Although we can’t stop all cruelty to living creatures on the planet, we can be kinder to every living creature in our life  (River Phoenix - American Musician and Activist)

Di hutan tropis yang hanya 6% dari bumi, manusia tak pernah berjalan sendiri. Kita dan rekan sejawat – apa atau siapa – pun itu ada, dan punya harkat yang sama. Barangkali hanya manusia sepi yang cenderung menihilkan dan merasa lebih unggul sendiri.

Senja tiba diiringi gerimis merintik. Satu-satu kelotok meninggalkan dermaga Camp Leakey. Tak seperti lainnya yang melesat langsung pulang ke penginapan, kami melaju pelan.

Setelah kelotok menepi, dilarunglah seutas tali. Di barat awan gelap tampak menyusun siasat. Namun arus Sekonyer tetap tenang. Ia bahkan lebih mengkilap. Pemandu memperkirakan akan turun hujan, setidaknya lepas tengah malam. Kami risau.

Terpal jendela siap dihamparkan. Di tajuk pohon, bekantan-bekantan berebut tempat, bergegas ingin melepas penat. Tidakah mereka tertarik menjadi saksi sesuatu akan terjadi? Malam ini dan misteri.

Adalah Sungai Buaya, rumah para buaya. Sepanjang 49 km, berhulu jauh di Nantai. Ia saksi aksi heroik pejuang kemerdekaan. Pada 1948, para gerilyawan menenggelamkan kapal kolonial Belanda bernama Lonen Konyer. Ada intervensi energi astral pada keberhasilan itu.

Sebagai tengara, Sungai Buaya mengubah nama: Sekonyer. Hingga kini, mite seputar karamnya Kapal Lonen Konyer masih hidup di benak masyarakat. Sayup-sayup warga percaya kapal kerap muncul tanpa diduga.

Apa yang membuat sungai tetap damai di tengah derai hujan yang mengurai. Karena tak ada keraguan. Sungai tahu pasti akan ke mana ia pergi. Setelah bertolak dari Pelabuhan Kumai, berikutnya sungai mengemban kapal kelotok berkelok ke muara Sekonyer.

Dua jam sebelumnya. Pagi. Jarum jam belum merajut di angka delapan. Ruas jalan Pangkalan Bun tiba-tiba ribut. Kaki-kaki hujan menderap rapat. Bahkan saat mobil parkir di Pelabuhan Kumai.

Pelabuhan Kumai punya dua gerbang; satu yang ada patung Panglima Utar bagi bongkar-muat barang dan penumpang dari Semarang dan Surabaya. Satu lagi pelabuhan wisata akses menuju Taman Nasional Tanjung Puting.

Hujan masih riang. Kami mendekap tangan di teras Pelabuhan Wisata Kumai. Tunggu biar sedikit reda. Saran tour guide sambil menyamankan ponconya. Lalu mencelat ke geladak menyimpan bekal perjalanan. Kami diam. Bulir air yang menghempas daun nipah di seberang jadi tumpuan pandang.

***

Terpal biru jendela kelotok telah disingsingkan. Pandangan kami lebih lega. Tersisa satu dua butir hujan yang belum jemu cumbui cokelat manis air Sekonyer. Sesekali berpapasan dengan nelayan pencari udang atau kapal wisatawan. Pada 2018 sedikitnya 18 ribu wisatawan asing datang ke Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).

Inikah denyut sungai inspirasi Karen Harrison menuliskan puisi: Sekonyer River... everything is wet under the dry sun. I jump, gasping and bleeding sweat into the brown river, licking blood from fingers that should have been kept...

Saat kami lalui Tanjung Harapan langit kian cerah. Daun nipah, rasau, bakung, dan rengas semua berkilau hijau tegas. Selain tempat pemberian makan orangutan di Tanjung Harapan terdapat demplot tanaman obat dan anggrek. Udara segar sangat. Hanya saja sinyal telepon makin samar. Apalagi saat tiba di Pondok Tanggui.

Surya memberi asa. Sekawanan bekantan muncul di dahan-dahan ketiau. Burung raja udang mengibaskan sayap. Beberapa saat kemudian, kami luar biasa takjub menemui air sungai yang berganti warna dari cokelat pekat berubah kemilau hitam.

Camp Leakey sudah dekat. Ujar pemandu. Membuat air muka kami tambah sumringah. Warna hitam air karena ia mengalir dari lahan gambut. Ini Amazon-nya Indonesia. Mirip Rio Negro, maksudnya? Aliran air hitam yang tak lain tributary Amazon.

Butuh tiga puluh menit jalan kaki dari dermaga ke feeding platform orangutan Camp Leakey. Saat tiba, sekitar 150 wisatawan lokal dan asing duduk menunggu dengan rapinya. Feeding time antara jam 2 hingga 4 sore.

Sudah jam tiga, belum satu pun orangutan muncul. Para ranger terus melolongkan suara pemanggilan. Ini bulan musim buah di hutan sudah usai. Seharusnya lebih banyak orangutan datang mengambil jatah makanan; pisang dan umbi-umbian. Hingga 2016, populasi orangutan di sini sekitar 917-an.

Turis mulai tak sabar. Si sisi kiri papan bertulis “Silence Please: Respect The Orangutan” terpampang. Tak lama kemudian, ranting pepohonan bergoyang. Seekor orangutan jantan pipi tebal lebar datang mengibaskan mahkotanya yang cokelat lebat. Dia sang raja. Tua dan tidak renta.

***

Dari awal kami telah berencana menghabiskan malam di Sekonyer. Menginap pada kelotok yang mengambang di bahu sungai hitam.

Dan pagi ini. Di haluan kapal yang dibasahi sisa hujan semalam. Aku duduk mencium embun. Beradu pandang dengan hening yang gemulai mengelabu. Seekor katak meringkuk di dahan nipah. Lalu bekantan, sepertinya mereka masih mendengkur di mahkota sindur.

Apakah hanya aku yang sesungguhnya ingin segera bertemu pagi. Setelah lebih sepertiga malam resah mengunci. Dalam tidur yang tak begitu nyenyak, saat rintik tengah lirih, suara kapal yang melintas jelas membuatku terjaga dan menajamkan telinga.

Referensi:

https://visitkotawaringinbarat.com/menyusuri-sungai-sekonyer

http://smallstations.com/publications/item/55-sekonyer-river

https://jurnalbumi.com/knol/hutan-hujan-tropis/

https://www.tagar.id/misteri-mistis-di-sungai-sekonyer

Data-data dari pengelola Taman Nasional Tanjung Puting (TNPT)