Seorang buruh dari Jerman dapat kesempatan mengadu nasib di Siberia (baca: pertempuran Moskwa). Ia khawatir surat-surat yang dikirimkannya kepada teman-temannya disadap oleh pemerintah setempat. Mengetahui hal itu, akhirnya ia coba terka jalan keluarnya dengan berusaha mengakalinya.

Berkumpul di suatu tempat, si buruh dan teman-temannya akhirnya bersepakat untuk menyusun suatu siasat. "Ayo kita buat sebuah kode,” dedas si buruh, “kalau surat yang kalian terima saya tulis dengan tinta berwarna biru, tandanya suratnya benar; kalau tintanya merah, tandanya suratnya palsu."

Arkian, teman-temannya akhirnya menerima surat yang ditulisnya untuk pertama kali. Kebetulan surat yang ditulisnya itu tintanya berwarna biru, bunyinya:

"Segalanya menyenangkan di sini: toko-tokonya lengkap, kulinernya aneka cita rasa, apartemennya luas dilengkapi penghangat, wanita-wanitanya jelita. Semuanya bagus. Namun sayang, satu yang saya tidak temukan di sini: tinta merah."

Lelucon ini sejatinya Slavoj Žižek tulis untuk menggambar kondisi dunia yang dikuasai oleh sistem kapitalis. Utamanya untuk menyentil sejawatnya yang sosialis untuk bangkit melawan.

Dunia memang sedang tidak baik-baik saja di bawah tatanan kapitalisme. Namun karena 'tinta merah' memang sengaja dibuat tidak tersedia, aib-aib kapitalisme menguap begitu saja, lenyap.

Muslihat Kapitalisme 

Aib-aib itu kedap tersiar di media. Kapitalisme mengatur cara manusia berkata-kata. Para kritikus tanpa sadar dituntun untuk menjabarkan sisi-sisi yang mesti dituliskan dengan 'tinta biru' saja.

Baca Juga: Bahaya Kata-Kata

"Satu persen orang di Indonesia menguasai 50 persen aset nasional," begitu lapor Tim Nasional Penanggulangan Kemiskinan, pada Rabu (9/10), sebagaimana disarikan Detik. Ke mana mereka yang tak kuasa melawan yang satu persen ini?

Dengan dasi masih mencekik leher, mereka sedang selonjoran di sofa─menonton Teve. Sesekali mereka merenung tentang kerasnya dunia kerjanya. Padahal capek, kesal. 

Namun, ragam acara lucu lagi menghibur milik mereka para pemodal industri media akhirnya sukses juga membuat mereka tertawa. Kan menjengkelkan. Mereka padahal lagi sebel-sebelnya sama kapitalisme. Eh, akhirnya, kapitalisme sukses juga menghibur mereka.

Lelucon-lelucon kata yang diatraksikan oleh para komedian tuan-tuan modal itu sukses memperdayai mereka. Sambil cekikikan tertawa, akhirnya mereka (dibuat) mengaminkan bahwa sebenarnya hidup mereka sedang baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan kejamnya sistem kerja mereka. Masa bodo dengan kesenjangan 1 banding 50 persen. Yang penting masih bisa ketawa.

Tanpa perlu mereka sadari, akhirnya rasa merdeka mereka sukses dipalsukan oleh mereka para orang-orang kaya yang menindas. Mereka terus merasa bebas, memang karena (dibuat) tak kuasa menemukan kata-kata untuk mengungkapkan ketidakbebasan. 

Mulut mereka tersumpal kudapan. Mata mereka terhijab tontonan. Pikiran mereka disibukkan memikirkan tugas-tugas kantor sepekan ke depan.

Menguasai Kata adalah Tabiat Pemenang Perang

Seperti kapitalisme, semua yang berkuasa memang belum berasa digdaya kalau belum menguasai kata-kata. Apalah artinya pemenang perang kalau sekadar mengeruk kekayaan alam lalu pulang. Penjajah pasti menitipkan salam perpisahan yang membekas di hati sebelum pergi.

Memang tidaklah lazim, namun begitulah penjahat‒selalu meninggalkan jejak sepertimana digubah di cerita-cerita misteri.

Jejak yang sengaja dicetak itu boleh jadi adalah kata-kata yang dimuarakan di pita suara. Penjajah memang sentiasa berusaha sekuat tenaga menata kata-katanya agar selaras dengan kata jajahannya. Sepertimana lagu Happy Birthday to You yang dinyanyikan oleh masyarakat dunia beragam bahasa dengan nada yang sama. Begitulah cara Patty Hill dan Mildred J. Hill menempatkan Amerika sebagai penguasa kata-kata di dunia.   

Masyarakat yang menyaru lagu Happy Birthday to You pasti pernah (atau bahkan masih) melewati masa-masa kelam bersama Amerika. Di setiap perhelatan ulang tahun manusia di seluruh dunia, selalu ada paman Sam yang bertepuk tangan di kursi paling belakang. Sambil menyungging senyum kecut, Sam terlihat begitu senang mendengar kata-katanya abadi memperdayai mereka yang bertambah umurnya setiap tahunnya.

