Sewajarnya seorang lulusan SMA/SMK yang bahagia luar biasa ketika diterima di perguruan tinggi. Berekspektasi dunia perkuliahan yang penuh ceria dan bebas mengekspresikan diri, bebas memilih keputusan diri sendiri. Menggadang-gadangkan dirinya menjadi manusia independen dan bersiap menjadi idealis (beberapa orang mungkin).

Tidak salah, berbahagialah sesaat. Semua yang diberikan sebagai berkat wajib disyukuri.

Namun secepat anganmu mencuat, secepat itu juga anganmu dipecat. Agar tidak merasakan sakitnya sebuah ekspektasi belaka, cepat-cepat kakak tingkat beraksi menyelamatkan adik-adik barunya. Aksi heroik ini diibaratkan sebuah ucapan selamat datang yang akan terus dikenang, menjadi pelajaran dan panduan awal perkuliahan. 

Tak jarang, karena terlalu heroik, aksi ini menjadi kehilangan esensinya, ‘sang penyelamat’ kadang meminta diagungkan berlebihan.

‘Sang penyelamat’ ialah mereka yang berhati tulus membantu dan tidak bersandiwara agar dikenang. Mahasiswa baru sejatinya mereka yang pandai berekspektasi dan butuh sebuah realita, bukan menjadi penonton kecewa sebuah sandiwara aksi kepahlawanan. Dari sini dimulainya sebuah drama klasik awal dunia perkuliahan.

Mucullah pertanyaan besar dari mahasiswa baru korban kepahlawanan, “Apakah semuanya ini benar adanya, atau hanya budaya lintas angkatan saja?” Sekali lagi, mahasiswa baru sejatinya tukang berekspektasi.

Terlepas dari pemikiran tersebut, OSPEK adalah orientasi studi dan pengenalan kampus. Ospek ibarat ‘mengiklankan produk’ yang akan dipelajari dan dicermati mahasiswa-mahasiswi baru untuk memperdalam ilmu. Jika dari iklannya saja sudah buruk, maka pola pikirnya akan terus menduga bahwa produk tersebut akan sama buruknya.

Berkaca dari peristiwa yang ada, prosesi ospek sendiri bukanlah hal yang buruk, ospek memiliki tujuan yang baik disertai fungsi-fungsi konkret seperti fungsi orientasi, komunikasi, noratif dan akademis. Fungsi tersebut diharapkan mampu membangun dan menuntun mahasiswa-mahasiswi baru menuju pangkat tertinggi seorang siswa.

Pertanyaan dari esensi ospek yang selalu muncul di saat perospekan berjalan adalah hasil dari kegagalan interpretasi antara kakak tingkat dan mahasiswa baru. Mengapa? Terkadang pemberian tugas ospek yang minta diutamakan, sedangkan perkuliahan sebenarnya sudah berjalan juga menjadi sebuah pertanyaan besar mahasiswa baru, untuk apa?

Selain itu, gaya perospekan yang menonjolkan kesenioritasan, baik semu maupun nyata, menjadi faktor pendukung kegagalan interpretasi. Sebagai contoh kalimat sakti yang kerap kali muncul yaitu “Sikap kami ke kalian itu tergantung bagaimana sikap kalian ke kami, dek”. Ironi, bahkan yang seharusnya memberi contoh meminta dijilat agar mau berbuat baik.

Pemberian tugas dan hal-hal kecil ini menjadi salah satu ruang ilusi bagi kesenioritasan, perlu perhatian lebih besar dan pandangan yang benar agar pemberian tugas ini tepat tujuan. Merasakan tegangnya dikejar deadline dari dua tanggung jawab -tugas ospek dan kuliah secara bersamaan-, ospek dengan model sistem seperti ini perlu diperhatikan dengan intens.

Akan menjadi sangat riskan apabila terus dipaksakan. Riskan kesalahpahaman dan tidak tercapainya tujuan dari ospek.

Jangan sampai model ospek setengah semester berbarengan dengan perkuliahan menjadi beban di kedua sisi. Terlebih mahasiswa baru yang akan dibuat sangat bingung, ‘ospek nyambi kuliah’ atau ‘kuliah yang utama, ospek nomor dua’. Padahal ibu di rumah sudah siap membawa berita anaknya IPK lewat 3 di masa bahagia awal perkuliahan. Sungguh membingungkan.

Situasi gagal paham yang dialami mahasiswa baru menuntun pemikiran bahwa esensi dari ospek ini hanya sebagai ajang pertunjukkan aksi heroik kakak tingkat. Di sisi yang lain, pengutaraan maksud yang dibumbui aksi-aksi menjadi kontradiksi dengan jawaban esensi ospek yang sebenarnya.

Teringat dari sebuah kalimat bapak dosen mata kuliah Kalkulus setelah sesi sambat tentang ospek yang berbarengan dengan jadwal kuliah, “Mahasiswa semester 1 itu kegiatan utamanya ospek, kuliahnya nyambi ya”. Satire. Hal ini seharusnya dapat menjadi “karbol” bagi dunia perospekan.

Karbol diibaratkan pembersih di air yang keruh. Sebuah satire yang mampu menjernihkan kekeruhan situasi perospekan, yang berharap menjadikan tujuan ospek ini murni dan tidak dikotori dengan kesenioritasan belaka.

Hal ini tidak serta merta menjadi tanggung jawab kakak tingkat, tetapi juga tanggapan kooperatif dari mahasiswa baru demi hilangnya stigma ‘Mahasiswa baru: Ospek Nyambi Kuliah’ ini.

Hiruk-pikuk perospekan akan terus berjalan tiap musimnya, entah mereka yang sudah merevolusi diri atau yang masih ingin meneruskan jalan serong. Kreasikan perospekan dengan kesan baik, biar ‘iklan produk’-nya makin menarik.

Salam hangat kakak tingkat, terimakasih untuk seluruh isi kepala dan hati kalian untuk adik barumu. Untuk usaha penyelamatan dan itikad baik memperkenalkan perkuliahan pada penjelajah ilmu tingkat satu.

Kepala batu penuh bintang di planet baru sungguh indah, kak. Namun telinga ini selalu berasal dari tulang rawan. Jangan pecahkan batunya, bisikkan saja matranya, agar sejalan dalam fantasinya. Karena mendengar adalah awal pengetahuan, pembuka pikiran. Berjalan bersama bukankah lebih damai, kak?