Siang itu mendung menyelimuti langit. Awan berbondong-bondong menampakkan diri mereka hingga terlihat oleh mata telanjang manusia. Gemuruh petir saling sahut, begitu pun gerimis yang kian lama rintiknya makin deras.

Orin. Kupanggil ia begitu. Gadis bermata sayu, pemilik surai sebahu dan poni yang menutupi sebagian dahinya. Senyum dia serupa terang pagi, hangat dan memberi semangat. Ia pun cerdas, selalu masuk di ranking sepuluh besar. Dan tentu, Orin adalah pengagum bunga matahari. Ia pernah berkata begitu, sore lalu.

Aku memandangi dia yang masih terpaku di samping jendela kelas. Menikmati debam hujan dengan khusyuk, tanpa ingin beranjak sama sekali meski sekolah telah usai. Di luar kelas masih banyak siswa lain yang bercengkerama dengan hujan, bahkan ada sebagian yang sengaja membasahi diri mereka.

"Nas, apa sebaiknya kita ajak pulang Orin sekalian?" Nanas seketika menepis saranku tanpa tapi. Seraya membenarkan jas hujan yang kini melekat di tubuhnya, pergi mendahului.

"Kalau kamu masih peduli dengan anak tikus itu, aku adalah orang pertama yang akan membencimu." Kalimat sarkas itu meluncur begitu saja diantara hujan yang seketika berhasil membuatku terdiam. Dengan sedikit berlari kecil, aku menyusul Nanas yang sudah cukup jauh berjalan di depan. Anak tikus, sudah lebih dari puluhan kali aku mendengarnya sejak tiga hari lalu.

Waktu itu kami berempat, aku, Nanas, Anjas, dan Jorji pergi ke rumah Orin untuk mengerjakan tugas kelompok. Seperti yang sudah-sudah, proporsi mengerjakan tugas dan bercanda selisih sepuluh persen. Lebih banyak bercandanya.

Dari arah dapur terlihat Bi Ijah membawa dua toples roti nastar dan putri salju yang biasanya hanya kunikmati kala lebaran saja. Jangan lupa satu teko besar es jeruk yang sudah kali ketiga bocor di perut kami semua.

"Terima kasih, Bi," ujarku langsung menyambar satu kue nastar yang sudah duduk di depan mata.

Kami kembali asik berdiskusi perihal tugas -PKN- yang diberikan oleh guru mengenai pentingnya menghargai perbedaan dan menumbuhkan budaya yang anti korup. Bahwa hidup di negara yang plural, setiap orang harus mau menghargai keberagaman yang ada. Karena berbeda itu sebuah keniscayaan, seperti kata Gus Dur. Pun soal merawat budaya anti korup yang perlu sekali digalakkan pada dewasa ini.

"Menumbuhkan budaya anti korup bisa dimulai dari hal kecil. Contohnya tidak menyontek ketika ada tugas. Selalu datang tepat waktu, dan berhenti ketika lampu merah walaupun sepi." Komentar Jorji sambil melirik Anjas yang masih sibuk mengunyah kue putri salju. Gelak tawa pun seketika pecah menyaksikan mata Anjas melotot menatap Jorji.

"Aku setuju dengan itu. Seharusnya koruptor dimiskinkan atau kalau perlu hukum mati saja sekalian. Orang seperti mereka pantas disebut tikus yang mengais sisa-sisa remahan makanan di dalam tong sampah," balas Nanas dengan menggebu. Di antara kami semua, Nanas adalah sosok yang paling pemberani apalagi jika hal itu berkaitan dengan kaum tertindas dan marginal. 

Ekor mataku selanjutnya melirik Orin yang sedari tadi tidak mengeluarkan kata apapun. Padahal biasanya dia yang selalu mengomentari atau paling tidak meresponsnya dengan senyum singkat sebagai tanda afirmasi, namun kali ini memilih bisu.

"Kalau menurutku sih hukuman mati atau dimiskinkan saja tidak cukup. Perlu hukuman moral dari masyarakat itu sendiri. Biar jera," tambah Anjas yang disambut anggukan sepakat dari yang lain.

Selang beberapa hari setelah kami mengerjakan tugas bersama, Orin menghampiriku yang masih menyeka keringat habis bermain basket di pinggir lapangan. Ia mengulurkan satu botol minuman dan seketika duduk di sampingku.

"Kamu belum pulang?" tanyaku yang hanya dibalas gelengan kecil.

"Pras, jika kamu tau, segala yang kamu gunakan adalah hasil curian, apa yang akan kamu lakukan? Tetap diam, mengembalikan diam-diam atau memilih bungkam?" Aku menatap lekat-lekat wajah Orin, "Kamu mencuri?" seketika Orin menggeleng dengan wajah cemberut. Aku tertawa kecil, merasa konyol dengan respon yang kuberikan.

