Pacar saya berjenis kelamin laki-laki, fisik tampan rupawan, sekolah di Jakarta, kuliah di kampus ternama di Yogyakarta dan Belanda, mengajar di Amerika, berasal dari keluarga terpandang, dan anak dari salah seorang tokoh agama di ujung timur Kalimantan.

Di mata saya, dia adalah laki-laki dewasa dalam usia dan pikiran, mandiri secara ekonomi, santun dalam bersikap, memiliki pengalaman pekerjaan yang keren dan karya tulis tentang kemanusiaan. 

Karena sama-sama dewasa, arah obrolan kami adalah tentang keseriusan dan komitmen. Kalimat “tak ada dusta di antara kita” itulah yang ada di antara kami. Kepada saya, dia bercerita masa lalunya yang “kelam” bersama “banyak” perempuan.

Kepada saya, dia sampaikan keinginannya untuk berubah dan berhenti dari dunia masa lalu. Saya menganggap itu adalah niat ketulusan dari hati, penuh kejujuran untuk berubah, dan obsesi yang tinggi untuk mengakhiri kejombloan.  

Seiring dengan perjalanan waktu, tibalah dia ke rumah saya di ujung timur pulau Madura. Bagi saya, perempuan kampung, datang ke Madura dari Kalimantan adalah bentuk perjuangan dan usaha berat untuk membuktikan sebuah keseriusan. 

Bagi masyarakat Madura, kehadiran tamu seorang laki-laki ke rumah seorang gadis memiliki makna baik ke arah pernikahan. Itu adalah konsekuensi sosial yang harus diterima manakala kehadiran tersebut tanpa pretensi apa pun.

Akan tetapi, satu malam setelah dari rumah, dia mengatakan bahwa hubungan kami sudah selesai dengan alasan “tidak berjodoh”. Tidak ada pilihan lain, saya menerima keputusan itu.

Saya berusaha menyeimbangkan antara emosi dan nalar dengan melihat persoalan secara jernih dan melakukan apa yang bisa saya lakukan. Sebagai seorang peneliti etnografi pada kajian women studies, saya melakukan apa yang “mungkin” tidak ada di pikiran dia (unthinkable). Iya, dia adalah proyek pribadi saya.

Saya mencari sumber data yang relevan kepada keluarganya, baik saudara maupun kerabat, menghubungi teman-temannya, baik teman “minum” maupun teman kerja, dan mengonfirmasi kebenaran kepada dua orang keluarga mantan pacar-pacarnya.

Sebulan mencari data, saya menemukan bahwa mantan pacar saya adalah seorang gay plus psikopat seks.

Tulisan ini bukan bermaksud mengeneralisasi bahwa gay adalah penjahat kelamin. Saya tidak menyalahkan orientasi seksual dia, tetapi saya benci pada perilakunya yang tak punya etika sosial. Menurut saya, urusan perasaan berada di ranah privat, sedangkan urusan moral adalah persoalan publik.

“Pengalaman adalah guru terbaik” menjadi dasar penulisan ini. Tulisan ini adalah sharing pengalaman dan catatan dua narasumber ahli, yaitu Ibu Nunuk AP Murniati (konselor feminis Komnas Perempuan) dan Laili Nur Anisah (Ahli hukum pidana untuk kasus kekerasan seksual).

Saya Adalah Korban, Dia Adalah Pelaku 

Menurut Ibu Nunuk bahwa apa yang dilakukan oleh mantan pacar saya adalah bentuk kekerasan. Katanya, saya adalah korban, dan dia adalah pelaku kekerasan. Tetapi saya tidak menyadari bahwa saya adalah korban, meski saya mengaku sebagai pembela perempuan.

Dalih cinta, perempuan susah mengatakan “Tidak pada kekerasan”. Yang ada adalah, perempuan menyalahkan dirinya sendiri karena laki-laki yang dicintainya telah pergi. 

Pada konteks pengalaman, saya adalah korban Kekerasan Dalam Pacaran (KDP). Ritme kekerasan yang biasa dilakukan oleh laki-laki hampir serupa, biasanya mengiming-imingi perempuan dengan janji-janji menikah.

Janji menikah bagi perempuan adalah sakral. Perempuan akan terbuai dan terlena dengan kata “menikah”. Dalam kasus yang lebih fatal, perempuan akan memberikan segala apa pun yang diminta oleh laki-laki asal dinikahi.

Pengalaman ibu Nunuk, banyak sekali kasus kekerasan seksual yang ditangani oleh hakim di pengadilan berada di posisi buntu. Karena logika berpikir antara korban dan pelaku tidak menemukan titik temu. Yang ada adalah adu argumen merasa diri yang paling benar.

Alasan laki-laki karena si perempuan mau, alasan perempuan karena dia berjanji untuk menikahi, sedangkan alasan hakim adalah perempuan dan laki-laki suka sama suka. Pada konteks inilah hukum tidak berpihak kepada perempuan korban.

