3 hari lalu · 628 view · 4 menit baca · Cerpen 27631_60619.jpg

Pacarku Pekerja Seks Komersial

Jika engkau ingin memperkuat fungsi salah satu indra, maka kau harus mematikan fungsi indra lainnya. Begitu kira-kira kutipan yang saya ambil dari Joe Sandy ketika memperlihatkan penampilan sulapnya yang hebat sekali. 

Tetapi satu hal yang perlu diketahui, perkara cinta itu bukan perihal indra. Cinta itu berbicara perihal rasa. Kelak, jika engkau ingin mencintai, maka matikan semua indramu. Hukum cinta tidak berlaku pada pengindraan. Karena sejatinya hanya rasa yang bisa merasakan rasa.

Perkenalkan namaku Zayn. Aku salah satu mahasiswa jurusan Ilmu Bahasa di universitas yang cukup terkenal di Indonesia. Kisah ini bermula di penghujung tahun 2018. Kala itu aku sedang berbincang-bincang banyak hal dengan beberapa kawanku, hingga obrolan itu menggiring kami kepada pembahasan wanita, cinta, dan seksualitas.

"Menurut gua mah cinta itu gak ada. Cinta itu cuma hubungan seks. Sama halnya dengan nikah. Elu nikah itu cuma hubungan seks yang dilegitimasi secara agama dan negara. Udah, sebatas itu doang. Gak lebih," hajar salah satu kawanku membuka perbincangan kami.

"Gak gitu, bung. Pikiranlu tuh eksistensialis banget. Cinta itu gak hanya menyoal tentang itu doang, bung. Ada hal-hal di luar itu yang penting juga untuk dibahas. Perihal rasa contohnya."

Diskusi kami berjalan cukup lama. Masing-masing dari kami saling mematahkan argumen satu dengan yang lainnya. Inilah dialektika yang kudapat dari pelajaran di luar kelas. Aku cukup senang berada di lingkaran kawan-kawan yang masih ingin merawat akal sehat untuk sekadar berdialektika tentang hal-hal kecil.

Diskusi itu berakhir dengan beberapa kesimpulan yang dibawa oleh masing-masing kepala. Itulah uniknya diskusi kami. Kami tidak ingin membatasi ruang pikiran masing-masing kepala.

Lepas dari diskusi tadi. Aku dan Darma, salah satu kawan dekatku, kembali ke kosannya. Sesampainya di sana, kami berbincang tentang wanita. Ia mempertegas ucapan salah satu ‘filsuf Indonesia’ Bung Rocky bahwasanya perempuan itu memang indah sebagai fiksi, tetapi berbahaya sebagai fakta. Ia menyandarkan argumennya kepada Bung Rocky karena pengalaman percintaannya selama ini tidak baik-baik saja.

Pahit memang. Saya juga kasihan dengan dia. Tetapi saya percaya bahwa orang seperti dia suatu saat akan dipertemukan Tuhan dengan seseorang yang satu frekuensi dengannya. Bukankah jodoh memang untuk saling melengkapi?

Setelah itu, kami kembali sibuk dengan gawai kami masing-masing. Aku membuka salah satu sosial media tempat di mana aku sering mencari wanita pesanan. Ya, itu memang sudah menjadi kebiasaanku. 

Aku sepakat dengan jalan pemikiran Sartre sebelum bertemu dengan Simone de Beauvoir. Bahwasanya cinta itu ya cukup dengan berhubungan seks. Bukankah muara dari pernikahan itu juga kepada hubungan seks?

Bagiku, seks adalah sebuah kebutuhan. Ketika aku membutuhkan itu, maka sudah sepatutnya aku mencari wanita yang menawarkan jasa itu. Simple. Kebutuhanku terpenuhi dan mereka pun mendapatkan uang dari jasa yang mereka tawarkan. Bukankah ini bisa dikatakan simbiosis mutualisme?

Selepas mendapatkan wanita yang kuinginkan, aku menuju tempat yang sudah kami janjikan. Sebuah apartemen yang tidak terlalu jauh dari kampusku. 

