Bagi mereka yang tinggal di Kebumen dan termasuk berusia 60 atau 70  tentu familiar dengan nama “Jalan Es Bening” (beberapa orang menyebutnya pernah menjadi nama sebuah dukuh). Nama jalan ini kemudian berubah menjadi “Jalan Renville” serta saat ini menjadi “Jl. Gereja”. 

Kalau kita melacak melalui mesin pencari google dengan kata kunci “Jalan Es Bening Kebumen” saat ini kita hanya akan menemukan nama sebuah produk makanan khas yang berpusat di kawasan ini.

Mengapa nama jalan yang sekarang dijadikan “Jalan Gereja” dinamakan “Jalan Es Bening” di masa lalu? Karena di masa lalu yaitu pada era kolonial telah berdiri sebuah pabrik es (ijsfabriek) bernama, Ijs Bening yang artinya “Es Bening”. Apa yang dapat kita ketahui mengenai keberadaan pabrik es ini melalui sejumlah pelacakan dokumen-dokumen era kolonial? Artikel pendek ini mencoba untuk mengumpulkan sejumlah data-data yang tersedia secara fragmentaris.

Awal Mula Pembangunan Pabrik Es

Sebuah berita berjudul, Ijsfabriek yang dimuat oleh surat kabar De Locomotief (4 Maret 1930) melaporkan seorang bernama Neil William sedang melakukan pembangunan sebuah pabrik es di Kebumen. Bangunan tersebut hampir selesai dan diharapkan orang-orang segera mendapatkan es lokal lebih murah dari sebelumnya. Untuk membuat es batu diperlukan suplai daya listrik yang cukup. 

De Locomotief (4 Maret 1930)

Pemilik pabrik es yaitu Neil William merencanakan untuk memasok kebutuhan listrik melalui EMB (Electriciteits Maatschappij Banjoemas) yaitu perusahaan penyedia listrik yang berafiliasi dengan Algemene Nederlandsch Indische Electrisch Maatscapij (A.N.I.EM) yang didirikan di Surabaya sejak tahun 1909.

NV. Electriciteits Maatschappij Banjoemas (E.M.B) di Surabaya memiliki sejumlah cabang perusahaan di Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, Sokaraja, Cilacap, Gombong, Kebumen (masing ingat kasus J. Mesland seorang agen EMB dan pemiliki bioskop lokal di Kebumen yang terbunuh dalam kasus kopi beracun? http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2021/11/kebumen-dan-kopi-beracun-1929.html?), Wonosobo, Cilacap, Maos, Kroya, Sumpyuh, dan Banjarnegara.

Berita akan adanya sebuah pabrik es di Kebumen dilaporkan juga oleh surat kabar De Locomotief (28 Agustus 1930) dan diberi keterangan bahwa diharapkan dengan keberadaan pabrik es ini harga jualnya terjangkau karena selama ini kebutuhan es dipasok dari pabrik Bandjar (tidak jelas Bandjar yang dimaksud apakah Bandjarnegara) dengan harga empat sen per pond.

Peresmian Pabrik Es 

Sebuah berita berjudul Opening Ijsfabriek "Ijs Bening” memberikan informasi berharga kapan tepatnya pabrik es di Kebumen diresmikan. “Jumat pagi tanggal 5 Juni, pabrik es baru diresmikan. Ada sebuah perayaan kecil yang melekat pada peresmian ini” demikian tulisan pembuka surat kabar De Locomotief (8 Mei 1931). 

Yang hadir pada peresmian tersebut adalah bupati Kebumen, asisten residen Kebumen, asisten residen Karanganjar serta sejumlah pejabat pribumi dan undangan umum termasuk para karyawan suikerfabriek (pabrik gula) Remboen di Prembun.

De Locomotief (8 Mei 1931)

Administrateur pabrik ini dipercayakan pada seorang bernama Hetzel. Adapun Neil William adalah owner dari pabrik es ini. Berita pendek tersebut ditutup dengan kalimat, “Es dari pabrik baru memiliki kualitas yang sangat baik, jernih dan akan memenuhi kebutuhan besar di sini dan jauh di daerah tersebut”. Sekalipun didirikan di Kebumen namun akta pendirian N.V. Ijs Bening Maatschappij Keboemen ditetapkan di Bandung, sebagaimana laporan De Indische Courant (16 Agustus 1930).

Dari laporan sejumlah berita surat kabar ini kita mendapatkan keterangan berharga bahwa keberadaan pabrik es ini telah dibangun pada tahun 1930 dan diresmikan pada tahun 1931. Ini mengingatkan dengan keberadaan Hotel Juliana yang dibangun tahun 1930 dan menjadi hotel terbaik di masa di Kebumen (https://www.qureta.com/post/melacak-jejak-kisah-hotel-juliana-di-kebumen).

Lokasi Pabrik Es Menurut Peta Manual 1934

Adalah pasangan suami istri bernama Nelly dan Oscar yang pada tahun 1933-1936 pernah tinggal di Kebumen sebagai seorang karyawan di Mexolie Fabriek. Nelly kerap mengirimkan surat kepada anggota keluarganya di Swis mengenai apa yang dia pikirkan dan kerjakan selama ada di Kebumen. 

