2 tahun lalu · 285 view · 7 min baca menit baca · Lingkungan 52264.jpg
https://www.pexels.com/photo/orangutan-28487/

Orangutan Mengetuk Nurani, Hewan-Hewan Lain di Hutan Mengantri untuk Mati

Sebentar lagi mereka “berulang tahun”. Tepatnya tanggal 19 Agustus. Tanggal yang ditetapkan sebagai Hari Orangutan Sedunia.

Apa kado untuknya?

Gembirakah hatinya?

Saya yakin belum. Mereka bahkan tak tahu harus tinggal di mana atau apa yang akan menimpanya. Mereka, orangutan-orangutan itu, bersedih sepanjang waktu.

Masih hangat dalam ingatan kebakaran hebat di hutan Indonesia tahun lalu. Beberapa orangutan dikabarkan tewas terpanggang, sementara lainnya berusaha menyelamatkan diri ke pemukiman penduduk. Naas, nyawanya tetap terancam. Seekor orangutan betina yang kurus karena lapar terus mendekap erat bayinya. Dia yang sudah K.O dihajar penduduk berusaha keras melindungi orangutan mungil dalam dekapannya. Padahal, mereka hanya ingin menyelamatkan diri dari kebakaran sekaligus mencari makan. Tragis nian nasibnya.

Orangutan betina dan bayinya

Jiwa melindungi dari ibu orangutan memang sudah dikenal luas. Itu sebabnya jika mengincar bayinya, ibunya biasanya dibunuh. Pemburu lebih menyukai bayi di bawah 3 tahun karena harga jualnya lebih mahal. Peminatnya sangat banyak. Mereka umumnya diburu dan diperdagangkan karena dianggap lucu dan meningkatkan gengsi pemiliknya. Dijual dalam keadaan hidup atau mati. Bahkan, ada pula orangutan yang dipekerjakan sebagai PSK.

Januari lalu, kabar memilukan lain kembali terdengar. Tragedi tahunan. Di Kalimantan Tengah, didapati seekor orangutan dibunuh dan dimasak. Umumnya, hal itu disebabkan karena orangutan memasuki areal perkebunan dan merusak tanaman. Mereka dibunuh karena dianggap hama. Tetapi, tahukah Anda, untuk melumpuhkan 1 orangutan saja dibutuhkan puluhan hingga ratusan peluru. Kalaupun tak mati, mereka berpotensi untuk mengalami kecacatan. Bayangkan, betapa pedih kehidupannya!

Tinggal di mana dan Makan Apa?

Perkembangan pesat industri kayu, pulp, kertas, sawit, dan tambang membuat hutan tropis Indonesia sebagai habitat orangutan menyusut drastis. Konversi hutan, baik secara legal maupun ilegal adalah penyebabnya. Sejalan dengan itu, sejak awal 1970-an hingga sekarang, populasi orangutan Kalimantan pun ikut menyusut hingga dua pertiganya.

Perkebunan kelapa sawit

Memang, prestasi Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit naik menjadi nomer 1 dunia. Akan tetapi, hal itu harus dibayar mahal dengan rusaknya hutan-hutan di sini. Biasanya cara yang dipakai adalah melalui pembakaran. Selain itu, meningkatnya permintaan global akan minyak kelapa sawit, juga telah mendorong meningkatnya aktivitas penebangan hutan.

Di sisi lain, kerusakan hutan juga bisa diakibatkan oleh ulah masyarakat. Masih ada di antara mereka yang membakar hutan untuk mempersiapkan lahan pertanian atau perkebunan.

Di sini, orangutan menjadi salah satu korbannya. Penebangan hutan untuk perkebunan dan pemukiman serta pembalakan liar merupakan ancaman serius bagi hilangnya habitat alami mereka dengan cepat. Orangutan yang kelaparan karena pohon sumber makanannya habis kemudian akan berkeliaran di kebun sawit dan memakan tunas-tunas kecil. Hal ini menyebabkan mereka dianggap sebagai hama sawit.

Manusia sebagai Ancaman Terbesar bagi Orangutan

Deforestasi hutan

Manusia memang merupakan ancaman terbesar bagi orangutan. Meskipun orangutan juga terancam oleh badai El Nino, kekeringan, maupun keberadaan predator, tetapi manusialah predator utamanya. Sebenarnya, sudah ada berbagai hukum yang mengatur tentang segala yang terkait dengan orangutan ini. Akan tetapi, entah mengapa hukum Indonesia, Malaysia dan hukum internasional tersebut seolah-olah kurang berfungsi. Diperkirakan sekitar 4000-5000 orangutan tetap hilang setiap tahunnya. Dibandingkan dengan ancaman dari predator-predator lain seperti macan tutul, babi, buaya, ular piton, dan elang hitam; berkurangnya jumlah orangutan lebih disebabkan karena manusia.

