Roza Lailatul Fitria alias Oza Kioza memang hanya satu dari banyak penyanyi perempuan di Indonesia. Sebagai penyanyi dangdut, mungkin tidak memiliki basis penggemar sebesar Dewi Muria Agung alias Dewi Perssik. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penonton dalam pentas off air yang hanya menampilkan Dewi Perssik atau Oza Kioza saja. 

Daya pikat terhadap media (massa dan sosial) dari Oza Kioza juga tidak sebesar Rini Fatimah Jaelani alias Syahrini, yang tampak dari perbandingan frekuensi berita dan postingan bulanan antar peralihan. Kecakapan memainkan pertunjukan (kecakapan memainkan pertunjukan ) pun tidak segila Nita Yulianti alias Nita Thalia.

Walau begitu, Oza memiliki relasi yang bagus dengan penggemarnya yang disebut sebagai Ozaki Lova (tulisan sebenarnya adalah 'Oza Kilova', tetapi tuturan awal mula nama 'Kioza', saya lebih suka menulis 'Ozaki Lova'). Oza terbilang komunikatif untuk Oza Kilova tanpa pemandangan latar belakang. 

Misalnya untuk saya, Oza berkenan menjawab beberapa pertanyaan kompilasi tentang beberapa hal terkait perjalanan pribadinya. Padahal, siapa saya? Siapa dia? Beberapa jawaban yang menjadi bahan utama saya dalam menyusun artikel berjudul Ki Oza Kioza , untuk diterbitkan di blog pribadi pada 1 Maret 2018.

Tanpa diduga (bahkan diminta), Oza membagikan tautan artikel tersebut melalui akun Facebook pribadinya. Hal itulah yang membuat Ki Oza Kioza menjadi artikel paling banyak dikunjungi, sebelum sempat kalah popular oleh feature serupa dari Lola Zieta Azelien (Lola Zieta Azelien memang banyak dicari melalui search engine). 

Dari sini saya menangkap kesan bahwa Oza juga apresiatif terhadap Ozaki Lova. Kesan tersebut diperkuat oleh beberapa apresiasi yang Oza tunjukkan, paling banyak, melalui akun Instagramnya, terutama IG Story.

Grafik kunjungan terhadap Ki Oza Kioza juga, disertai viewers channel pribadi Oza, YouTube.com/OchaFitria, belakangan membuat saya menduga bahwa tipikal sebagian besar Ozaki Lova ialah ‘penggemar pasif’. Maksud ‘penggemar pasif’ di sini ialah hanya menikmati sajian yang disuguhkan oleh Oza tanpa banyak berkomentar, apalagi berdebat dengan penggemar sosok lain. 

Malah saya berani bertaruh bahwa Oza adalah penyanyi perempuan yang memiliki basis penggemar ‘paling waras’ di negeriku Indonesia. Tentu taruhan ini perlu disimpulkan dari satu set riset dengan metode ilmiah yang disepakati.

Oza Kioza Perempuan Panutan

Buat saya pribadi, Oza Kioza adalah perempuan panutan. Tentu ini subjektif, karena saya termasuk Ozaki Lova, malah bisa dibilang sebagai penggemar fanatik Oza. Selain dari beberapa artikel yang ditulis biar Oza seneng, saya juga menyimpan banyak berkas seperti foto, audio, dan video Oza. 

Lucunya, dari beberapa berkas tersebut, ada yang Oza sendiri malah tak punya. Audio yang saya simpan sendiri adalah versi M4A (MPEG for Audio) dari beberapa video Oza nyanyi, heuheuheu (jangan dimarahi ya mbak Oza, please...). Sebagai penggemar berat, saya bersyukur Oza berkenan menanggapi beberapa pertanyaan maupun permintaan dari saya, baik yang serius maupun sepele.

Saya menyadari bahwa penampilan Oza sebagai public figure rentan memancing beberapa cibiran. Penampilan Oza yang turut menjual modal erotis bisa jadi mengundang cibiran dari para feminist. Para feminist dapat menganggap bahwa Oza melestarikan iklim patriarkal, dengan menyuguhkan visual pleasure kepada lelaki. 

Namun, bagaimana kalau alur berpikirnya dibalik. Oza justru berupaya mengajak perempuan tak ragu memanfaatkan potensi yang dimiliki. Pemanfaatan modal erotis adalah salah satu cara yang dapat dilakukan. Bukankah ‘pelarangan’ memanfaatkan modal erotis itu selaras dengan fakta bahwa perempuan memilikinya lebih banyak dan kuat dibanding lelaki? Kalau Oza tidak memanfaatkan modal erotisnya, seperti suara apik, wajah cantik, dan badan estetik, bukankah justru membiarkan iklim patriarkal terus mendominasi masyarakat?

