Arsiparis
2 tahun lalu · 134 view · 4 menit baca · Cerpen breakfast-at-cafe-central.jpg

Pada Sebuah Cafe

Malam itu di sebuah Kafe yang tidak begitu ramai, karena baru saja buka, terjadi pertemuan antara Riyanti dan teman lelakinya, seorang redaktur majalah pria. Dua orang ini sangatlah dekat hubungannya tapi, mereka selau menolak kalau dianggap sedang berpacaran karena bagi mereka setiap pertemuan yang terjadi antara mereka jauh dari kegiatan mengumbar kasih sayang seperti remaja sekarang, hanya membahas isu-isu terbaru yang terjadi di masyarakat saat ini. Seperti isyu yang sedang mereka diskusikan malam ini.

“Aku benar benar malu terhadap kaumku sendiri, habis mereka masih mau saja diperalat oleh kaum lelaki untuk dinikmati keindahan tubuhnya,” kata Yanti bersungut-sungut.

Sebagai aktifis feminis yang telah lama bergulat dengan masalah emansipasi dan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, ia merasa ditipu oleh kaumnya sendiri.

Bagaimana tidak, di tengah gencarnya aktfitas gerakan feminisme yang ia perjuangkan dengan teman-temannya, yang tergabung dalam Gabungan Wanita Anti Ditelanjangi ( Gawad ), ia masih menemukan sebagian kaumnya yang masih suka menelanjangi diri.

Ia memperlihatkan sebuah sampul majalah pria, pada lelaki di depannya, yang menampilkan modelnya dengan aksi yang cukup menantang-sedang rebahan di pantai. Posenya menggunakan bikini yang cukup seksi. Pusarnya kelihatan indah. Kakinya dan wajahnya tentunya, tidak bisa tidak memang layak untuk sampul majalah pria.

“Terus apanya yang akan kau permasalahkan, toh model itu senang jadi obyek fotografi, fotografernya terkenal lagi, coba kamu simak senyumnya, bukankah itu menampilkan senyum kepuasan,” si laki-laki itu membalas omongan Yanti.

Hari belum begitu larut ketika mereka melakukan perdebatan di kafe itu. Di luar masih banyak mobil berlalu lalang. Toko-toko pun masih ada sebagian yang buka. Yang pasti, malam itu, di luar begitu dingin karena baru saja diguyur hujan. Sementara itu, di dalam kafe suasana perdebatan semakin menghangat.

“harusnya kamu jangan selalu menyalahkan kaumku melihat keadaan ini, Yan.”

“Lho kenyataannya, memang begitu kok. Kaum lelaki yang diuntungkan dengan ini, buktinya mereka menjadi konsumen terbanyak terhadap aneka sajian keindahan tubuh perempuan.”

“Lho, masak lelaki konsumen tubuh lelaki nggak lucu, non,”

Keduanya mulai saling tuding tidak ada yang mau disalahkan.

Yanti membuka kembali majalah pria tersebut, dibacanya sebuah kutipan yang termuat di halaman feature yang menjelaskan latar belakang model sampulnya. “Bagian tubuhku yang paling aku suka adalah pusarku, dan aku senang mengeksplorasinya,” Ia membacanya dengan ketus sambill membanting majalah tersebut di mejanya. Sementara lelaki di depannya hanya tersenyum sambill menyeruput kopinya.

Terdengar alunan lagu miliknya Mahadewi menggema di ruangan kafe cinta..cinta…cinta….lakukan dengan cinta bila kamu……..mau..mau mau…. aku tak mau bila tanpa cinta………. sementara Yanti makin panas otaknya dibakar oleh syair lagu itu.

“Memangnya dengan mengatasnamakan cinta lelaki boleh saja menikmati tubuh wanita, goblok bener sih penyanyi itu pakai dinyanyikan segala. sinting!” nada bicaranya semakin tinggi. Ia sambar es jeruk di hadapannya dan ia reguk dengan penuh antusias.

Yanti memang pantas marah-marah. Sebagai aktifis feminis yang banyak menyuarakan persamaan hak-hak kaum perempuan, ia merasa tersinggung ketika ada kasus kasus eksploitasi terhadap kemolekan tubuh perempuan.

Namun kali ini ia merasa dikhianati oleh kaumnya karena perjuangan selama lima tahun ini sia sia karena ternyata kaumnya sendiri masih banyak yang suka mengeksploitasi kemolekan tubuhnya.

Dengan mengatasnamakan seni banyak perempuan yang rela memamerka dada, pusar dan pahanya di media massa, baik cetak maupun elektronik.

Memang sudah ada sedikit dari hasil perjuangannya selama ini. Di antaranya dengan begitu banyaknya perempuan yang berperan di ruang publik, misalnya: menjadi menteri, sekretaris, anggota dewan, bahkan ada yang jadi bupati. Tapi kekecewaannya pada kaumnya yang masih goblok pun tidak sedikit.

Hanya karena keinginan untuk sukses secara cepat banyak di antara mereka yang menghalalkan segala cara, misalnya, mengandalkan kemolekan tubuhnya sebagai modal aktualisasi diri.

Kalau sudah demikian, ujung-ujungnya pasti lelaki yang disalahkan karena mengeksploitasi tubuh perempuan. Lelaki yang sejak tadi menemaninya kembali angkat bicara tentang hal ini.

“ Bagaimana kalau strategi kegiatanmu sekarang diubah,” usulnya

“maksudmu?’

“ya, mulai sekarang kamu jangan sering mengecam kaum laki-laki. Kan kamu bisa mulai dengan pembenahan ke dalam, dengan cara memberikan masukan–masukan pada kaum perempuan bahwa untuk bisa sukses jangan sekali-kali menggunakan jurus murahan itu”

“apanya yang murahan?”

“ya, cara instant dengan jalan mengandalkan kemolekan tubuh untuk mencapai keinginan itu,” tegasnya.
Yanti berpikir kencang, masukan yang diberikan temannya itu dirasanya benar juga bukankah aku harus mengubah pola pikir kaum perempuan agar lebih meningkatkan kemampuannya daripada hanya sekedar obral tubuh, pikirnya.

Namun jalan itu toh termasuk juga gerakan emansipasi dalam artian memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaun laki-laki.

Yanti teringat hasil penelitiannya sekitar dua tahun yang lalu, bahwa kecenderungan perempuan untuk mengeksploitasi tubuhnya hanya karena kurangnya kesempatan yang diberikan oleh masyarakat untuk memberdayakan kemampuannya di bidang lain. Dan tentunya ditambah dengan kemampuan rasio yang memang kurang karena pendidikan yang kurang.

Ia terus merenungkan saran temanya itu.

“Usulanmu boleh juga dan akan kupertimbangkan dengan teman-teman,” lanjutnya dengan muka agak sedikit lega. Lelaki didepanya juga ikut lega. Masing-masing terdiam, terpesona oleh alunan suara Bob Dylan yang melintas di keremangan Kafe malam itu.

The answer my friends is blowing in the wind

The answer is blowing in the wind.