Kerusakan Hutan dan Lambatnya Reproduksi Orangutan 

Kebakaran hutan

Hutan merupakan habitat dari berbagai binatang, termasuk orangutan. Namun sayang, penurunan jumlah hutan tropis di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, penurunan yang terjadi sekitar 700.000 hektar per tahun. Penebangan liar, kebakaran hutan, pembukaan lahan gambut, dan alih fungsi lahan menjadi areal perkebunan menyebabkan hilangnya habitat dan sulitnya populasi satwa yang dilindungi untuk berkembangbiak. Meski beberapa orangutan berhasil diselamatkan, tetapi hutan yang layak untuk pelepasliaran sudah semakin sedikit. Dikhawatirkan suatu saat nanti keberadaan habitat baru sudah tidak ada lagi.

Kenyataan ini diperburuk dengan lambatnya perkembangbiakan dari orangutan. Mereka hanya melahirkan seekor setiap 7-8 tahun sekali, dan hanya maksimal 4-5 anak di sepanjang hidupnya. Masa kehamilannya pun lama, yaitu sekitar 9 bulan.

Hingga 6-7 tahun pertama kelahirannya, bayi orangutan sangat tergantung pada ibunya. Jika ibunya mati atau dipisahkan darinya, maka bayi tadi akan dirawat di pusat rehabilitasi bersama dengan orangutan-orangutan lain yang sakit, terluka, atau cacat (misalnya akibat ditembak pemburu/warga). Menurut catatan dari pegiat lingkungan, di sepanjang 2004-2016, ditemukan sebanyak 23 kasus penembakan orangutan yang membuatnya cacat bahkan mati.

Kebanyakan dari orangutan liar dijumpai di luar kawasan konservasi, terutama di kawasan hutan produksi yang dikelola oleh HPH/HTI dan/atau hutan lindung. Sebaran orangutan terkadang tumpang-tindih dengan perkebunan sawit. Jika ingin menemukannya carilah di hutan produksi, hutan lindung, area penggunaan lain, atau hutan produksi terbatas.

Pada hukum internasional, orangutan masuk dalam Appendix I dari daftar CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) yang melarang dilakukannya perdagangan karena mengingat status konservasi dari spesies ini di alam bebas. Diperkirakan orangutan akan menjadi spesies kera besar pertama yang punah di alam liar. Itu karena selain habitatnya sudah banyak yang rusak mereka juga berkembangbiak secara lambat.

Peran Penting Orangutan bagi Ekosistem Hutan

Hutan di Kalimantan

Orangutan memiliki tingkat kesamaan DNA dengan manusia sebesar 96.4%. Dianggap berkerabat dekat dengan manusia tak membuat serta merta semua manusia merasakan penderitaannya. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan orangutan Kalimantan (Borneo) (Pongo pygmaeus) kini sama-sama terancam punah. Berdasarkan status yang dilabelkan oleh Lembaga Konservasi Satwa Internasional (IUCN), keberadaan keduanya kini sudah kritis (critically endangered).

Hewan endemik yang hanya ada di Indonesia dan sebagian Malaysia ini selangkah lagi mungkin hanya tinggal kenangan. Itu jika kita mengambil langkah yang tidak tepat dalam mengatasi permasalahan yang terkait dengannya. Dalam 60 tahun terakhir, IUCN memperkirakan, lebih dari 50 persen populasi orang utan di Kalimantan (Borneo) telah menurun. Padahal, 85 persen dari jumlah orangutan di dunia hidup di sana.

Orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi. Keberadaannya menjadi indikator dari kelestarian hutan di Indonesia dan keselamatan satwa lain di dalamnya. Hilangnya mereka mencerminkan hilangnya ratusan spesies tumbuhan dan hewan pada ekosistem hutan hujan.

Hasil penelitian dari Pusat Riset Primata Universitas Nasional (Unas) bersama dengan Fakultas Biologi Universitas Nasional, beberapa universitas dalam dan luar negeri serta LSM lokal menunjukkan bahwa kebakaran hutan 2015 merupakan kebakaran yang terburuk. Kebakaran tersebut menurunkan produksi buah dengan tajam sepanjang tahun, dan dalam jangka panjang. Orangutan, sebagai salah satu satwa terdampak, berusaha beradaptasi darinya dengan memakan pakan alternatif (umumnya daun dan kambium kayu). Selain itu, mereka juga memakan serangga, rayap, dan ulat. Jadi, pakan tetap tersedia meskipun jumlahnya terbatas.