"Aku menyukai bunga matahari di depan pekarangan rumahmu. Kalau boleh, bisakah petikkan satu untukku?" Aku mengangguk, dan setelah itu Orin beranjak dari duduknya, ia melambaikan tangan, pergi untuk pulang bersamaan dengan surya yang hampir tenggelam di ufuk barat sana.

Aku sedikit mempertanyakan sikap Orin yang cukup aneh hari ini, tapi buru-buru aku enyahkan itu. Kalaupun dia punya masalah atau sedang memikirkan sesuatu, toh pasti kalau butuh teman curhat, ia akan datang dengan sendirinya.

***

Malam harinya, aku terkejut mendengar kabar jika Ayah Orin tertangkap KPK di rumahnya. Ia menjadi tersangka korupsi pembangunan rusunawa tahun anggaran 2015 dengan nominal mencapai satu miliar. Aku segera menghubungi Orin, namun nomornya tidak aktif. Keesokan harinya, dia juga tidak berangkat sekolah kurang lebih selama satu minggu. Hilang tanpa kabar, tanpa jejak apapun.

Hingga pagi tadi, Orin datang seperti minggu-minggu sebelum ia menghilang. Namun auranya berbeda. Ia bukan Orin dengan senyumnya serupa terang pagi. Sejak menampakkan batang hidung, ia banyak diam, merunduk, dan menyendiri. Apalagi setelah mendengar bisikan 'anak tikus' yang entah darimana asal muasal kalimat itu ditujukan pada Orin.

"Dasar anak tikus," desusan itu terdengar begitu nyaring. Aku menoleh marah, tau bahwa Nanas lah yang melabeli Orin dengan kalimat tidak pantas.

"Aku tau kamu membenci ini. Tapi tolong, dia Orin, teman kita. Jangan diolok-olok seperti itu," tegasku.

"Dia temanku, dulu. Sejak mencuri hak yang bukan miliknya, aku anggap pertemanan telah berakhir. Aku tidak peduli." Nanas pergi begitu saja diikuti teman-teman lain. Terkadang, sifat idealis dari Nanas yang membuatku sedikit jengkel. Dia tidak pernah pandang bulu, pun dalam hal membenci seseorang.

Kicauan anak tikus semakin hari semakin akrab hinggap di telinga. Apalagi seantero sekolah sudah tau, jika di sekolah mereka ada salah satu anak dari pencuri uang rakyat. Tak ayal, aku selalu mendapati Orin datang lebih awal ke kelas dan pulang paling akhir. Barangkali ia menghindari berpapasan dengan orang lain. Dunia dia seketika terjungkal tanpa ampun.

Siang itu, setelah berlari kecil mengejar Nanas di tengah hujan, aku berbohong padanya jika hari ini aku harus pergi ke perpustakaan sebentar, baru teringat ada satu buku tertinggal di sana. Aku segera melesat, masuk kembali ke dalam sekolah. Bukan perpustakaan yang menjadi muara tujuan, namun kelasku. Dari bibir pintu, aku masih melihat mata sayu itu menelisik titik-titik air yang tercipta pada jendela akibat debam hujan. Ia terlalu khusyuk sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku yang kini sudah berdiri di depannya.

"Bagaimana kabarmu?" itu adalah percakapan pertamaku setelah sore yang lalu di lapangan. Ia mendongak, menatapku sekilas lantas menggeleng kecil. Selain senyum terang paginya terganti oleh mendung, kini aura semangatnya pun hilang entah kemana.

"Ini mataharimu." Aku mengulurkan satu tangkai bunga matahari di depan Orin, sesuai permintaannya tempo lalu. Bunga itu aku petik dari pekarangan rumah yang ditanami ibu. "Bisakah kita kembali seperti dulu lagi? Saat sebelum semua jadi serumit ini?" Orin menggeleng cepat-cepat setelah menerima uluran bunga matahari dariku.

"Tidak akan mungkin."

"Kenapa? Aku akan menjelaskan semuanya. Kamu tidak pernah bersalah dan kamu bukan anak tikus."

"Aku salah. Aku tau Ayah mencuri uang itu. Dan aku pantas dihukum, seperti ucapan Anjas kemarin. Aku siap, selagi hal itu bisa mengurangi rasa bersalahku kepada rakyat. Atas nama Ayah dan keluargaku." Aku melihat airmata lolos begitu saja pada kedua pipi Orin. Ia menunduk dalam, bahunya bergetar.

Aku membiarkan dia larut dalam isakan tangis, membiarkan lara yang menghujamnya bertubi-tubi agar bisa sedikit terkurangi. Setelah puas menumpahkan airmata, hujan diluar sana pun sedikit mereda. Orin bangkit, ia mengucapkan terima kasih padaku, untuk bunga matahari dan semuanya lantas menghilang dari balik pintu.

Korupsi, dampaknya bukan hanya pada rakyat yang merasa dibohongi, namun juga pada sanak keluarga yang turut atau bahkan tidak menikmati. Paman harus tau, ada terang pagi yang hilang tertelan mendung. Dia lah Orin, putri semata wayangmu sendiri.