“What's makes a human, human?” Apa yang menjadikan manusia benar-benar manusia? Jawaban yang paling tepat mungkin adalah kemanusiaan. Sebagai makhluk paling mutakhir ciptaan tuhan, manusia dibekali akal pikiran dan budi pekerti yang membuatnya istimewa diantara makhluk-makhluk lain. 

Manusia memiliki moral yang mana tidak dimiliki seekor keledai. Disamping itu manusia juga dibekali perasaan. Berangkat dari semua itulah manusia kemudian mampu membangun peradaban, kebudayaan dan bertandang sebagai pemimpin dunia. 

Tapi apakah manusia benar-benar makhluk sempurna dan tanpa cela?, tentu tidak. Ada kalanya manusia sendiri kehilangan sisi kemanusiaannya, dikuasai ambisi sehingga mengindahkan moralnya. Sudah begitu banyak peradaban dan budaya yang dibangun manusia, sebanyak itu pula terdengar kisah-kisah perang, pertumpahan darah demi kekuasaan. 

Adalah tragedi Holocaust, praktek genosida oleh nazi jerman yang terjadi selama 12 tahun pada perang dunia ke 2,memakan kurang lebih 17 juta jiwa,dan secara khusus sekitar 6 juta korban dari kalangan yahudi eropa. Sebuah ke-biadab-an yang terjadi akibat absen-nya aspek kemanusiaan, satu hal yang harusnya menjadi kodrat manusia. Holocaust hanyalah salah satu contoh dari kisah-kisah berdarah sepanjang sejarah.

Entah itu kebetulan atau bukan, didalam kisah-kisah berdarah, selalu ada cerita tentang seorang pahlawan pembela kebenaran. Sosok manusia yang menjadi dambaan kemanusiaan. 

Hari ini, 9 Oktober, bertepatan dengan hari wafatnya sang pahlawan. Dia bernama Oscar Schindler (Apr 28, 1908 - Oct 09, 1974), pebisnis ulung dari kalangan nazi jerman, yang namanya akan diingat sebagai bagian dari sejarah. Dia mungkin tidak berkuda ataupun memakai zirah besi, dia bukan pahlawan bersenjata ataupun seprang nabi utusan tuhan,namun dia telah berjasa menyelamatkan 1200 jiwa orang-orang yahudi dengan mempekerjakan mereka di pabrik perkakas miliknya. 

Oscar mungkin seorang nazi,tapi sisi kemanusiaan-nya menolak membenarkan pembantaian besar-besaran sesama manusia. Bermodal kepiawaian-nya dalam melihat peluang bisnis,Oscar mengubah bangunan tua menjadi sebuah pabrik perkakas keperluan tentara nazi yang sedang berperang. Awalnya Oscar memilih mempekerjakan orang-orang yahudi atas saran Isaac Stern, seorang akuntan yahudi yang kemudian menjadi manajer keuangan sekaligus sahabatnya. 

Ketika itu, yahudi diperlakukan layaknya budak,sehingga Oscar tidak perlu membayar mereka dengan uang,cukup dengan makanan. Melihat kehidupan umat yahudi dan perlakuan tentara nazi kepada mereka membuat nuraninya tergerak. Satu persatu Oscar merekrut mereka masuk kedalam perusahaanya, yang mana hal ini disambut dengan antusias yang tinggi dari para yahudi sendiri. 

Menjadi pekerja pabrik tanpa dibayar masih jauh lebih baik daripada hidup dalam kekangan tentara nazi yang setiap saat siap menarik pelatuknya. Tentara nazi biasa menjadikan kepala tahanan yahudi untuk latihan menembak, bahkan terkadang hanya untuk pelampiasan emosi pribadi.

Upaya Oscar menyelamatkan orang-orang tersebut tak selalu berjalan mulus,dia mendapat banyak tentangan dan tekanan dari pihak nazi jerman. Hal ini menjadi semakin sulit karena Oscar sendiri merupakan seorang nazist, dia berdiri di garis antara seorang pembela kemanusiaan atau penghianat bangsa. 

Tetapi sebagai seorang industrialist, Oscar tentu sangat paham bagaimana caranya bernegosiasi dengan pejabat, walaupun kadang dia harus menyuap pejabat untuk membantu agar diberi hak dan kuasa atas tenaga kerja yahudinya. Walaupun begitu, kebencian nazi terhadap selain bangsa Aria sangatlah dalam,terutama kepada umat yahudi yang bekerja untuk Oscar. 

Pihak nazi tetap berusaha melakukan hal-hal buruk terhadap mereka. Dalam keputus-asa-an nya, Oscar berfikir tentang bagaimana agar para pekerjanya bisa bebas sepenuhnya, tanpa bayang-bayang kekejaman fuhrer dan nazi. Akhirnya Oscar memutuskan bahwa orang-orang yahudi harus dikirim keluar wilayah kekuasaan jerman dan sekutunya, dipilihlah Polandia.

Setelah negosiasi yang alot dengan walikota, mereka sepakat bahwa Oscar akan membayar untuk setiap orang yahudi yang akan “dipekerjakan” nya. Dia membayar untuk 1200 orang yahudi dengan seluruh kekayaan miliknya, menyisakan sebuah mobil. Dia merelakan seluruh hartanya demi menebus nyawa manusia yang seharusnya menjadi musuhnya. 

Umat yahudi akan membenci nazi seumur hidupnya, tetapi mereka akan mencintai nazi schindler bahkan setelah mereka mati. Kisah heroiknya kemudian di tuturkan kembali dalam sebuah novel berjudul Schindler’s Ark (1982), juga diadaptasi dalam sebuah film berjudul Schindler’s Lists (1993). Orang-orang yahudi yang berhasil diselamatkan menyebut diri mereka sebagai Schindler’s jews. Setiap tahun mereka berziarah ke makam Oscar dengan membawa keluarga mereka.

Begitulah, Oscar percaya bahwa manusia tidak seharusnya menghilangkan rasa kemanusiaan-nya dengan alasan apapun,kepada siapapun,dan dalam kondisi apapun. 

“If you saw a dog going to be crushed under a car, wouldn't you help him?” - Oscar Schindler.

Humanity makes a human, human.