, dan tumit
akalnya selambat bekicot
bersimpuh
menyeruduk seperti babi yang kikuk

Perempuan berwajah takluk
berdiri dengan lutut setengah ditekuk
rambutnya busuk
di balik taplak dibekuk

Buku tua lusuh dari negeri yang jauh
sampulnya kusut kulit belut
dibawa saudagar dan angin laut
di sini menebar benci berlagak suci

aku geli dikerubut curut

Jakarta, 9 November 2009