Sebagai perempuan beragama Islam, saya yakin Oza mudah dinista dari sisi pakaian. Oza memang perempuan yang biasa berbusana terbuka, alih-alih berhijab laiknya penampilan Raden Terry Tantri Wulansari a.k.a. Mulan Kwok a.k.a. Mulan Jameela sekarang. Saya tidak menyangkal bahwa perempuan yang berbusana tertutup tampak lebih sopan. 

Namun, ketika pakaian menjadi dasar kriteria dalam menilai, bahkan menista orang, apakah ini perbuatan yang fair? Ketika menilai orang, kenapa tidak menitikberatkan lebih dulu terhadap perilakunya? Bukankah rosululloh diutus untuk menyempurnakan perilaku yang mulia?

Sebanyak yang saya ketahui dari Oza, dirinya adalah manusia yang biasa berperilaku mulia (akhlaq karimah). Perilaku yang tampak ketika manggung misalnya, tak pernah Oza berperilaku merendahkan martabat sesama manusia. Oza tak pernah semena-mena meminta salah satu penonton untuk naik ke atas panggung, kemudian diperlakukan semaunya. 

Padahal Oza bisa saja meminta penonton naik ke atas panggung untuk mengusap keringat, mencium pantat, atau perbuatan lain yang dikehendaki. Oza pun bisa menyemburkan air (spit) dari mulutnya atau menjatuhkan diri ke arah penonton. Namun, semua perbuatan itu tidak dilakukan olehnya. Bukankah ini contoh perilaku mulia dari sosok yang diposisikan sebagai orang yang dipuja oleh penggemar (atau penggilanya)?

Malah kalau lebih cermat dalam melihat, Oza berulang kali menunjukkan perilaku santun dan terpuji ketika manggung. Mulai dari perilaku sepele menyapa pemirsa, berinteraksi dengan penonton, sampai melafalkan kalimah thoyyibah secara spontan. 

Itu belum termasuk dengan perilaku Oza kepada keluarga, sahabat, dan temannya, yang tetap memiliki hubungan biasa saja walau dirinya sudah menjadi sosok istimewa. Apalagi kalau faktor kerja keras yang dilakukan Oza untuk menjadi backbone (tulang punggung) bagi keluarga. Wajar kalau beberapa penyanyi, seperti Via Vallen dan Wiwiek Sagita, menganggap Oza sebagai ‘adik yang baik’.

Beberapa perilaku manusiawi itulah yang membuat saya memilih Oza sebagai salah satu panutan (role model). Memang usia Oza hanya 22 hari lebih tua dari saya, kami bahkan lahir pada bulan solar yang sama. Namun, bukankan kita dapat menjadikan siapapun sebagai panutan? Apakah seorang panutan harus berusia jauh lebih tua dari kita? Diulangi: Oza lebih tua daripada saya, lebih tua, tua.

Benar Salah Oza Idola Saya

Banyak terjadi saat yang mengecewakan ketika akhirnya kita berinteraksi dengan sosok yang dikagumi, seorang role model yang senantiasa memberi inspirasi. Kalau interaksi berlangsung pada saat tak tepat, rentan memberikan kesan melesat. Dan kejadian yang tidak diharapkan ini akan mengubah pandangan terhadap role model tersebut.

Kita dapat berpikir kalau sosok yang dikagumi ternyata kurang ajar dan angkuh, meski dirinya sedang bad mood atau sekadar melepas peluh. Atau kita telah memiliki bayangan tentangnya, tapi kemudian mendapati dirinya tak sesuai dengan bayangan semula. Interaksi memiliki potensi yang tak jarang dapat bisa mengubah bahkan ‘membanting’ sebuah anggapan baik. Apalagi saat sosok yang diajak berinteraksi dianggap tidak dapat memberi cukup perhatian.

Saya bersyukur interaksi dengan Oza sejak kali pertama selalu berlangsung istimewa. Mungkin saya gede rasa saja karena interaksi tersebut terasa istimewa karena Oza berusaha untuk tidak mengecewakan saya. Dan saya tak pernah kecewa terhadap interaksi dengan Oza sepertihalnya tak pernah kecewa menjadi penggemarnya sejak mulai mengaguminya.

Jika Oza tampak terlampau aku istimewakan seakan dipuja tanpa cela karena dia memang benar-benar istimewa bagi saya. Mata yang suka menggunakan tumpul dari cela. Selain sebagai penggemar beratnya, saya dapat mempertimbangkan yang lebih baik, tidak dianggap sebagai orang yang dapat dilakukan semena-maa. Faktanya, perempuan lahir 22 Ramadhan 1414 H. ini hanya dapat diterima sesuai kebutuhan tanpa meminta saya meneladani alih-alih pindah. Namun, tanpa permintaan juga pemaksaan, saya perlu perlu meneladi Oza.

K.Km.Wg.040940.090519.00: 10