Roda kekar Boeing 747 baru saja beradu keras dengan landasan pacu. Berdecit lantang berpercik air. Hingga tak berputar lagi, berhenti sempurna. Baru saja Bandara Changi segar diguyur hujan. 

Rombongan berjaket lambang Garuda dan berbendera Merah Putih itu seolah ingin melompat. Tak sabar kali pertama injak bumi Singapura. Negara ciamik besutan persemakmuran Inggris berjuluk Lion City itu.

“Bel, what time is it now?” tanya Inez setengah menggigil dihajar AC pesawat.

Setengah pitu!” Sambil tergelak tanpa ditanya, Rio siswa berprestasi nan humoris itu menjawab dari belakang kepang kuda si Inez.

“Ehh gak tanya kamu Rio!”

“Lagian tanya orang yang lagi sibuk.”

Bella sibuk menurunkan bawaannya di bagasi kabin. Gegap gempita suasananya. Khas teenies, riuh dengan tentengan junkies kanan kiri. Yang formal menggantung di punggung. Tas itu bertulis sesanti mencolok, Tut Wuri Handayani.

Hari itu delegasi immersion program sebuah SMP ibu kota sedang berkunjung ke Springfield Secondary School Singapura.

Sampailah mereka pada pemeriksaan paspor. Siswa tertib berbaris tertib. Wajah-wajah petugas imigrasi tegang tanpa senyum. Khas petugas negeri yang katanya teraman di dunia itu. Singapura menempati level negara dengan zero criminals. 

“Muhammad Rio Hamdani, you go to security room!” kata seorang petugas imigrasi.

Tanpa banyak bicara Rio menuju ruangan yang ditunjuk petugas tadi. Bersama lima siswa lainnya yang terkena screening imigrasi juga. Sesuai prosedur, harus dihadapi sendiri, tanpa guru pembimbing.

“Rio kenapa tadi?” tanya guru pembimbing.

“Nama paspor ada Muhammad-nya,” jawab Rio tenang.

Memang saat itu lagi ketat pemeriksaan yang berbau Muhammad dan berjenggot. Singapura tak tebang pilih. Pun bagi duta-duta pendidikan. Keteguhan para siswa mengingatkan peristiwa heroik pahlawan nasional kita. Saat mereka berhasil tembus ketatnya Singapura di masa konfrontasi. 

Setelah semua urusan selesai, sebuah bus super high deck membawa mereka ke Springfield Secondary School. Sepanjang jalan dilihatnya gedung pencakar langit yang menjulang. Mobil mewah pamerkan dapur pacunya. Tak tampak kubah megah masjid. Pun konstruksi katedral yang menjulang. Semua dipangkas demi sekularitas.

Lamat-lamat terdengar siswa menyanyikan lagu kebangsaan sepanjang perjalanan. Seolah melawan psywar metropolitan yang merenggut kebangsaan mereka. Saat melewati bilangan Marina Square, terlihatlah patung singa Merlion. Ikon kebanggaan Singapura.

“Singanya mana?” canda si Bella.

“Sepertinya itu toponimi yang kurang tepat,” jawab Rio.

“Maksudnya?”

“Mana ada singa di Temasek. Mungkin yang dimaksud adalah harimau Malaya.”

Studi sejarah memang membuktikan bahwa kemungkinan tidak pernah ada singa di pulau itu. Makhluk yang dilihat oleh Sang Nila Utama, si pendiri dan pemberi nama Singapura itu bisa jadi seekor harimau Malaya.

“Kalau Indonesia?”

“Istilah geografis murni, pulau-pulau Hindia atau kepulauan Hindia." 

“Bagimu negeri, jiwa raga kami…..”

Lirik terakhir membahana saat bus memasuki halaman Springfield Secondary School. Sebuah sekolah favorit yang berdiri megah di bilangan elit Tampines Avenue itu. Guru dan siswanya sudah berbaris rapi. Deretan multiras, India, Cina, Melayu dan beberapa wajah bule menghiasi barisan rapi itu.

“Indonesian national anthem!” Seruan protokoler membisukan suasana. Berkumandanglah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Khidmat dinyanyikan paduan suara siswa-siswi Springfield Secondary School. Rio, Inez, Bella dan teman-teman lainnya tak kuasa membendung air mata. 

