Angin baru yang mengarah pada badai anti-PKI memang telah lama merebak. Aksi maupun deklarasi banyak dilakukan untuk meredam paham yang katanya mulai berkembang secara diam-diam. Upaya represif pun dilakukan dengan alasan yang kadang mengada-ada. Mulai dari pembubaran diskusi, pembasmian buku-buku PKI, hingga menebar propaganda sana-sini.

Bahkan simbol-simbol yang mengarah pada PKI pun tak luput dari pemberangusan. Entah paranoid atau justru enggan melihat secara holistik. Pernah suatu ketika sablon baju yang memakai lambang grup band dari luar negeri, yang memang memiliki corak palu arit, langsung saja disisir dan kemudian disita.

Ya, alangkah anehnya negeri ini, bila ketakutan-ketakutan ilusif masih membayang tanpa argumentasi yang kuat. Pokoknya asal ada nama PKI, Komunisme dan Palu Arit, segera sikat dan berangus.

Kalau kita mau untuk sejenak berpikir jernih, tentu propaganda PKI yang selama ini didengungkan tidaklah beralasan. Memang tak dapat dibantah fakta sejarah yang sampai sekarang ini masih menjadi perdebatan perihal PKI yang anti-Pancasila maupun antiagama, namun alangkah baiknya memandang PKI dari basis ideologi dasarnya, yakni komunisme.

Sampai sejauh ini penulis belum menemukan pertentangan antara konsep pemikiran komunisme dengan Pancasila dan Agama. Ide dasar dari Komunisme adalah menciptakan masyarakat tanpa kelas, di mana tidak lagi terjadi penindasan manusia terhadap manusia. Bukankah prinsip moril ini bersifat universal. Dan rasanya Pancasila dan Agama telah mengamini konsep pemikiran demikian.

Walaupun dalam tataran religius banyak yang mengidentikkan komunis sebagai ateis dan antituhan, namun jangan terlalu cepat memberi justifikasi. Apabila merujuk pada Marx selaku peletak dasar komunisme tentu saja, stigma ateis tentu tidak bisa dielakkan.

Akan sangat sempit cara berpikir kita bila menstigmasi satu ideologi pada cara berpikir seseorang yang menggagasnya, meskipun konsepsi dasar Marxis komunis selalu menolak eksistensi agama, yang menurutnya adalah candu. Tapi, bagi kelompok komunis sendiri secara dominan menilai bahwasanya agama adalah urusan pribadi seseorang dengan Tuhannya. Artinya, klaim seorang komunis pasti atheis tidak dapat diterima.

Bahkan dalam sejarahnya visi dari komunisme dan agama pernah dikawinkan, seperti halnya sosialisme islam ala Ali Syariati, Muhammad Iqbal, ataupun Jamaluddin Al afgani melalui Pan islamisme yang sejalan dengan internasionale kaum komunis.

Di indonesia sendiri kita memiliki Tjokroaminoto, Haji Misbah-dijuluki haji merah, pemberontakan PKI di Silungkang yang digerakkan para ulama dan santri. Dalam hal ini saya bersepakat dengan Dawam Rahardjo, "Islam dan Komunisme itu saling bersinggungangan, ketemu di jalan."

Strategi yang serupa

Menariknya, ada sekelompok ormas (islam radikal/konservatif) yang menghujat dan ingin agar segala paham komunisme diusir keluar dari bumi Indonesia. Namun secara sadar atau tidak mereka sedikit banyak memiliki kesamaan strategi politik gerakan dengan kaum komunis. Saya tidak yakin mereka membaca literatur perihal komunis, apalagi sampai membaca Das Kapital. Jangankan itu melihat kata komunis saja, sudah membuat mereka marah.

Menurut mereka dedengkot ideologi-yang katanya anti pancasila dan NKRI-mulai merebak dan membahayakan, salah satunya kedekatan dengan Aseng-padahal negara itu sudah membuka diri semenjak Deng Xiaoping berkuasa, bisa dikatakan menjelma kapitalis besar.

Kesamaan itu terlihat dari militansi mereka menggaet kader, jangan ditanyakan, biar fakta yang menunjukkan. Organisasi subordinat yang diarahkan untuk melancarkan agenda perekrutan tak terhitung jumlahnya. Ia merupa dalam lingkungan kampus, organisasi kepemudaan, instansi pendidikan, lembaga swadaya hingga lembaga kemanusiaan dan sebagainya.