Hebat, bukan, daerah kampusku? Seakan-akan para kontraktor mengerti bahwa para mahasiswa membutuhkan apartemen sebagai tempat untuk menyalurkan hasrat birahi yang tak tertahan. Dan lebih hebatnya lagi, aku sudah kenal sekali dengan banyak makelar kamar di apartemen ini. Silakan hubungi aku jika kalian menginginkannya (haha).

Sesampainya di kamar yang sudah kami tentukan, wanita ini sudah menunggu kehadiranku. Sedikit kugambarkan dirinya. Tingginya kutaksir sekitar 165 cm, lehernya jenjang, bokongnya berisi, ia menggunakan lingerie berwarna merah dengan sebuah celana dalam menyempil di antara bokong besarnya.

Payudaranya? Jangan tanyakan payudaranya. Payudaranya ranum sekali seperti buah semangka yang sudah siap untuk dipanen.

Sebelum melakukan olahraga yang 'menyenangkan', kami berbincang-bincang sebentar untuk menemukan momentum agar permainan kami berjalan lebih menarik. Setelah mendapatkan momentum yang pas, terjadilah hal yang kami inginkan. 

Aku tidak akan menggambarkan bagaimana lihainya permainan dia di atas kasur. Karena ini bukan cerita seks.

Akhirnya usai sudah olahraga kenikmatan yang kami lakukan. Aku membersihkan diri, begitu pun dengan dia. Setelah selesai masing-masing dari kami membersihkan diri, kami melanjutkan obrolan yang tadi sempat terputus karena olahraga tadi. Banyak hal yang kami perbincangkan.

“Kamu cantik. Kenapa memutuskan untuk bekerja seperti ini?” tanyaku membuka obrolan kami

"Semua berawal dari perekonomian keluargaku yang kacau semenjak meninggalnya bapak, mas. Sedangkan aku sekarang sudah kuliah semester akhir dan juga masih punya tanggungan kedua adikku yang masih kecil."

Aku terdiam. Sebegitu beratnya ternyata beban yang diterima seorang wanita seperti ini. Aku pun bertanya dalam diri, mengapa agama-agama melarang seorang mencari nafkah dengan cara seperti ini? Haram katanya? Hina katanya? Bukankah lebih hina orang-orang yang tertawa melihat orang-orang di sekitarnya sedang merintih menahan lapar dan berjuang demi keluarga?

“Kamu kuliah di mana?” lanjutku

“Aku kuliah di Universitas Islam Nasional, mas. Jurusan Kesejahteraan Sosial.”

Aku kaget.

Ternyata ia juga belajar di satu kampus yang sama denganku. Mengapa ini semua terjadi seperti ini? Kebetulan macam apa yang diciptakan Tuhan? Seorang mahasiswi di universitas islam dengan jurusan kesejahteraan sosial, berjuang mencari uang bayaran kuliah demi menyejahterakan masyarakatnya. Mengapa kau berikan nasib seperti ini, untuk orang yang memiliki tujuan mulia?

"Kamu kuliah juga?” tanyanya balik kepadaku

“Aku kuliah di kampus yang sama denganmu.” Ia pun kaget mendengar jawaban dariku.

Kami terdiam

Kuputuskan untuk menjadikannya kekasihku.

Usai sudah percakapan kami malam itu. Kami tutup malam yang penuh drama ini dengan pelukan erat satu sama lain di bawah hangatnya selimut dan udara dingin dari air conditioner.

Pantaskah wanita-wanita seperti ini dihinakan oleh masyarakat? Bukankah mereka lebih rasional daripada seorang perempuan yang hanya dijadikan pacar oleh seorang pria, lalu ia diajak pergi dengan keadaan kenyang dan pulang dengan keadaan lapar? Bahkan ketika ia disetubuhi oleh pasangannya, sepeser pun ia tidak dibayar. 

Bukankah pekerja seks komersial ini lebih rasional? Pantaskah pekerjaan seperti ini diharamkan oleh agama? 

Persetan! Apa pun yang kalian pandang tentang wanita pekerja seks komersial, bagiku, mereka lebih mulia daripada orang-orang yang mengaku beriman, mengaku memahami agama, tetapi tetangganya merasakan kelaparan yang begitu dahsyat.