Berpikir kritis itu sulit, tapi sekarang ini lebih sulit lagi menemukan mahasiswa yang bisa berpikir secara kritis. Entah ini akibat lemahnya para dosen dalam membantu mahasiswa untuk dapat memaksimalkan daya nalarnya, atau memang mahasiswa sendiri yang sudah tidak tertarik lagi dengan iklim intelektual yang mengedepankan asas-asas berpikir yang rasional maupun objektif demi kerja, kerja, dan kerja.

Harusnya, Perguruan Tinggi tidak boleh membatasi pikiran mahasiswa, tetapi yang terjadi sekarang justru sebaliknya, daya pikir mereka seperti sudah terkotak-kotak dan sekedar membayangkannya pun amat sulit untuk bisa keluar dari lingkaran atau kungkungan administrasi akademik, yang salah satu dampak terburuknya akan menjadikan mahasiswa seperti mesin dan robot.

Persoalannya, bagaimana cara berpikir kritis di lingkungan kampus ini bisa dikembangkan? Sebab, realitas sosial beserta seabreg problematikanya, juga menjadi bagian dari tanggungjawab kampus untuk bisa menyelesaikannya, karena merekalah yang memegang otoritas ilmu pengetahuan, bukan penguasa atau pejabat publik. Bila problem sosial bisa diselesaikan oleh otoritas akademik, pastinya akan memudahkan masyarakat dalam memecahkan berbagai masalah sosial.

Saya sendiri mengamati, kecenderungan-kecenderungan prodi dan fakultas di sebagian besar Perguruan Tinggi di Indonesia lebih banyak mengedepankan vokasional. Jurusan-jurusannya seakan mendorong mahasiswa berorientasi untuk siap diterima di pasar kerja. Dengan menjaring kompetensi lulusan yang sesuai dengan kualifikasi dan keahlian, yang hampir semuanya selalu saja begitu. Setiap prodi berusaha keras dan mati-matian dalam memberikan keterampilan yang siap pakai.

Fenomena ini membuat kita berhipotesis bahwa ada semacam harga yang harus kita bayar untuk itu. Saya masih ingat ketika S1 dulu, di jurusan Filsafat, kami diberi matakuliah Interprenersip atau kewirausahaan, yang bertujuan agar kelak para mahasiswa memiliki jiwa bisnis dan siap bersaing di pasar kerja. 

Di pikiran saya waktu itu, apa hubungannya filsafat dan kewirausahaan, apakah mahasiswa memang sengaja akan digiring untuk keluar dari prospek keahliannya dan makin menjauh? Atau sekedar pantas-pantas karena filsafat sendiri memang minim kualifikasi di pasar kerja. Akhirnya, mahasiswa jadi terhambat untuk berpikir kritis akibat dipusingkan oleh intelektualisme dan uang.

Sebenarnya cara berpikir kritis itu begini, kita didorong untuk berpikir secara imajiner atau mengaktualkan daya imajinasi di dalam otak. Penelitian yang berhasil itu umumnya selalu dimulai dari menghayal, tetapi bagaimana cara menghayal yang baik? Sederhananya, menghayal dalam arti ini adalah menghubungkan variabel-variabel dengan cara yang sistematik, terukur, dan empiris (berbasis pengalaman indrawi).

Max Weber (1864-1920), sosiolog asal Jerman, datang dengan satu teori yang menunjukkan bahwa ada hubungan integral antara etika keagamaan dan etos kerja, yang ketika itu dicontohkannya dalam masyarakat penganut Protestan dan kapitalis. 

Dalam kasus ini, Weber mampu menghubungkan variabel yang bagi banyak orang tidak ada hubungannya. Gagasan semacam ini sangat revolusioner di zamannya dan salah satu contoh cara berpikir Out of the Box yang mampu keluar dari lingkaran dengan menghubungan berbagai variabel secara kritis yang tampak tak berhubungan.

Sekarang ini justru yang terjadi adalah kemampuan imajinatif kita sengaja ditumpulkan oleh kecenderungan yang semakin berorientasi ke pasar kerja, dan mau tidak mau mahasiswa juga dituntut untuk segera mendapatkan pekerjaan begitu lulus di bangku kuliah. 

Akhirnya, ruang untuk bisa berpikir kritis menjadi semakin berkurang dan mengecil. Ini sebenarnya yang menjadi tantangan besar bagi pengemban amanah otoritas ilmu pengetahuan di Indonesia.

