3 tahun lalu · 525 view · 3 menit baca · Gaya Hidup islam-melarang-pacaran.jpg
Sumber foto: wisatahatiyusufmansur.com

Pacaran, Pandangan Seorang Remaja Muslim

Mungkin judul yang tepat untuk tulisan saya kali ini mengganti kata 'remaja' menjadi kata 'seorang'. Meskipun demikian, saya tetap menggunakan kata 'remaja' karena nyatanya periode remaja merupakan masa lompatan menuju periode dewasa sehingga apa-apa saja yang kita lakukan, katakan, maupun pikirkan akan memengaruhi kepribadian kita ke depannya. Seperti pada sesuatu yang sudah jelas-jelas dilarang bahkan dianggap tabu, namun masih ada saja orang yang menganggapnya biasa atau bahkan melakukannya. Ya, kata itu adalah 'Pacaran'.

Di hampir semua lapisan masyarakat, pacaran pasti ada dan menimbulkan pandangan-pandangan yang beragam baik itu yang melarang maupun yang mengizinkan. Sayangnya, pacaran lambat laun menjamur dan bahkan membudaya di semua segmen umur.

Keadaan ini tentu saja membahayakan generasi remaja muslim yang harusnya dapat membangun bangsa dan agama, justru semakin dirusak oleh pacaran. Hal ini tentu harus ditanggulangi bersama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Oleh karena itulah, tulisan saya ini terbit. Tulisan yang berisi bantahan singkat nan halus ini setidak-tidaknya dapat menyadarkan setiap orang khususnya remaja muslim.

Alasan setiap orang khususnya remaja muslim dalam berpacaran memang beragam. Dalam tulisan ini, saya merangkum setidak-tidaknya terdapat dua hal yang menjadi alasan mereka.

Pertama, Perhatian, Kasih Sayang, dan Rasa Cinta

Menurut mereka, pacaran adalah simbol dari perhatian, kasih sayang, dan rasa cinta. Memang kelihatannya seperti itu dimana pasangan yang berpacaran ini sangat perhatian kepada pasangannya bahkan sampai ke taraf yang berlebihan. Mereka juga saling mengingatkan satu sama lain. Namun, pasangan yang berpacaran ini cenderung menjauhi orang-orang terdekatnya (jika tengah berduaan saja).

Menurut pandangan saya, mereka yang berpacaran karena alasan ini justru malah membuat mereka menjauh dari perhatian, kasih sayang, dan rasa cinta yang padahal lebih dekat dan telah mereka rasakan sebelumnya. Ya, mereka menjauh dari teman-teman mereka, guru-guru mereka, kerabat sanak saudara mereka, bahkan orang tua yang telah membesarkan mereka sedari kecil.

Mereka seakan-akan melupakan apa yang sudah diberikan pada mereka saat itu. Dan jangan lupa, mereka juga semakin menjauh dari Allah, Tuhan semesta alam ini. Lupa bahwa mereka adalah hamba dan ciptaan Allah yang pastinya akan diperhatikan, disayangi, bahkan dibantu dalam mengarungi kehidupan ini. Semestinya, mereka tahu kalau Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan tentu tidak akan membeda-bedakan pemberiannya pada hamba-Nya.

Kedua, Gengsi

Ini mungkin adalah alasan terburuk (bahkan terbodoh) dari orang yang berpacaran. Kata 'Jomblo' telah mengubah paradigma hampir semua orang di negeri ini seakan-akan jika kita dijuluki jomblo, maka dunia seakan menjadi neraka. Orang-orang akan menjustifikasikan para jomblo sebagai orang yang yah pokoknya citranya menjadi buruk.

Citra jomblo inilah yang justru membuat setiap orang untuk berlomba-lomba dalam berpacaran. Status sosial seseorang bahkan bisa berubah sedemikian rupa setelah berpacaran. Hal ini tentu membuat miris segelintir orang bahwa dengan status jomblo saja bisa membuat orang terjerumus untuk melakukan kemaksiatan. Padahal, setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri untuk hidup sendiri atau dengan kata lain menjomblo. Misalnya, seseorang yang memang tidak mau berpacaran atau berpikiran untuk langsung menikah saja bila sudah bisa membiayai diri sendiri.

Lagipula, apakah ada yang salah jika seseorang itu menjomblo? Jawabannya kan tidak. Justru yang salah adalah orang-orang yang membuat citra jomblo itulah yang salah. Memang Allah berfirman dalam firmannya bahwa Dia menciptakan setiap manusia itu berpasang-pasangan tapi dengan catatan, manusia berpasang-pasangan melalui ikatan pernikahan sehingga bernilai ibadah.

Setelah dua poin diatas, apakah anda masih berniat untuk pacaran? Bukan tanpa alasan pacaran itu dilarang. Berbagai tulisan lain sudah menunjukkan alasan-alasan pelarangan pacaran baik dari sudut pandang agama maupun sudut pandang lainnya.

Saya akan mengutip perkataan teman saya yang saat itu tengah membicarakan cara berdakwah pada orang yang berpacaran dengan saya. Perkataannya ini dilontarkan dia ketika misalnya seseorang sudah dinasihati hingga berbusa mulutnya tapi tetap berpacaran. 

"Coba kamu pikirin deh. Kamu setiap malam tidak lain pasti memikirkan dia kan? Berarti itu Zina pikiran. Kamu melihat dia dengan tatapan nafsu kan? Berarti itu Zina mata. Kamu pegangan tangan sama dia kan? Berarti itu Zina tangan.

Kamu mau 'ngapel' ke rumahnya kan? Berarti itu Zina kaki. Dan berbagai macam perbuatan yang kalian lakukan itu sudah pasti bermacam-macam Zina. Allah aja nyuruh kita buat jangan mendekati Zina. Berarti, kamu dan pasangan kamu sudah mendekati Zina dong... Paling tinggal nunggu azab aja kali yang dateng menghampiri..."

Pada beberapa kasus sendiri, pacaran malah menjadi awal dari sebuah perzinaan, ya kan? Betapa besarnya dosa kita jika kita berpacaran... Na'udzubillahimindzalik. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang seperti ini.

Tulisan saya pun berakhir disini. Tetapi, pasti ada saja orang yang menilai bahwa tulisan saya ini tidak berguna sehingga mereka tidak menggubris tulisan saya ini. Tentu saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada para pembaca. Saya sendiri memang berniat untuk menjadikan tulisan ini sebagai nasihat semata bukan untuk menyinggung pihak-pihak lainnya. Semoga bermanfaat dan menjadi pintu hidayah bagi kita semua...

Artikel Terkait