Pada sebuah jeda, aku berhenti sejenak. Merenungi semua yang tak kunjung baik. Lalu, dengan segala harapan dan doa-doa, aku berusaha bangkit untuk semuanya yang lebih baik.

Hari-hari sunyi telah menjadi teman yang setia.

Tak kurasakan lagi indahnya senja yang begitu dikagumi banyak manusia. Tak kurasakan lagi bagaimana malam bermain bersama gemerlap bintang yang jauh disana. Tak kurasakan lagi nikmatnya mentari pagi yang perlahan keluar dari singgasananya.

Semua berjalan tanpa arah yang jelas. Bagai daun jatuh yang terbawa derasnya arus sungai. Seperti tidak ada kisah yang menarik untuk dikenang.

Bagaimana tidak, dia yang telah ku puja mati-matian, pergi begitu saja tanpa kejelasan.

Kala itu, dia hanya berujar bahwa aku dan dia seperti bumi dan langit. Ada jarak yang terlalu jauh untuk disatukan dalam ikatan cinta. Adat memisahkan dua insan yang saling cinta dan menganggap akan ada malapetaka jika itu diteruskan.

Cinta kadang menyeret semuanya termasuk status sosial. Biarlah, aku tak akan menyalahkan nenek moyangku juga nenek moyangmu. Karena manusia diciptakan berbeda-beda hanya saja kita tak mampu menyatukan perbedaan itu menuju hari-hari bahagia.

Perlahan semesta punya cara sendiri dalam mengobati luka setiap manusia. Semesta pula yang menuntun langkahku padamu. Dengan cara sederhana, kau menarikku secara perlahan kedalam lumpur asmara dan kembali percaya akan kata cinta.

Padahal, semua hanya bermula pada perjumpaan kita yang begitu sederhana, tak seperti kisah-kisah yang banyak dilukiskan para pujangga atau adegan-adegan yang ada dilayar kaca.

Tapi kenapa kau begitu memikat?

Basa-basi perkenalan mewarnai perjumpaan pertama. Kau yang melempar senyum sapa, sudah cukup membuatku diam tanpa kata.

Senja membawamu segera berlalu, aku yang masih diam membisu tak percaya dan berasumsi bahwa kau adalah jelmaan bidadari dari surga yang diturunkan ke bumi lalu membuatku kembali terjebak pada sebuah keinginan untuk saling mencintai.

Jika mencintaimu itu luka, maka biarlah perjumpaan ini hanya sebatas saling sapa yang tak perlu aku biarkan berlarut hingga membuatku kembali terdampar pada jurang asmara.

-ooo-

Malam ini, otakku berbohong jika tidak memikirkanmu. Bagaimana bisa perjumpaan pertama bisa membuatku kacau seperti ini. Apakah ada cinta pada pandangan pertama? Bukankah itu hanya dongeng atau sekedar lagu semata?

Adakah kau juga merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan sekarang? Atau hanya aku yang menganggap semua ini secara berlebihan? Sementara dirimu hanya membiarkannya mengalir tanpa ada sesuatu yang istimewa untuk dikenang?

Sejuta pertanyaan itu kubiaran bertaburan dilangit malam.

Kuraih gitar yang telah lama tak berirama. Dengan perasaan yang tidak tenang, perlahan kumainkan bersama hembusan angin malam yang sesekali memaksa untuk diam. Tapi kali ini, suaraku tak bisa dikalahkan oleh malam. Tak bosan-bosan aku senandungkan Tentang Dirimu dari Ipang

Nada ponselku tiba-tiba berdering dan dari notifikasi ada namamu yang terpampang jelas. “Selamat malam” sapamu. Sungguh, itu sudah membuyarkan fokusku. Kucermati kembali, apakah itu adalah kau? Atau aku hanya mimpi? Tidak, ini nyata dan ini pesan darimu.

Obrolan kita menjalar begitu cepat bak kebakaran dipadang ilalang. Bercerita berbagai topik dan masa lalumu pun ikut terseret, rupanya kau pun merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasa. Sama-sama terluka oleh orang yang pernah dipuja.

-ooo-

Waktu nampaknya membawa kita semakin sering berbagi cerita dan saling sapa. Kita sama-sama merisaukan tatkala salah satunya tak ada kabar.

Dengan hadirnya dirimu, setidaknya hujan pernah menjadi larik puisi, senja pernah mengantarkan kita pada malam yang dihiasi mutiara dan tangan yang saling menggenggam tatkala rindu mulai mengusik jiwa.

Biarlah waktu membawa kita pada rentetan peristiwa yang membuatku bersyukur karena semesta telah mempertemukan kita.

Hingga tiba pada suatu waktu, kau menghilang entah kemana. Tak ada angin, tak ada mendung. Hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya membasahi hati.

Kau dimana? Tanpa ada kabar yang menenangkan hati dan perasaan.

Apakah kehadiranmu hanya untuk menyemai bibit cinta lalu pergi meninggalkannya?

Ataukah, ada bibit lain yang telah kau semai dan rawat hingga saat ini?

Malam terlalu bisu. Bintang asyik sendiri dengan kedipannya yang seakan mengejek dari kejauhan. Semilir angin perlahan membawaku pada kesunyian malam yang teramat.

Sekuat hati ingin melupakan, sekuat itu pula hati menjerit kesakitan. Semakin berusaha, semakin kuat radarku menyalakan tanda tak bisa

Beri sedikit terang agar aku bisa menentukan. Tak bisakah kau berterus terang agar semuanya menjadi jelas? Apa maksud dan tujuan kedatanganmu? Hanya sekedar menjadikanku pelipur lara?

Pertanyaan-pertanyaan itu menemaniku pada malam yang tetap bisu.  

Rupanya, rasa yang kau punya terbagai kesegala arah. Lantas, mengapa kau menawarkan rasa jika kau sendiri berpaling lalu pergi meninggalkan?

Dari mana datangnya dia?

Masih kurangkah telinga ini menjadi pendengar suka dan duka kisahmu yang kau ceritakan hingga larut malam?

Aku kalah!

Aku kembali memutar haluan dan mencoba melangkah seperti sedia kala. Merajut kepingan hati yang telah kau hempaskan.

Entah kemana kaki akan membawa melangkah, yang pasti dengan cara ini semoga bayang-bayangmu bisa hilang dari ingatan. Berusaha melupakan semua rentetan kisah yang kita lalui bersama yang membawaku terdampar didasar jurang asmara.

Terima kasih telah singgah. Meski hanya sekejap, namun ada rasa yang tak terungkap.