32 tahun Indonesia berada di bawah kekuasaan rezim otoriter Soeharto. Banyak hal yang terjadi di masa yang disebut sebagai masa Orde Baru tersebut, salah satunya adalah sikap anti dan takut akan komunisme. Berbagai hal yang bagi pemerintah saat itu berkaitan dengan komunisme sangat ditentang dan dianggap seperti wabah penyakit, bahkan kalau perlu dimusnahkan.

Hal-hal yang berkaitan dengan komunisme dianggap menentang Pancasila sebagai dasar negara. Untuk memperkokoh Pancasila, pemerintah Orde Baru pun membuat program Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (yang disingkat dan dikenal sebagai P4) atau Eka Prasetya Pancakarsa.

Pancasila yang terdiri dari 5 butir pun dikembangkan menjadi 45 butir. Oleh karena itu, hal yang dilakukan pemerintah Orde Baru tersebut itu membuat masyarakat Indonesia memiliki pandangan bahwa komunisme adalah musuh utama NKRI dan dan juga Pancasila.

Sebelum menelusur lebih jauh, saya akan memaparkan secara singkat apa itu komunisme. Menurut “Kamus Filsafat” karya Lorens Bagus, akar kata komunisme (communism dalam bahasa Inggris) berasal dari bahasa Latin communis yang berarti umum, sama, publik, universal. Komunisme adalah suatu struktur sosial di mana semuanya diurus bersama.

Komunisme dijelaskan secara sistematis untuk pertama kalinya dalam buku “Republic” milik Plato, seorang filsuf Yunani Kuno. Dalam buku tersebut, komunisme ingin menandakan setidaknya kelas pemimpin dan juga mencirikan seluruh masyarakat.

Istilah komunisme menjadi semakin berkembang oleh Karl Marx dan Frederich Engels (dua filsuf asal Jerman) yang memandang komunisme sebagai tahap akhir perkembangan masyarakat yaitu suatu keadaan yang akan tercapai setelah tercapainya sosialisme (paham yang bertujuan untuk membangun keadilan masyarakat berdasarkan pemilikan bersama). Singkatnya, komunisme adalah paham yang menjunjung sama rata dan sama rasa.

Di Indonesia, komunisme diartikan sebagai sesuatu yang menakutkan, tidak beragama, menentang Pancasila, dan sebagainya. Padahal, jika Pancasila dibedah lebih lanjut, terdapat unsur sosialisme dan komunisme di dalamnya. Unsur sosialisme dan komunisme terdapat pada sila ke-2 dan ke-5 mengenai kemanusiaan yang adil dan beradab dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebenarnya tidak perlu heran jika di dalam Pancasila terdapat unsur seperti itu karena Soekarno, sang penggagas Pancasila, memang banyak membaca tokoh-tokoh pemikir kiri seperti Karl Marx dan Vladimir Lenin saat ia sekolah dan tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto. Dan tak heran pula, kemudian Soekarno menggagaskan NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis).

Orde Baru lah yang memelopori paradigma anti-komunisme di Indonesia setelah peristiwa 1965. Orde Baru, yang saat itu lebih cenderung ke blok ‘kanan’ menganggap bahwa segala sesuatu yang terdapat unsur-unsur ‘kekirian’ mesti dimusnahkan dengan membuat propaganda dan menumbuhkan paradigma yang membuat masyarakat Indonesia menjadi takut akan komunisme.

Pemutaran film peristiwa G30S pun selalu diputar setiap tanggal 30 September, yang membuat masyarakat mengingat kembali akan pertistiwa kelam tersebut dan semakin mengganggap bahwa PKI (yang dianggap sebagai pelopor komunisme di Indonesia) sangat jahat dan brutal.

Orde Baru yang berlangsung selama 32 tahun tentu bukanlah waktu yang sebentar, 32 tahun sangat cukup untuk membentuk sebuah paradigma yang mengakar dalam setiap pemikiran masyarakat Indonesia.

Sampai saat ini pun, banyak masyarakat Indonesia yang masih menganggap bahwa komunisme adalah hal yang menakutkan dan tidak sejalan dengan NKRI dan Pancasila, meskipun banyak juga dari masyarakat yang mulai sadar akan fakta dan sejarah pemikiran mengenai komunisme hingga membuat kelompok studi mengenai isu tersebut.

Ketakutan akan komunisme dan hal-hal ‘kekirian’ merupakan warisan dari zaman Orde Baru yang mestinya sudah kita tinggalkan sejak Reformasi 1998. Bagi penulis, unfuk menganggulangi hal tersebut, perlu diadakan pendidikan mengenai berbagai pemikiran dan filsafat sehingga membuat masyarakat menjadi lebih bijak dan kritis, tidak menerima dogma dan ideologi secara mentah. Karena akar dari pemikiran bersumber dari pendidikan yang telah diperolehnya, entah itu dari institusi keluarga, sekolah, dan sebagainya.