Apa bedanya dengan komunisme yang memiliki basis kuat dahulunya di kalangan buruh dan petani, melalui sayap-sayap organisasi. Tujuannya tak lain untuk memobilisir massa, sebagai agenda merebut kekuasaan dari para borjuis. Hal ini hampir sama dengan agenda mereka untuk mewujudkan visi ideologi politik mewujudkan kekhilafahan.

Demikian pula, aksi jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta oleh sekelompok orang dalam rangka turut serta aksi 2 Desember. Seketika mengingatkan saya akan longmarch Maozedong sewaktu revolusi kebudayaan Tiongkok, meski sebenarnya tidak sebanding dari sisi massa dan jarak tempuh.

Iring-iringan ratusan ribu manusia dari kelompok komunisme menghindari perang sipil dengan kelompok nasionalis liberal yang dipimpin Chiang Kai Sek. Di sepanjang perjalanan mereka menemui banyak rakyat yang berkalang kemiskinan dengan berlatar belakang buruh dan petani. Sehingga, banyak dari rakyat tiongkok berempati bahkan turut serta dalam long march yang dipimpin Mao zedong ini.

Sama bukan dengan pejalan kaki Ciamis yang mendapat bantuan baik materiil maupun morill dari masyarakat disepanjang jalur yang mereka lintasi.

Belum lagi intelektual organik (agen-agen yang sengaja disusupkan untuk melancarkan aksi mereka, di organisasi subordinasi yang saya sebutkan di awal) dan aksi propaganda untuk membangkitkan kesadaran massa, sekali lagi mereka menggunakan perspektif gramscian, yang nyata-nyata neo-marxist. Kawan-kawan yang masih aktif di kampus pasti dapat melihat propaganda pamflet-pamflet dari sayap organisasi mereka yang berbasis di kampus.

Kadang membuat saya ngeri akan cara berpikir kader mereka dari kalangan mahasiswa, mudah sekali termakan dogma dan doktrin mengatasnamakan agama. Kok, mahasiswa cara berpikirnya sempit sekali, tidak mencerminkan sebagai anggota komunitas intelektual(universitas/universum) yang bebas mengelaborasi seluruh perspektif dan paradigma.  

Sehingga, tak dapat dinafikan Aksi 4 november dan 2 desember adalah puncak dari keberhasilan mereka mengorganisir massa, dengan doktrin yang menggiring menuju cara berpikir radikal, kacamata kuda, pokoknya semua hitam-putih. Meski tak sampai melakukan penggulingan rezim berkuasa, dapat dilihat aksi yang dipertontonkan bisa jadi warning kedepannya.

Massa yang begitu besar bisa saja sewaktu-waktu akan digiring untuk memuluskan tujuan utama mereka mendirikan negara Khilafah. Ibarat pagelaran, aksi Bela Islam yang sampai tiga jilid adalah ajang pemanasan atau gladiresik. Setidaknya untuk membuktikan asumsi tersebut. Penulis menilai dari tiga aspek, pertama linimasa di media sosial penuh dengan berita aksi.

Dalam teori habitus dan doxa dengan semakin seringnya ditampil citra baik dari mereka secara tidak langsung alam bawah sadar masyarakat dominan akan tergiring untuk mempercayai tindak tanduk dan kemudian mendukung aksi terbut.

Kedua, penokohan terhadap pemimpin ormas-ormas yang selama ini masyarakat awam menilai terlalu radikal dan keras perlahan bertransformasi bahwasanya sikap mereka yang keras dalam memberantas maksiat adalah upaya untuk menyelamatkan umat. Ketiga, upaya mereka untuk meraih simpati militer dengan memberi dukungan atas sikap Panglima TNI terhadap aksi massa adalah satu strategi politik tersendiri.

Apabila kekuatan militer dapat dipegang tentu jalan menuju revolusi akan semakin besar. Sama halnya seperti PKI yang waktu itu memiliki loyalis dikalangan militer, sehingga muncul istilah “tentara merah”.

Karenanya, sekali-kali jangalah mereka menghujat komunisme. Sebab cara-cara yang mereka tempuh sejauh ini, memiliki kemiripan dengan strategi politik Komunisme untuk merebut kekuasaan dari borjuis, bedanya hanya soal misi, bila komunisme ingin mendirikan negara komunis dan Internasionale, dan mereka dengan negara Khilafahnya.

Bukankah ada suatu hadits yang menyebutkan, “Barang siapa meniru suatu kaum¸maka mereka termasuk kedalam kaum itu”. Jadi jangan sok-sok ingin mengusir, tohh baju yang dipakai sama, hanya saja warnanya berbeda.