Selain semarak perayaan kemerdekaan, sepanjang agustus ini dunia pendidikan tinggi juga disemarakkan oleh proses pembinaan mahasiswa baru (Maba) dalam bingkai Orientasi Studi dan Pendidikan Kampus (Ospek). Program pembinaan ini biasanya terfokus pada aspek penguatan mental, karakter, dan budaya akademis agar mahasiswa mampu melalui jenjang pembelajaran hingga menyandang gelar sarjana (S1).

Pembinaan juga dimaksudkan agar mahasiswa dapat lebih peka terhadap kondisi kenegaraan dan kemsyarakatan sebagai bagian dari implementasi tri-dharma perguruan tinggi  untuk konsen di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ada beberapa pemandangan menarik mengenai penyelenggaraan Ospek di beberapa kampus pada periode kali ini, di Universitas Negeri Malang (UM) misalnya, materi antikorupsi dimasukkan dalam salah-satu materi ospek dan dijadikan sebagai salah-satu bagian dari konsep bela negara (Tribunnews, 13/08).

Konsep ini setidaknya memberikan lecutan semangat kepada mahasiswa bahwa melawan segala bentuk korupsi dapat dikategorikan sebagai bagian dari bentuk jihad membela negara. Konsep ini setidaknya ingin menggiring mahasiswa untuk masuk pada ruang nyata terkait sumbangsihnya dalam pembangunan negeri.

Perubahan Paradigma

Ospek yang baik adalah ospek yang mengedapankan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan menjauhi segala bentuk kekerasan dan aksi “gertak sambal”. Tidak mungkin citra klasik Ospek sebagai arena perpeloncoan dan “kekerasan yang terlembaga”, tetap dipertahankan dalam kondisi kekinian, sebab hal itu hanya mengerdilkan martabat mahasiswa sebagai agen perubahan.

Yang dibutuhkan saat ini ialah lahirnya mahasiswa-mahasiswa yang berani memberikan solusi atas segala permasalahan dalam bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat. Mulai dari masalah kemiskinan, ketidakadilan, konflik antar sesama warga negara, dan budaya koruptif yang melanda mental pejabat negara.

Selain itu, konsep Ospek tentunya tidak pernah terlepas dari konteks dan dinamika sosial kemasyarakatan yang dihadapi. Di zaman sebelum reformasi misalnya, konsep Ospek memang didesain untuk menciptakan nalar dan keberanian mahasiswa dalam berargumen dan melawan keberingasan aparat negara. Menjadi wajar manakala konsep yang diterapkan sangat kental dengan nuansa kediktatoran, semata-mata untuk memancing dahaga mahasiswa untuk bangkit melawan dan untuk mempertahankan martabat agung kemanusiaanya.

Di masa itu, mahasiswa dituntut bisa berhadapan langsung dengan aparat keamanan dalam rangka memperjuangkan hak-hak warga negara dari segala bentuk kebijakan diskriminatif dan membredel hak-hak dan kebebasan warga negara dengan ragam teror, ancaman, dan model tindak kekerasan lainnya.

Pada kondisi ini, tipikal mahasiswa yang dibutuhkan rakyat adalah mahasiswa yang berani secara fisik melawan ketidakadilan, kediktatoran, dan kebijakan negara yang sewenang-wenang. Hasil dari konsep yang demikian nyatanya berhasil membakar semangat mahasiswa dalam upaya menumbangkan rezim sewenang-wenang dan pada puncaknya melahirkan era baru bernama “reformasi.

Mahasiswa sebagai Agen Perubahan

Keberhasilan mahasiswa dalam mewujudkan reformasi tahun 1998 merupakan pembuktian sekaligus peneguhan peran dan strategisnya posisi mereka dalam menentukan arah pembangunan negara. Barangkali bukan suatu yang berlebihan jika mendaulatnya sebagai pemegang kunci kemajuan negeri, baik kemajuan dalam pengertian jangka pendek, pun juga panjang.

Jangka pendek dimaksudkan bahwa keberadaan mahasiswa sebagai “parlemen jalanan” diharapkan tetap lantang menyuarakan dan memberikan solusi kongkrit terhadap ragam kebijakan negara yang salah arah. Sedangkan dalam jangka panjang, mereka merupakan generasi penerus sekaligus pemegang mutlak estafet kepemimpinan. Baik dan buruknya budaya korup di masa depan tergantung pelibatan mahasiswa terhadap usaha pemberantasan korupsi saat sekarang ini.

Ospek Antikorupsi; Sebuah Reformulasi

Salah-satu tantangan terbesar dalam kehidupan berbangsa dewasa ini adalah ketidakmampuan negara dalam memberangus oknum-oknum pejabat korup dalam melaksanakan tugas kenegaraannya. Kini kasus korupsi bukan lagi sekadar bancakan kaum elit, tetapi juga menjadi santapan golongan “non-elit” layaknya pejabat kecil di tingkat desa.

Tentunya problem ini tidak semestinya hanya dipasrahkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam hal pencegahan dan pemberantasan korupsi. Sebab berhasil tidaknya program yang dilaksanakan KPK tergantung pada dukungan dan komitmen bersama seluruh warga negara dalam upaya mencegah dan memberangus budaya korupsi.

Mahasiswa dan dunia kampus adalah salah-satu yang diharapkan bisa menetralkan sengkarut korupsi ini, sebab hanya institusi inilah yang masih memiliki idealisme tinggi dalam upaya pemberantasan korupsi dan memberangus segala bentuk kolusi. Karenanya, pihak PT diharapkan lebih pro-aktif dalam upaya menekan angka korupsi melalui menciptakan inovasi pendidikan antikorupsi.

Strategi penanaman dan penguatan karakter antikorupsi pada Maba sebagaimana dilakukan oleh beberapa PT di atas wajib dipertahankan, dan tentunya perlu dilakukan pengembangan dari sisi pengayaan materi, inovasi pembelajaran, dan metode penyampaian yang menarik. Ini dimaksudkan agar sedari awal para mahasiswa bisa mengenal lebih utuh terhadap jenis, bentuk, dan bahaya laten korupsi.

Ospek merupakan langkah awal dalam mencetak paradigma mahasiswa antikorupsi, Adapun mata kuliah Pendidikan Antikorupsi dan kegiatan kemahasiswaan yang bergerak di kajian antikorupsi merupakan model pengembangan paradigmanya dalam menyikapi korupsi. Konsep berjenjang yang demikian dimaksudkan agar konsep pendidikan antikorupsi dapat dikonsepsikan secara lebih terarah.

Sejarah telah mencatat, pola Ospek yang syarat dengan intimidasi dan perlawanan telah menorehkan catatan emas berwujud reformasi. Kini tugas kita mewujudkan capaian sejarah baru dalam mencetak mahasiswa berkarakter “pembabat korupsi”. Selamat berospek!