Dalam pembahasan mengenai politik kontemporer, poskolonialisme menjadi suatu hal yang tidak asing lagi untuk didengar. Poskolonialisme sendiri menjadi peristiwa yang terjadi setelah berakhirnya masa-masa kolonialisme dan imperialisme, terutama setelah berakhirnya perang dunia II. 

Namun, berakhirnya kolonialisme tidak menjanjikan adanya perdamaian abadi dan lahirnya kesetaraan. Pascakolonialisme menandakan kemungkinan masa depan untuk dapat mengatasi kolonialisme, namun bentuk-bentuk dominasi atau subordinasi yang baru dapat muncul setelah perubahan tersebut, termasuk bentuk-bentuk baru kekuasaan global (Ivison, 2020). 

Dalam berbagai pandangan, masa-masa poskolonialisme justru menghadirkan corak baru dalam perbedaan pandangan dan bahkan melahirkan persaingan baru, salah satunya adalah persaingan antara dunia Barat dan dunia Timur. Salah satu teori dalam masa poskolonialisme yang membahas permasalahan tersebut adalah orientalisme.

Orientalisme merupakan suatu gagasan teori yang dikemukakan oleh Edward Said yang merupakan seorang akademisi sekaligus politisi. Edward Said sendiri memiliki kombinasi latar belakang sebagai seorang Barat berketurunan Amerika dan juga sebagai seorang Timur yang lahir dan tinggal di Yerusalem. 

Melalui buku “Orientalisme” nya tersebut, Edward Said memaparkan dengan sangat jelas perbedaan antara dunia Barat dan Timur. Orientalisme Edward Said melihat akademisi atau para sarjana dari Barat memposisikan Barat sebagai subjek dan menjadikan Timur hanya sebagai objek semata. 

Dalam buku tersebut, Edward Said memaparkan berbagai macam pemikiran dan pandangannya terhadap negara-negara Barat yang Ia anggap telah melakukan imperialisme terhadap negara-negara Timur, terutama di daerah Arab. Ia berpendapat bahwa negara-negara Timur selalu menjadi target dari negara Barat untuk melakukan imperialisme dan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. 

Oleh karena itu, Edward Said mencoba untuk mengkritik objektivitas dari hasil karya-karya para akademisi atau sarjana Barat yang dianggap cenderung memiliki kepentingan dalam memposisikan Barat lebih superior dari Timur. Dalam bukunya, orientalisme dijelaskan bukan sebagai sekedar materi atau bidang politik yang direfleksikan secara pasif. Orientalisme lebih merupakan distribusi kesadaran geopolitik ke dalam teks estetika, ilmiah, ekonomi, sosiologis, sejarah, dan filologis (Said, 2003).

Dalam beberapa pandangan, dunia Timur dalam orientalisme tidak hanya selalu merujuk pada kawasan Arab atau timur tengah, namun juga merujuk pada kawasan Asia, Asia Pasifik, ataupun Asia Tenggara. Dalam konteks Asia Tenggara, Indonesia juga dapat dikategorikan sebagai negara dunia Timur. Dari segi historis, Indonesia juga menjadi salah satu negara yang pernah dikuasai oleh negara-negara Barat atau Eropa seperti Portugis, Inggris, dan juga Belanda. Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sebelumnya juga pernah menjadi objek imperialisme dari negara Barat. 

Salah satu orientalisme di Indonesia dapat kita lihat dari kasus terjadinya perbedaan pendapatan dan pandangan hidup orang Barat atau orang asing dengan masyarakat lokal yang berada di Bali. Orientalisme sebagai salah satu teori dalam konteks pascakolonial, menjadi sangat penting diajukan untuk melihat Bali bukan sebagai sebuah warisan yang steril dari relasi kuasa (Suryawan, 2015). Melalui perspektif poskolonialisme, kita dapat melihat bagaimana Indonesia, khususnya Bali sebagai daerah bekas jajahan negara Barat masih memiliki sisa-sisa praktik kolonialisme yang dilakukan oleh negara-negara Eropa. 