Orangutan membantu pemencaran biji

Sementara itu, sampai pada tingkat kerusakan tertentu hutan bisa memulihkan dirinya sendiri. Adapun orangutan bisa mempercepat pemulihan hutan tadi melalui penyebaran biji dari buah yang dimakannya. Apalagi jika mereka makan sambil jalan, pemencaran biji bisa mencapai tempat yang jauh. Contohnya pemulihan hutan oleh orangutan terdapat di Tuanan. Berkat bantuan dari orangutan, hutan itu kembali lebat dalam waktu 10 tahun.

Selain berperan dalam menyebarkan biji-bijian, orangutan juga membantu dalam membuka kanopi. Ketika tidur atau berayun dari satu pohon ke pohon lain, mereka membengkokkan atau mematahkan banyak ranting. Hal itu membuat sinar matahari bisa masuk ke hutan. Masuknya sinar matahari membantu tumbuhan-tumbuhan di dalam hutan untuk berfotosintesis. Mereka membutuhkannya agar bisa tumbuh dengan baik sehingga hutan bisa berfungsi sebagaimana mestinya. 

Hewan-hewan hutan lain, baik herbivora, karnivora, atau lainnya juga bisa hidup dengan baik. Tata air terkelola dengan baik. Oksigen yang dihasilkan pun berlimpah. Selain itu, hutan juga bisa menyerap karbon untuk mengatur iklim global. Dengan kata lain, keberadaan orangutan berperan penting bagi kelangsungan hidup hutan beserta flora dan fauna yang ada di dalamnya.

Orangutan membantu membuka kanopi

Manusia juga sangat bergantung pada hutan. Hutan bisa menyediakan makanan, air bersih, udara bersih, obat-obatan, sumber ilmu pengetahuan, rekreasi, serta sumber penghidupan lain bagi dirinya.

Mungkin tak banyak yang tahu peran penting orangutan bagi ekosistem hutan. Namun, karena tingkat ancamannya sudah serius semua pihak dituntut untuk ikut berperan aktif di dalamnya. Pelestarian orangutan sangat perlu dilakukan karena berbagai ancaman terhadap kehidupan dan habitatnya semakin meningkat. Memang benar jika orangutan Kalimantan dapat menyesuaikan diri dengan baik di bentang alam yang ditebangi kayunya secara bertanggung jawab. 

Akan tetapi, kecepatan kerusakan hutan seringkali lebih tinggi daripada kecepatan pemulihannya. Orangutan dan hutan yang ditempatinya kini sudah sama-sama kritis. Jika orangutan tidak diselamatkan, satwa-satwa lain di hutan itu bisa terpengaruh, bisa ikut punah bersamanya. Itulah mengapa orangutan juga sering disebut sebagai Satwa Payung. Artinya, satwa yang memayungi atau melindungi satwa lain.

Mari berpacu dengan waktu! Selamatkan orangutan demi selamatnya fauna Indonesia!


Referensi:

http://www.gedepangrango.org/satwa-primata-indonesia-dan-perubahan-iklim-global/

http://www.dw.com/id/komisi-iv-dpr-pekerja-hutan-sawit-menembak-dan-memasak-orangutan/a-37547406

https://news.detik.com/berita/d-3447217/hutan-jadi-industri-perkebunan-orangutan-pun-dianggap-hama

http://www.mongabay.co.id/2017/03/22/penting-untuk-hutan-keberadaan-orangutan-layak-kita-perhatikan/

http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/apa-penyebab-orangutan-dan-satwa-lainnya-sangat-terancam-di-habitat_58abc846ba93736b045474cc

http://www.mongabay.co.id/2015/07/08/orangutan-bukan-mainan-hentikan-eksploitasi-orangutan/

https://id.wikipedia.org/wiki/Orang_utan

https://news.detik.com/berita/d-3446452/apa-fungsi-orangutan-dalam-ekosistem-hutan

http://www.nature.or.id/ruang-media/berita-terbaru/laman-anyar-untuk-kampanye-global-penyelamatan-orangutan.xml

http://www.kompasiana.com/pit_kanisius/peranan-penting-orangutan-dan-hutan-bagi-kehidupan-ini-alasannya_58886e37907a619c13ed7fb3

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/10/151006_majalah_lingkungan_satwaasap

http://www.reesays.com/selamatkan-orangutan-dengan-pintar-memilih-produk/

http://teropong-bertaring.blogspot.co.id/2009/03/orangutan-untuk-kemaslahatan-manusia.html

Artikel Terkait