Sebagai alat, ilmu filsafat dan sosial sains pada umumnya, harus lebih aktif lagi mengkampanyekan cara berpikir kritis yang kiranya dapat mendobrak kemapanan, khususnya pada tataran menjembatani kekakuan akademik yang dikendalikan oleh ekonomi pasar dan peluang kerja. Artinya, dengan berpikir kritis mahasiswa menjadi lebih mampu berspekulasi untuk menghubungkan berbagai variabel yang tidak disadari oleh orang lain.

Cara berpikir yang imajinatif itu juga harus didukung oleh cara berpikir rasional dengan menggunakan akal sehat. Apapun pekerjaan dan bidang yang kita geluti, ilmu sosial maupun eksak, selalu perlu untuk mendasarkan diri pada pemikiran yang rasional. Cara berpikir rasional itu sederhana, ia selalu sistematis, terukur, dan empiris. 

Ada fakta-fakta sosial di sekeliling kita yang harus dibaca secara rasional, baik soal politik, agama, sosial kemasyarakatan, budaya, ekonomi, serta fakta-fakta alam dalam ilmu sains. Kemudian fakta-fakta itu dibawa ke perpustakaan dan laboratorium untuk diteliti secara lebih serius dan cermat.

Di lain hal, kita ini juga butuh bekerja dan berpikir secara transendental. Kerja-kerja kita harusnya diproyeksikan untuk pengabdian pada kemanusiaan yang tidak terbatas, jadi tidak melulu soal uang dan uang atau kerja dan kerja. 

Alangkah indahnya bila kita mampu memberi kontribusi bagi peradaban umat manusia, tanpa harus dikekang oleh batas-batas agama, budaya, ras, maupun politik. Sebagai contoh, agama itu sebuah bangunan insitusional, tetapi kita harus menariknya pada tataran nilai moral. Jadi ukuran agama itu berada di level moral, bukan dokrtinal.

Kalau seorang pekerja, dosen, mahasiswa, dan peneliti mampu bekerja dengan sekuat tenaga dan berintegritas, ia pada dasarnya juga sekaligus menjalankan pesan-pesan profetik sesuai dengan keyakinannya masing-masing. 

Tapi yang menjadi masalah, dan ini contoh kecil, peneliti di Indonesia itu tidak ada yang benar-benar bekerja secara berintegritas penuh, misalnya, adakah peneliti bidang sains yang mampu bekerja berhari-hari di laboratorium mulai jam delapan pagi sampai sebelas malam? Yang kemudian mampu menemukan temuan-temuan besar yang bisa memberikan kontribusi bagi kemajuan peradaban manusia, saya pastikan tidak ada sama sekali.

Atau, peneliti sosial yang bekerja di lapangan selama satu tahun penuh, pasti tidak ada, paling lama satu bulan atau bahkan hanya seminggu. Padahal, dana peneliti di kampus-kampus besar itu luar biasa banyak dan berlipat-lipat banyaknya dari gaji dosen beserta tunjangannya. Namun patut disayangkan, peneliti kita tidak ada yang serius kerja di lapangan, di perpustakaan, dan di laboratorium.

Akhirnya, ilmu pengetahuan di Indonesia sangat jauh ketinggalan dengan negara-negara luar, bahkan dengan negara tentangga pun kita kalah telak. Sebagai contoh, di negara-negara Barat, biasanya setiap laboratorium dan perpustakaan-perpustakaan kampus selalu ramai dan gegap gembita hingga malam, sampai-sampai banyak mahasiswa baru keluar perpustakaan jam sebelas malam. 

Kita justru ramainya soal seremoni-seremoni, bikin seminar dan konferensi, tapi di ruang-ruang kerja, perpustakaan, dan laborarotium tidak ramai sama sekali.

Kita perlu membuktikan bahwa Indonesia bukanlah negara teater yang lebih banyak mengedepankan aspek-aspek dramatik layaknya sinetron keluarga. Pikiran-pikiran kita, terutama mahasiswa yang sekarang ini banyak terjebak dalam pasar kerja demi uang dan masa depan, perlu lebih meningkatkan daya pikir kritisnya agar siapapun tak mudah mengkotak-kotakkan dengan mengorbankan intelektualisme.