Seperti yang kita ketahui, Bali merupakan sebuah pulau yang berada di Indonesia bagian tengah, yang memiliki begitu banyak pemandangan alam yang sangat indah. Oleh karena itu, Bali menjadi destinasi wisata yang paling diandalkan oleh Indonesia. Pasalnya, kebanyakan para turis yang datang ke Bali didominasi oleh turis asing. 

Tidak hanya itu, namun Bali juga menarik begitu banyak warga negara asing untuk berinvestasi di Bali, sehingga saat ini kita dapat menemukan begitu banyak produk-produk investasi asing di Bali, mulai dari hotel, restoran, hingga peralatan berselancar. Namun, hal tersebut tentunya tidak dapat lepas dari cara pandang orang Barat mengenai apa yang mereka rasakan dan potensi apa saja yang mereka lihat terhadap Bali. 

Beberapa waktu lalu, terdapat sebuah kasus yang menarik perhatian masyarakat Indonesia yang ramai di media sosial, dimana terdapat seorang warga negara asing bernama Kristen Gray yang mempromosikan Bali untuk menjadi tempat tinggal para warga negara asing. 

Dilansir dari CNN Indonesia (2021), Kepala Humas Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Arvin Gumilang mengungkapkan alasan utama Gray mengajak WNA melakukan eksodus ke Bali karena alasan kenyamanan, biaya hidup murah, serta lingkungan ramah kelompok LGBT. Dengan begitu, Ia kemudian mendapatkan berbagai kritikan dari masyarakat Indonesia melalui media sosial.

Dalam kasus tersebut kemudian dapat dilihat bahwa Kristen Gray sebagai warga negara asing yang berasal dari Amerika Serikat memiliki anggapan bahwa hidup di Bali cenderung lebih murah dan dapat memberikan keuntungan bagi para warga negara asing yang memiliki pendapatan lebih besar untuk tinggal di Bali. 

Bila kita melihatnya dari sudut pandang orientalisme, hal tersebut dapat menjadi salah satu contoh bahwa Kristen Gray yang memiliki latar belakang sebagai orang Barat menganggap bahwa negara Timur memiliki tingkat kebutuhan yang lebih rendah. Hal tersebut secara tidak langsung merendahkan Bali yang merepresentasikan negara Timur yaitu Indonesia, dan berupaya untuk mendapatkan keuntungan dari hal tersebut, yaitu biaya hidup yang lebih murah. Kejadian tersebut sesuai dengan konsep orientalisme yang digagas oleh Edward Said, dimana Barat pada akhirnya memiliki agendanya tersendiri dan cenderung berkeinginan untuk melakukan imperialisme. 

Secara tidak kita sadari, peristiwa tersebut hanyalah segelintir contoh dari praktik orientalisme, namun bila hal tersebut dibiarkan, tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang dikatakan Edward Said dapat terjadi, yaitu adanya imperialisme terhadap negara Timur, yang kemudian melalui bidang ekonomi dapat berkembang menjadi neokolonialisme. 

Mungkin, bila kita melihatnya dari kacamata neokolonialisme, hal tersebut kemudian dapat merambah ke dalam berbagai hal, terutama perekonomian negara, seperti yang telah kita lihat, banyaknya produk-produk asing bertebaran di Bali, dan pihak asing dapat mendominasi pasar domestik tersebut, sehingga secara sadar maupun tidak sadar, pihak asing memang telah mempraktekkan imperialisme di Indonesia melalui bidang perekonomian dan investasi. 



Daftar Pustaka

CNN Indonesia. (2021). “Ajak WNA ke Bali, Kristen Gray Patok Biaya Konsultasi US$ 50”. Diakses pada 17 April 2021, dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210120081134-20-595963/ajak-wna-ke-bali-kristen-gray-patok-biaya-konsultasi-us--50.

Edward, S. (2003). Orientalism: Western conceptions of the Orient. Penguin Books Limited.

Ivison, D. (2020). Postcolonialism. Encyclopedia Britannica. Diakses pada 17 April 2021, dari https://www.britannica.com/topic/postcolonialism. 

Suryawan, I. N. (2015). Jelmane To To Dogen: Genealogi Kekerasan dan Perjuangan Subaltern Bali. Kawalu: Journal of Local Culture, 2(2), 61-81.