Penikmat kopi
1 tahun lalu · 346 view · 4 min baca · Politik 21428_28380.jpg
Dok. Pribadi: Warkop (Gerobak Arabica) nobar film G30S/PKI

Orba dan PKI Bangkit Bersama

Kekalahan PKI (Partai Komunis Indonesia) dalam politik tahun 1965 menandai babak baru perpolitikan di Indonesia. Peristiwa penculikan para Jenderal dan penumpasan anggota serta simpatisan PKI menjadi kisah berdarah. Sejarah berdarah yang hingga kini masih jadi polemik tanpa kata sepakat.

Setelah PKI dibubarkan melalui Keputusan Presiden Nomor 1/3/1966, tepatnya 12 Maret 1966, lahirlah Orde Baru (Orba). Soeharto pada saat itu mengatasnamakan Presiden Soekarno mengeluarkan SK pembubaran PKI setelah ia menerima Supersemar. Keputusan yang kemudian dikuatkan dengan Ketetapan MPRS Nomor XXV/1966.

Secara politik, Soeharto sukses melakukan transisi kekuasaan bila tak ingin disebut kudeta. Tuduhan kudeta malah dialamatkan kepada PKI yang melakukan penculikan para Jenderal. Walaupun saling keterkaitan, akan tetapi kita harus melihat dua peristiwa secara objektif. Penculikan Jenderal dan Supersemar yang diikuti pembubaran PKI dan organ sayapnya serta pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap terlibat PKI.

Menjadi pertanyaan bersama, apakah penculikan para Jenderal merupakan upaya kudeta PKI? Bila iya, mengapa PKI tidak melanjutkan langkah strategis dan taktis setelah itu? Katakanlah PKI memang ingin kudeta, lalu menjadi pertanyaan besar hari ini, pantaskah pembantaian terhadap anggota PKI dan simpatisannya dilakukan?

Logika sederhananya begini, bila sebuah parpol melakukan korupsi, apakah kemudian semua anggota parpol tersebut pantas mendapat hukuman? Mengapa 'dosa' segelintir orang menjadi dosa kolektif, bahkan hingga anak cucu? Nyaris di setiap penerimaan pegawai BUMN selalu ada surat keterangan tidak terlibat G30S/PKI dan bukan keturunan dari PKI maupun simpatisan.

Penurunan dosa atau menjatuhi hukuman kepada anak PKI tidak dikenal dalam agama yang diakui negara. Dalam kitab Ulangan (24:16) dikatakan, "Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri." Islam menegaskan dalam Al-An'am:164, “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”

Dua agama terbesar di Indonesia dengan jelas tidak mentolerir dosa turunan. Lalu Orba, terutama Soeharto sebagai simbol dan pelaksana, mengambil dalil mana? Sungguh tidak adil bila kesalahan orang tua dijadikan kesalahan anaknya. Sama halnya ideologi yang tidak bisa diwariskan, Megawati dan Soekarno misalnya.

Megawati memang anak biologis Soekarn. Akan tetapi, banyak pihak meragukan ia berideologi yang sama. Bukti nyata lainnya dapat kita temui ketika Megawati dan Rachmawati selalu berbeda pandangan. Itu artinya ideologi mustahil diwariskan tanpa pencarian.

Dalam Islam dan agama-agama lain pun demikian. Sebuah agama boleh saja diwariskan, namun belum tentu penerima warisan akan seperti yang mewariskan. Begitu halnya dengan sebuah ideologi.

Orde Baru memang sukses menanamkan propaganda kebencian kepada PKI. Sayangnya, anak-cucu anggota PKI dan simpatisan mendapat imbas dari leluhur mereka. Orba memutuskan anggota PKI dan keturunannya tidak memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya.

Reformasi (1998) merupakan momen di mana Orba sebagai sebuah rezim tumbang oleh kekuatan rakyat. Rakyat yang selama 32 tahun berada dalam otoritarian melawan dan menang. Mahasiswa menjadi motor penggerak perlawanan terhadap rezim Soeharto.

Pandangan terhadap Orba tiba-tiba berubah. Kini, muncul kebencian terhadap PKI dan keturunannya. Apakah ini berarti Orba bangkit dengan pesan PKI telah bangkit?

Setiap rezim memiliki musuh untuk dibenci. Tujuan utamanya agar rezim tidak dikritisi. Apakah Jokowi dengan Panglima sedang memainkan isu itu? Menjawab pertanyaan itu butuh pendalaman agar tidak terjebak pada subjektifitas. 

Pertama sekali, kita buka lembaran sejarah bangsa ini. PKI dan TNI, terutama Angkatan Darat, memang musuh bebuyutan. Musuh turunan sejak Orla hingga saat ini. Orba bahkan tidak memberi ruang sedikit pun pada PKI.

Soeharto yang berasal dari Angkatan Darat pastilah paham mengapa PKI harus dijadikan musuh selamanya. Soeharto mengharuskan anak-cucu PKI menjadi enemy of state. Taktik ini sukses, sama halnya taktik terhadap GAM di Aceh yang akhirnya rakyat tak berdosa menjadi korban militer.

Kedua, Jokowi memang membutuhkan musuh untuk rezimnya guna mengamankan posisinya. Jokowi sudah gagal menjadikan bangsa besar ini sebagai adidaya, malah hutang terus bertambah. Isu kebangkitan PKI setidaknya mampu menutupi kegagalan rezim hari ini. Bermodalkan buku bacaan Orde Baru, semua komponen bangsa bicara soal PKI.

PKI menjadi antagonis, sementara kapitalisme yang menjerat negara malah bebas. Kalau kita kaji lebih dalam, akan kita temukan sebab munculnya paham komunis. Salah satu sebab utamanya ialah kapitalisme, ketika pemilik modal menjajah kaum proletar. Itu artinya, memberi ruang kepada kapitalisme, dengan sendirinya melahirkan komunisme.

Komunisme tidak akan tumbuh bila rezim hari ini mampu melaksanakan Pancasila dengan benar. Keberpihakan Jokowi pada kapitalisme akan menciptakan jurang tajam antara kaya dan miskin. Membangun gedung tanpa diikuti pembangunan kualitas sumber daya manusia. Anehnya, rakyat malah harus hengkang dari negerinya sendiri. 

Ketiga, konsep NASAKOM Soekarno runtuh ketika Orba mengendalikan kekuasaan. Komunis dianggap bertentangan dengan Pancasila.

Aneh memang ketika Soekarno sebagai penggagas Pancasila menganggap komunis tidak bertentangan dengan Pancasila. Hal itu membuktikan bahwa Soekarno dan Soeharto memiliki pemahaman berbeda mengenai Pancasila.

Keempat, Orba dan PKI sebagai rival dalam sejarah sempat menyerahkan kekuasaan kepada generasi reformasi. Kini, keduanya ternyata telah muncul, setidaknya salah satu dari keduanya. Apakah Orba atau PKI, yang pasti rezim saat ini mengendus kebangkitan PKI. Itu berarti bahwa salah satunya telah kembali.

Bila PKI nyata bangkit, maka bukan tidak mungkin Orba pun bangkit, Orba yang selalu didukung ABRI pada saat itu. Lalu, siapakah yang akan menjadi korban sejarah dan siapa pula yang akan menjadi pahlawan sejarah? Kisah ini masih berlangsung. Yang pasti segala isu akan bermanfaat di tahun politik.

PKI bangkit karena Orba bangkit, atau Orba bangkit dengan propaganda PKI bangkit. Pilihan cerdas ada pada kita semua: ikut Orba, PKI, atau menyingkirkan keduanya seperti 1998.

Artikel Terkait