Kebangkitan nasional merupakan masa bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan indonesia.

Sebagaimana kita ketahui hari kebangkitan nasional ini diperingati pada 20 mei, dimana hal ini merupakan konsekuensi dari keputusan Kabinet Hatta tentang Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

Namun perlu diketahui bahwa alasan daripada penentuan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) adalah untuk menghindarkan perpecahan yang di akibatkan serangan balik dari pelaku kudeta 3 juli 1946, yakni Tan Malaka dan Mohammad Yamin, yang kemudian menyampaikan pembelaannya di media massa cetak maupun radio.

Hal inilah yang oleh Kabinet Hatta dinilai akan menumbuhkan perpecahan bangsa yang sedang menghadapi perang kemerdekaan, sehingga perlu untuk menentukan Harkitnas guna membangkitkan kembali kesadaran sejarah melawan penjajah.

Disisi lain disampaikan oleh Suryanegara (2014) "Keputusan Kabinet Hatta tentang hari kebangkitan nasional (Harkitnas), jelas terpengaruh oleh tulisan H. Colijn dalam Koloniale Vraagstukken van Heden en Morgen (Pertanyaan Kolonial Hari Ini dan Esok). dalam tulisan ini Boedi Oetomo sebagai organisasi dari siswa STOVIA, didirikan 20 mei 1908 di Jakarta".

Dijelaskan lebih lanjut bahwa H. Colijn sebelum menulis Koloniale Vraagstukken van Heden en Morgen (1928) adalah Direktur Batavia Petroleum Co. Kemudian pada 1930 menjadi Perdana Menteri Belanda dan akhirnya sebagai Menteri Jajahan, dari kedudukannya tersebut, dapat dipahami bila H. Colijn sangat memuji Boedi Oetomo yang mayoritas pimpinan dan anggotanya adalah Boepati atau Bangsawan Djawa.

Hal inilah yang menjadi dasar pikir kenapa tanggal 20 mei diperingati sebagai hari kebangkitan nasional.

Boedi Oetomo, Organisasi Jawasentris

Boedi Oetomo didirikan sebagai kebijakan balance of power dari pemerintah kolonial Belanda. 

Organisasi ini didirikan oleh Dr. Soetomo untuk mengimbangi gerakan kebangkitan pendidikan islam yang dipelopori oleh Djamiat Choir di Jakarta.

Karena pengaruh Djamiat Choir cukup besar dimana pada wilayah kasoenanan Soerakarta, dimana umat islam berhasil menjadikan pasar sebagai media pembangkit kesadaran nasional.

Untuk mengantisipasi dan mengimbangi Djamiat Choir, maka atas inisiatif Bupati Serang Banten, P. A. A. Achmad Djajadinjngrat, dibangun sebuah organisasi imbangan yang juga berada di batavia.

Adapun karena diminta organisasi tandingannya harus sama seperti Djamiat Choir. Untuk itu, dipilihlah nama Boedi Oetomo (Toer,1985:108).

Jika ditinjau dari segi penamaan maka Djamiat Choir berarti 'jamaah yang baik', kemudian jika diterjemahkan kedalam bahasa jawa menjadi 'Boedi Oetomo' (Suryanegara,2014 :354). Djamiat Choir lebih mengutamakan amal saleh menurut islam, sedangkan Boedi Oetomo lebih mengutamakan ajaran agama jawa.

Apabila Djamiat Choir mengimani manusia sebagai ciptaan Allah, Dr. Soetomo memercayai manusia sebagai penjelmaan akhir dari tuhan. Bila Djamiat Choir mengajurkan shalat, sebaliknya Dr. Soetomo yang memercayai dirinya sebagai penjelmaan terakhir dari Tuhan, sesuai ajaran agama Djawa mengajarkan manusia tidak perlu mendirikan shalat (Wirjosukarto dalam  Suryanegara, 2014:354).

Perlu diketahui juga bahwa pendiri dan anggota Boedi Oetomo berasal dari bangsawan jawa, dan dalam organisasi Boedi Oetomo jika seorang berasal dari suku jawa tetapi bukan seorang bangsawan maka ia tidak dibenarkan menjadi anggota Boedi Oetomo.

Disisi lain orientasi daripada Boedi Oetomo hanyalah mengutamakan bangsa jawa (bangsa tunggal), sebagaimana disampaikan Pram dalam Jejak Langkah "Boedi Oetomo sebagai organisasi bangsa tunggal berhasil dalam tahun pertama dari hidupnya. Berhasil memencilkan diri dari bangsa-bangsa terperintah Hindia selebihnya. Ia alpakan kenyataan Hindia yang berbangsa ganda.

