Bagi sebagian besar orang Indonesia, pacaran dengan bule adalah suatu hal yang dianggap luar biasa. Dari mana pun bule itu berasal, selagi mereka kulit putih, berhidung mancung, bermata biru, dan berambut pirang, hal itu dianggap luar biasa. Sejak dari zaman nenek saya sampai sekarang, hal itu dianggap hebat.

Berbicara mengenai motivasi, tentu pada setiap orang berbeda-beda, mulai dari yang merasa tidak cocok dengan orang lokal, merasa bukan selera orang lokal, punya keinginan untuk memperbaiki keturunan, sampai ada juga yang punya keinginan tinggal di luar negeri.

Terlepas dari motivasi bagi mereka yang punya cita-cita untuk punya pasangan bulejustru sebagian dari mereka yang sudah punya pasangan bule merasa bahwa itu hanya persoalan jodoh. 

Dalam imajinasi sebagian besar orang Indonesia, punya pacar bule adalah suatu hal yang menyenangkan. Anggapannya karena mereka bisa selalu ditraktir ketika makan, ikut ke luar negeri ketika si dia pulang, bisa ikut jalan-jalan, atau dianggap paling keren di satu geng.

Saya sendiri kurang mengerti penyebab sebagian orang Indonesia memiliki anggapan bahwa ketika punya pasangan bule hidup secara otomatis akan jadi lebih mudah, nyaman, mapan, atau menyenangkan. 

Suatu hari saya pernah berkumpul bersama relatif saya. Pada saat itu, ada bude dan sepupu saya. Kemudian tiba saatnya kami menceritakan kehidupan masing-masing, mulai dari pekerjaan, keuangan, dan kisah asmara. 

Saya yang saat itu diketahui punya banyak teman bule langsung disarankan untuk punya pasangan bule, alasannya supaya hidup lebih baik dan punya keturunan yang lucu-lucu. Sungguh alasan yang cukup absurd bagi saya, lebih absurd lagi ketika semua orang yang terlibat dalam topik pembicaraan itu tampak setuju.

Mengapa saya bisa menganggap hal itu absurd? Mari saya mencoba menguraikannya. 

Kebetulan saya pernah dekat dengan beberapa bule. Selain itu, saya punya banyak teman lokal yang punya pasangan atau pacar bule dan begitu pula sebaliknya. Saya sudah mengalami dan mendengar banyak cerita tentang suka duka pacaran dengan bule. 

Bayangan mengenai pacaran dengan bule tidak sepenuhnya benar. Mengapa bisa seperti itu? 

Hal paling pertama yang harus cocok ketika menjalin hubungan adalah kecocokan dalam berpikir. Tentu ketika punya pacar bule hal ini adalah tantangan terbesar. Jangankan pacaran, sekadar berteman, atau menjadi kolega saja, hal ini bisa dibilang sukar.

Alasannya sederhana, yaitu perbedaan budaya, pola pikir, dan gaya hidup yang sudah dibentuk bertahun-tahun. Pasti ada saatnya saling beradu argumen. Mulai dari hal kecil seperti lepas sepatu atau sandal saat masuk rumah, sampai memilih asuransi kesehatan.

Kedua, pandangan soal makan. Terlepas dari ras mana pun, kalau setiap makan hanya ingin ditraktir kalau pacaran. Segera lupakanlah hal itu kalau punya cita-cita pacaran dengan bule karena bagi seringnya mereka akan go dutch alias bayar sendiri-sendiri.

Mengapa? Oh tentu saja karena makan itu adalah kebutuhan pokok. Sekali lagi, terlepas dari bule atau bukan, apakah kamu pacaran dengan orang yang tidak bisa membayar kebutuhan pokoknya sendiri?

Ketiga, soal memperbaiki keturunan atau punya anak yang lucu-lucu. Hal ini akan menjadi masalah yang sangat rumit kalau orang lokal dan orang bule berada di tahap hubungan selanjutnya. Sebab mereka punya pandangan yang sangat berbeda dengan orang lokal. 

Bagi sebagian orang Indonesia akan menjadi hal yang absurd ketika ada sejoli yang menikah tidak ingin mempunyai anak. Sedangkan, sebagian bule menganggap ini normal. Ada dari mereka yang berpikir bahwa memiliki anak bukanlah suatu keharusan. 

Jangankan memiliki anak, menikah bagi mereka juga bukan suatu keharusan. Bisa saja mereka punya anak tetapi tidak menikah dan tetap tinggal bersama. Hal ini akan membuat orang Indonesia pusing tujuh keliling. Mungkin tidak buat kamu, tapi bisa jadi buat orang sekitarmu seperti keluarga atau teman. 

Keempat, soal agama. Dalam budaya di Indonesia, agama adalah suatu hal yang penting. Lalu bagaiamana dengan bule-bule?

Jujur saja, banyak sekali teman bule-bule saya yang tidak memiliki kepercayaan. Tetapi hal baiknya, ada beberapa di antara mereka yang mau menyesuaikan dengan orang Indonesia ketika menikah.

Jika saya menarik sebuah kesimpulan, memiliki pasangan bule bukan suatu hal yang mudah karena perbedaan budaya yang banyak. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Hal-hal yang saya tulis di atas hanya sebagian kecil yang mungkin bisa menjadi persoalan.

Saya sendiri beranggapan bahwa ras, agama, atau dari mana seseorang berasal bukan menjadi suatu jaminan bahwa sebuah hubungan bisa menjadi lebih baik. 

Ketika saya mendengar nasihat relatif di atas, saya dipertemukan dengan sebuah titik bahwa sudut pandang kami mengenai sebuah hubungan sangat berbeda. 

Saya menilai bahwa ada keinginan untuk naik tingkat dalam nasihat untuk punya pasangan bule yang sejujurnya bagi saya hal itu tidak ada benarnya sama sekali sebab yang terpenting bagi saya ketika menjalin hubungan adalah karakter si dia bukan agama, ras, atau dari mana asalnya.