Beberapa suratnya sangat menolong dalam melihat situasi sosial ekonomi dan sosial budaya Kebumen di tahun 1930-an (Teguh Hindarto, Bukan Kota Tanpa Masa Lalu: Dinamika Sosial Ekonomi Kebumen Era Arung Binang VII, Yogyakarta:2021).

Oscar Woldring meninggalkan sebuah peta manual yang disimpan putranya bernama Conrad Woldring dan dari peta manual tahun 1934 ini kita bisa melihat posisi pabrik es dengan jelas. 

Peta Manual Kebumen 1934 oleh Oscar Woldringh

Dalam peta, kolom nomor 16 diberi keterangan dalam bahasa Prancis, fabrische de glase alias pabrik es. Nampak sejumlah nama untuk memberi keterangan pada sejumlah nomor seperti pabrik Mexolie, toko Jepang dan Cina, penjara, rumah sakit, rumah bupati, kantor pos, pasar, hotel Juliana dll.

Berpindah Kepemilikan

Tidak banyak keterangan didapatkan mengenai perkembangan pabrik es bernama  Ijs Bening ini. Ada sebuah keterangan pendek yang dilaporkan oleh surat kabar De Locomotief (26 Agustus 1931) bahwa “Pabrik es kami - milik Tuan William selama sebulan - telah beralih ke Petodjo. 

Administrateur yaitu Tuan Hetzel diberhentikan bulan lalu dan Mr Van Bijlaard sekarang telah bertindak sebagai administrateur yang baru”. Entah mengapa dan bagaimana perusahaan tersebut tiba-tiba beralih kepemilikan dan pengelolaan. Belum ada data baru yang dapat memberikan gambaran persoalan.

Pabrik es Petodjo sendiri berlokasi di Batavia dan sudah berdiri sejak tahun 1870 dan memasok berbagai kebutuhan termasuk pembuatan es krim untuk Hotel Des Indes. Sebuah berita iklan yang dimulai dengan kalimat Lees Dit!!! (Bacalah Ini) yang dimuat Bataviaasch Nieuwsblad (16 November 1896) menuliskan sbb:

Es, Air Mineral, dan berbagai limun berkilau dari Pabrik Es Petodjo di Batavia dibuat secara eksklusif dari air artesis yang disuling.

Pabrik Es Petodjo adalah satu-satunya yang secara eksklusif menggunakan air artesis sulingan dan karena itu merekomendasikan Air Mineral Es dan Limunnya kepada semua orang di masa yang tidak sehat ini dengan sangat percaya diri.

Komisi kesehatan khusus, oleh karena itu, setelah pemeriksaan kimia, menegaskan bahwa air yang digunakan oleh PABRIK ES PETODJO memenuhi persyaratan paling ketat dari air suling murni secara kimiawi. 

Batavia, 29 Oktober 1896

Bataviaasch Nieuwsblad (16 November 1896)

Namun pabrik es Petodjo bukan hanya di Batavia melainkan berkembang pula seperti di kota Surabaya, Solo, Yogyakarta, Cilacap. Belum dapat dipastikan pabrik es Ijs Bening beralih ke Petodjo yang mana.

Pabrik es Petodjo, Cilacap 1951

Pabrik es Ijs Bening masih terlacak pada tahun 1938 dimana saat dilakukan pengujian kandungan es yang diadakan di Magelang, kompisi es pabrik ini tidak ditemukan kandungan Amoeba Colli yaitu sejenis kuman berbahaya bagi usus (De Locomotief, 16-11-1938). Jika masyakarat Kebumen masa kini masih mengingat nama “Es Bening”, maka dapat dipastikan tidak ada perubahan nama pabrik es tersebut sekalipun telah berganti kepemilikan.

Kondisi Bangunan Masa Kini

Pasca kemerdekaan – menurut informasi masyarakat sekitar – gedung ini pernah dipergunakan oleh PERTANI untuk menjadi gudang pupuk urea. Saat ini hanya menyisakan sebuah bangunan dari sekian bangunan yang lainnya yang telah dirubuhkan.

Bangunan ini nampak lusuh dan kumuh dengan pintu besi di samping. Di dalam ruangan hanya ada setumpukkan barang-barang bekas. Nampaknya difungsikan sebagai gudang. Nampak ada sebuah bekas pintu masuk yang ditutup batu dan disemen sementara di fasad atas terlihat ornamen berbentuk bulat.

Beberapa anak-anak remaja nampak sedang asyik bermain sepakbola di tanah kosong di samping bangunan tua bekas pabrik es Ijs Bening ini jika sore cerah.

Alangkah akan bermanfaatnya jika keberadaan gedung tua ini dirawat dan dibersihkan. Jika keberfungsian teknisnya sebagai sebuah pabrik es sudah tidak berlaku, bukankah keberfungsian ekonomis dan keberfungsian edukatifnya masih bisa dimanfaatkan dengan menjadikan gedung tua ini sebagai sebuah bangunan yang direstorasi dan bagian dari cagar budaya yang bernilai historis?

Bagaimanapun, keberadaan pabrik es ini pernah mewarnai perekonomian kota Kebumen yang dimulai tahun 1930-an. Merawatnya merupakan sebuah upaya untuk menjaga artefak historis yang tersisa dan menghindarkan diri dari kota yang kehilangan masa lalunya