Sehingga perempuan berada di posisi yang salah dan laki-laki di posisi benar. Relasi kuasa yang timpang inilah yang membudaya di masyarakat kita. 

Pelaku Kekerasan Adalah Korban Kekerasan 

Dalam konteks pacar saya, dia meninggalkan banyak perempuan (pacarnya) setelah terjadi having sex atau one night stand. Berdasarkan penuturan “responden”, cara yang dia lakukan adalah agresif mendekati perempuan, berani datang ke rumah keluarga perempuan, diajak tidur, ditinggal, dan memblokir pertemanan di media sosial.   

Bagi saya, perilaku yang demikian sangat menyakitkan karena menganalogikan perempuan seperti toilet, setelah “kencing” sperma lalu cuci penis dan pergi.

Dia tidak mau mengakui bahwa perilakunya adalah bentuk kekerasan seksual. Alasannya, karena dia melakukan atas dasar suka sama suka. Mengutip pendapat Shinta Maharani (wartawan Tempo), perilaku yang demikian adalah bentuk kejahatan kemanusiaan yang sesungguhnya.

Analisis ibu Nunuk, tabiat dia dengan perempuan menunjukkan jika dia bermasalah secara personal. Dalam bahasa psikologi, ini disebut psikopat seks. Artinya, dia dengan penuh kesadaran dan tanpa perasaan bersalah memburu perempuan sebanyak-banyaknya (predator) untuk seks.  

Hukum “sebab-akibat” menjadi satu-satunya argumentasi logis bahwa dia sebagai pelaku, karena hakikatnya dia adalah korban pelecehan seksual. Pembuktiannya adalah dengan merunut pengalaman hidupnya dari rentang usia anak-anak hingga dewasa sekarang.

Bagi konselor feminis, mengetahui rekam jejak hidup seseorang (sungai kehidupan) menjadi penting karena di situlah sumber masalah yang sebenarnya. Feminisme mengakui bahwa tindakan manusia, entah itu baik atau buruk, adalah cerminan dari masa lalunya.

Gay Tak Salah 

Laili justru memiliki pandangan berbeda. Ia memetakan persoalan berdasarkan persepsi seorang hakim. Menurutnya, pacar saya adalah seorang gay, dan pandangan ini dibenarkan oleh beberapa pihak.

Argumen yang digunakan oleh Laili adalah cara dia mendekat kepada perempuan hingga menunjukkan keseriusan dengan datang ke rumah keluarga perempuan, tetapi setelah itu hubungan berakhir. Apalagi hingga di usia dia yang hampir 40 tahun, tapi ”masih” bermasalah dengan banyak perempuan.

Ini artinya, ada yang perlu dipertanyakan dari diri dia. Menunjukkan bahwa dia ”tidak normal”, cara dia ”tidak biasa” di antara mayoritas laki-laki hetero.

Analisi Lail, sebenarnya dia memiliki orientasi seksual homo. Tetapi karena tuntutan keluarga dan masyarakat, dia ingin menutupi orientasi seksualnya dengan cara menikah dengan perempuan, tetapi ketika ”maju” (datang ke keluarga), dia mundur lagi (memutuskan sepihak) karena perasaannya menolak.

Pengalaman berbicara, gaya dan pola laki-laki gay seperti itu akan terus berulang dan terulang hingga akhirnya dia jenuh (stres) sendiri. Bahkan teman-temannya menilai jika dia stres, gak nyambung, dan ngawur dalam berbicara.

Pada kondisi yang demikian inilah saya ingin memeluknya dan berbisik, You are not alone.

Sebab dia seperti itu karena masyarakat kita hipokrit (munafik) dengan eksistensi homo. Kita tidak mau mengakui keberadaan mereka. Kita terlalu memaksa seseorang untuk memiliki orientasi seksual yang sama dalam pandangan mayoritas masyarakat (heteroksual).

Masyarakat kita berpandangan bahwa hetorseksual itulah satu-satunya orientasi seksual yang normal, dan homoseksual adalah tak normal, salah, dosa, penyakit, dan harus disembuhkan dengan cara dirukyah.

Faktanya, laki-laki gay ada di antara kita. Mereka dipaksa menikah oleh keluarga, masyarakat, budaya, dan agama hanya untuk "menutupi" orientasi seksual yang mereka punya. Padahal, jika kita mau mendengar pengalaman laki-laki gay, empati niscaya akan tumbuh.

Pada konteks pacar saya, dia melakukan tindakan pelecehan seksual ke banyak perempuan "mungkin" karena dorongan untuk menutupi orientasi seksualnya dan memaksa diri membuktikan kepada keluarga dan masyarakat bahwa dia adalah hetero. Akibat kepuraan-puraan inilah perempuan menjadi korban.

Menurut saya, mereka yang berkoar-koar memusnahkan LGBT dari bumi Indonesia adalah mereka yang mengingkari realitas. Mari mendengar suara yang liyan.