Boedi Oetomo juga menolak pelaksanaan cita-cita persatuan indonesia (1928), hal ini dikarenakan ide cita-cita persatuan indonesia terlahir dari kongres Jong Islamieten Bond (1925), yang mana Jong Islamieten Bond merupakan kontra organisasi dari Jong Java (organisasi pemuda Boedi Oetomo yang berorientasi Kedjawen.

Awal Mula Kebangkitan Nasional 

Sejarah indonesia mencatat bahwa pelopor gerakan kebangkitan Boedi Oetomo (20 mei 1908). Padahal realitas sejarahnya, justru keputusan Kongres Boedi Oetomo di Surakarta, menolak cita-cita persatuan Indonesia (1928), sebagaimana dijelaskan diatas.

Dalam masalah penyebab kebangkitan nasional, George McTurner Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia, sangat berbeda dengan para penulis sejarah dari barat. Kahin lebih menekankan faktor utama penyebab kebangkitan nasional adalah Islam sebagai yang dianut oleh mayoritas bangsa indonesia.

Dijelaskan bahwa terdapat tiga faktor terbentuknya integritas nasional dan kesadaran nasional, antara lain :

1. Terbentuknya kesatuan agama bangsa indonesia (mayoritas islam) dimana hal ini yang menjadi dasar terbentuknya solidaritas perlawanan terhadap kerajaan Protestan Belanda dan pemerintah kolonial Belanda sebagai penjajah yang melancarkan politik Kristenisasi.

2. Islam tidak hanya sebagai agama yang mengajarkan perlunya jamaah. Islam juga sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah asing Barat.

3.  Perkembangan bahasa melayu pasar berubah menjadi Bahasa Persatuan Indonesia.

Ketiga faktor tersebut, dalam penulisan sejarah indonesia Periode Gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional, akibat deislamisasi sistem penulisannya, islam tidak diakui sebagai pembangkit gerakan nasional.

Organisasi Pergerakan Nasional Pertama

Sebelum organisasi Boedi Oetomo dibentuk tiga tahun sebelum itu telah berdiri suatu organisasi Islam yang bergerak dibidang pasar, 'Sjarikat Dagang Islam' namanya.

Sjarikat Dagang Islam (SDI) didirikan oleh Hadji Samanhoedi pada 16 Oktober 1905, sebagai jawaban terhadap upaya imperialisme modern yang menjadikan indonesia sebagai pasar (market) dan sumber bahan mentah (raw material resources) industri penjajah Barat.

Dengan tujuan penguasaan pasar akan terhimpun dana untuk gerakan kesadaran politik nasional. Sjarikat Dagang Islam juga mengadakan kerja sama niaga secara rahasia dengan pedagang Cina dan membentuk organisasi niaga dengan nama Khong Sing.

Pemerintah kolonial Belanda menilai berdirinya Sjarikat Dagang Islam (SDI) ini sebagai bahaya besar bagi eksistensi dan peekembangan imperialis Belanda. Apalagi dengan adanya kerja sama niaga, antara pribumi Islam dengan Cina. Oleh karena itu, pemerintah kolonial Belanda merasa perlu untuk membentuk organisasi tandingan.

Maka didirikanlah Sarekat Dagang Islamijah (1909) di Bogor, yang mendapat dukungan dari Asisten Residen Bogor C. J. Feith sebagai pelindungnya dan mendapat bantuan dana dari Kontrolir Ciamis Weitffenbach, Asisten Residen Bogor van  Zutphen serta Bupati Ciamis R. A. Koesoemabrata.

Sebaliknya, Hadji Samanhoedi dengan SDI-nya difitnah oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai penggerak hura-hara Anti Cina (1912). Padahal peristiwa ini adalah provokasi pemerintah kolonial Belanda, dengan cara menugaskan laskar Mangkoenegaran merusak toko-toko Cina, sehingga oleh Residen Surakarta Wijck, Sjarikat Dagang Islam (SDI) dijatuhi hukuman skrosing pada 12 agustus 1912.

Berdasar pada penjelesan diatas maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa faktor utama penyebab kebangkitan nasional adalah islam (sebagaimana disampaikan Kahin), dan yang seharusnya menjadi Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) adalah hari didirikannya Sjarikat Dagang Islam bukan hari lahirnya Boedi Oetomo, Karena Boedi Oetomo bersifat jawasentris sehingga tidak layak disebut sebagai organisasi pergerakan nasional, apalagi dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional.

Sumber :

1. Suryanegara, Ahmad Mansur (2018). Api Sejarah 1, Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Suyadinasti, Bandung.

2. Toer, Pramoedya Ananta (2006). Jejak Langkah, Lentera Dipantara, jakarta timur.

3. Toer, Pramoedya Ananta (1985). Sang Pemula, Hasta Mitra, Jakarta.