Kata-Kata Hina Produk Pemenang Perang 

Para pemenang perang adalah konduktor di orkestra kata-kata masyarakat dunia. Mereka memandu paduan suaranya untuk melengkingkan kata-kata yang bernada hina. 

Gambaran itu mengemuka dengan jelas sebagaimana digubah oleh Pramoedya Ananta Toer di Bumi Manusia-nya; ketika Tirto Adhi Soerjo dilecehkan dengan sematan Minke yang merupakan plesetan dari satu jenis binatang.

Penjajah memang terbiasa menyemai kata hina. Saat Mālik bin Nabī bersambang ke sebuah taman di Shanghai‒tergantung sebuah papan di gerbangnya yang bertuliskan: “tidak boleh masuk ke taman ini: anjing-anjing, dan orang-orang Cina.” 

Pemerintah Cina sengaja membiarkan papan itu menggelantung begitu saja sebagaimana mestinya‒sebagai saksi bisu betapa buruknya tutur kata para penjajah yang menyamaratakan anjing dengan bangsanya.

Kata-Kata yang Kehilangan Kekuatan

Kata memang punya kuasa, oleh sebab itu penjajah berusaha mengotak-ngatik kata jajahannya. Tujuannya seperti yang Žižek sampaikan; agar jajahan kehilangan 'tinta merah' untuk menggelorakan pemberontakannya. 

Kata-kata mereka jadi tidak punya makna di dunia nyata. Kata Mālik bin Nabī: “setiap kata yang tidak mengandung embrio vitalitas tertentu hanyalah omong kosong.. yang terkubur di suatu kuburan bernama kamus.”

Kata-kata manusia merdeka akhirnya kehilangan kekuatannya. Kata-kata mereka tidaklah menggerakkan trinitas sosial yang jadi mesin setiap peradaban. Trinitas itu adalah: manusia (man), pikiran (idea), dan materi (thing).

Ketika imam bilang: “lurus dan rapatkan shaf-nya,” bapak-bapak patuh bergerak penuh kesadaran. Sayangnya kesadaran itu tidaklah tercelup ke dalam posisi mobil-mobil mereka di luar masjid‒yang semrawut tidak karuan menghambat jalan.

Kembali pada Kata-Kata yang Disucikan

Di zaman di mana kata-kata dikuasai oleh pemenang perang, sudah selayaknya setiap persona di dunia bersandar pada kata-kata yang disucikannya. Kata-kata pemenang perang penuh kepalsuan.

Kata-kata suci adalah satu-satunya yang luhur abadi menjamin kebebasan. Maka dari itu, persona-persona Islam harus berpulang pada “kalimatullāhi hiyal ulyā. Dengan kata-kata itulah jaminan kebebasan mereka bisa ternyatakan.

Alih-alih harus meng-islamkan manusia, hari ini persona Islam juga dituahkan untuk meng-islamkan kata-kata. Semangat itulah yang digelorakan Syed Naquib al-Attās menceritakan dakwah Islam di masa-masa permulaannya. Islamisasi bahasa adalah keniscayaan yang mesti terulang di masa kini, kata al-Attās:

“Bahasa pertama yang mengalami Islamisasi adalah bahasa Arab itu sendiri. Di mana bahasa Arab setelah turunnya Alquran menjadi bahasa Arab 'baru' dan tersempurnakan, yang memuat konsep-konsep dasar Islam, yang tidak berubah dan dipengaruhi perubahan sosial.

Akhir Riwayat Kontestasi Kata

Kata adalah dutanya pemikiran. Para penjajah mewariskan kata pada jajahannya agar pemikirannya tetap tinggal walaupun tank-tank mereka telah angkat kaki pergi. 

Maka dari itu, warisan kata yang mereka tinggalkan haruslah disucikan. Hanya dengan cara itulah persona-persona Islam dapat menggariskan 'tinta-tinta merah'-nya untuk dapat bangkit melawan ketidakadilan yang ditelurkan oleh mereka para penguasa kata-kata.

Sampai tiba waktunya kata-kata Islam kembali berkuasa, saat itulah pemenang perang akan menyadari usahanya ternyata sia. Kata-kata yang mereka paksakan lekat di pita-pita suara pemuda yang berpandangan alam Islam (worldview of Islam) hanya akan membentur kehampaan.

Itulah awal dari akhir (the beginning of the end) riwayat kontestasi kata. Ketika kata-kata sucilah yang jadi pemenangnya.

Semua kata-kata manusia yang beredar di muka bumi pada akhirnya hanyalah nisbi. Semesta kata manusia akan berbondong-bondong tunduk pada kata-kata suci yang dijanjikan menang sebagaimana diabadikan Alqurān:

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.”