Jiwa nasionalisme membuncah di dada. Perlahan namun pasti sang Saka Merah Putih merayap menuju titik akhir ketinggian tiang bendera itu. Berkibarlah sang Saka Merah Putih dengan gagahnya.

“Rio, siap debate contest besok?” tanya Inez.

“Siap!”

Mereka sedang santai di bilangan Orchard Road. Kawasan metropolit bernilai sejarah bagi kedua bangsa. Pernah terjadi peristiwa besar di tahun 1965.

“Kisahkan pahlawan kita dengan bangga!” seru Bella memberi dukungan penuh.

“Terima kasih Bella.”

Rio besok tampil dihadapan siswa-siswi persemakmuran sebagai wakil delegasi Indonesia untuk debat kelompok sejarah bangsa-bangsa ASEAN. Kunjungan kali ini penuh dengan lomba-lomba akademik. Untuk sementara Singapura berimbang poin dengan Indonesia. Besok adalah hari penentuan!

Tiga meja juri tampak rapi berhias bunga mawar putih. Berhadapan dengan dua meja kontestan yang minimalis. Satu meja bertuliskan Muhammad Rio Hamdani-Indonesia. Berseberangan dengan meja yang bertulis Chen Yulian-Singapura. Tepuk tangan penonton menggema memberikan sambutan hangat. 

Kronologi sejarah-sejarah perjuangan bangsa-bangsa ASEAN satu persatu mengalir dari kedua kontestan. Rio fasih dengan gaya British English-nya. Lidah Indonesia memanglah cocok untuk berartikulasi bahasa manapun. Sementara Chen Yulian khas dengan Singlish-nya. Gaya penuturan bahasa Inggris khas Singapura yang berlogat Cina.

Sampailah mereka pada topik sejarah konfrontasi yang terjadi di tahun 1965.

Every country has heroes. Most times, those heroes are heroes because they fought some foreign power. Usman is our hero and Harun is too,” ucap Rio.

No!” sangkal si Chen Yulian.

Suasana tegang. Tak disangka debate contest mengarah ke hal sensitif.

“George Washington, Mohandas Karamchand Gandhi, Jose Rizal, Genghis Khan are as same as Usman dan Harun,” terang si Rio mempertahankan fakta.

No!”

Why?”

It was terror! They launched bombing in Orchard Road!” seru Chen Yulian.

They are absolutely heroes!” Suara Rio menggema. Beberapa menit kemudian mereka terus mempertahankan pendapat masing-masing.

Akhirnya moderator menghentikan debat. Time keeper mematikan waktu. Tim juri mulai turun tangan. Perhitungan nilai segera diumumkan. Rio dan Chan berdiri dan saling berpandangan tajam. Di dada mereka penuh dengan rasa kebangsaan dan nasionalisme masing-masing. Seolah hari itu mereka berdiri di garis depan pertempuran sebagi patriot bangsa.

The winner is Chen Yulian!” Keputusan juri membuat sedikit kegaduhan. Namun penonton tetap terkendali. Malah mulai terdengar mengalunkan lagu Indonesia Raya. Tak disangka, siswa-siswi Springfield Secondary School turut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia itu. 

Tampaknya wawasan luas mereka telah menerima Usman dan Harun sebagai pahlawan Indonesia. Sebagaimana dulu Perdana Menterinya, Lee Kuan Yew saat melakukan kunjungan kenegaraan. Sang Perdana Menteri menyempatkan diri menaburkan bunga di makam Usman dan Harun di Kalibata.

Sebulan kemudian giliran siswa-siswi Springfield Secondary School Singapura berkunjung ke Indonesia. Mereka diajak berkeliling menikmati panorama pedesaan yang tidak pernah mereka nikmati di negaranya. Tentang kerbau, sawah, sungai jernih yang mengalir, ladang-ladang yang luas, dan keakraban suasananya.

This is our country. We defend from all agressors!” ucap Rio sambil merangkul Chen Yulian yang menjadi ketua rombongan delegasi Singapura itu.

So beautiful,” balas Chen Yulian sambil berkaca-kaca. Siswa-siswi Singapura itu pun diberi kehormatan menaiki KRI Usman-Harun menuju pulau Batam. Kemudian dilanjutkan dengan kapal ferry untuk pulang ke negaranya. Tampak dari kejauhan mereka melambaikan bendera Merah Putih sebagai tanda perpisahan.