Karyawan
2 tahun lalu · 52 view · 8 menit baca · Lingkungan 58045.jpg
Kevin Lamarque

Lestarikan atau Akan Menjadi Cerita Belaka

"AKU" Bagian dari Kalian

Ini adalah cerita dari “aku” yang senantiasa bergelantungan didalam hutan ku dan membesarkan anak-anak ku untuk mewarisakan semua yang aku punya kepada mereka. Mungkin “aku” bukanlah bagian dari kalian yang senantiasa memanfaatkan alam untuk kepentingan sendiri tanpa berfikir bahwa “aku” dan kawan-kawan ku hidup berdampingan dengan kalian.

Demi uang kalian rela menutup mata hati dengan memalingkan wajah  terhadap kehidupan ku dan teman-temanku. Cerita ini tentang “aku” yang kalian lindungi tapi kalian khianati.

Kalian merupakan mahluk hidup yang sangat sempurna dimana kalian memiliki akal untuk membedakan mana yang baik dan benar. Namun kepintaran tersebut tidak lagi dapat kalian gunakan dan di lupakan demi hasrat dunia yang dikejar. Di saat kalian mulai terlelap dengan kesenangan, aku bersama teman-teman ku mulai khawatir untuk melanjutkan kehidupan kami di masa yang akan datang.

Rumah kami kalian pangkas sedikit demi sedikit dengan kalimat tipuan akan mengganti menjadi lebih baik namun yang terjadi kalian malah melupakan kami setelah mendapatkan apa yang kalian inginkan.

Disaat kalian mulai merasakan ketidak seimbangan alam tidak teraturnya iklim dan penuhnya kabut asap disekitar, pernahkah kalian berfikir terhadap kami yang juga merasakan dampaknya terlebih dahulu. Aku dan teman-temanku berteriak sekencang-kencangnya “tolong kami, kami kepanasan” apakah kalian mendengar jeritan kesakitan kami disaat kami mulai berlari untuk menyelamatkan diri kami menyelamatkan keturunan kami namun buntu dan tidak menemukan jalan keluar.

Kami pasrah melihat api yang memakan kami secara perlahan dan hanya menyisakan tulang belulang kami. Apakah kalian merasakan yang kami rasakan? Kalian hanya bisa menunjuk dan menyalahkan sesama kalian tanpa adanya tindakan perubahan menjadi lebih baik. Kami hanya pasrah kepada Tuhan yang menciptakan kami disaat kami mulai terhimpit dengan gaya hidup kalian.

Tidak ada dendam diantara kami yang selamat, tidak ada perasaan sakit hati dan kemauan ingin membalas kepada kalian dengan apa yang terjadi dengan kami. Perhatiakan lah kami karena kami adalah bagian dari kalian.

Sepenggal cerita diatas mungkin belum bisa mewakili perasaan Orang Utan dan Fauna lainnya yang mengalami hal serupa. Miris melihat kejadian yang memilukan tersebut, kita ambil sedikit berita yang ada di CNN News yang diterbitkan pada tahun 2014 dimana artikel tersebut berjudul tentang Orang Utan terbakar hidup-hidup di Kalimantan Barat.

Didalam artikel tersebut berisi tentang fakta yang terjadi setelah terjadinya kebakaran hutan yaitu ditemukannya sisa tulang belulang diantara abu sisa kebakaran hutan. Berita utamanya adalah Kebakaran hutan dan perubahan vegetasi seperti kebun kelapa sawit diduga telah menjadi penyebab utama turunnya populasi Orangutan di Kalimantan. Data dari YIARI menunjukkan populasi Orangutan Kalimantan telah menurun sebanyak 50 persen dalam 60 tahun terakhir.

Inilah yang terjadi di Kalimantan bahkan Indonesia. Populasi orang utan yang kian menurun akibat kelalaian manusia itu sendiri yang setelah kejadian tidak ingin disalahkan dan selalu beragumen bahwa mereka benar. Itulah Indonesia Negeri Indah yang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kembali kefokus utama dalam tulisan ini, sebenarnya Pemerintah Indonesia sudah berusaha untuk menanggulangi hal tersebut terjadi dengan cara mengeluarkan peraturan yang mengatur segela sesuatu yang berhubungan tentang flora dan fauna dan termasuk orang hutan didalamnya. Mari kita pelajari lebih dalam lagi ya, dilansir dari berbagai sumber yang beredar terdapat beberapa peraturan mengenai hal tersebut diantaranya adalah :

  • UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
  • PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
  • PP No. 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
  • Permenhut No. P.53/Menhut-IV/2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Tahun 2007-2017.
  • Permenhut No. P.01/Menhut-II/2007 tentang Perubahan Permenhut No. P.53/Menhut-II/2006 tentang Lembaga Konservasi.
  • Peraturan Menteri Kehutanan No. P.48/Menhut-II/2008  tentang  Pedoman Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar (Harimau, Gajah, dan Orangutan).

Dengan melihat peraturan tersebut seharusnya Pemerintah Indonesia bisa mencegah dan tetap dapat menjaga kelangsungan hidup flora dan fauna di Indonesia. Peraturan yang ditulis dari tahun 1990 sampai 2008 sebenarnya sudah cukup untuk menghindari kelangkaan flora dan fauna yang diakibatkan oleh manusia itu sendiri. Mirisnya yang terjadi adalah keberadaan mereka malah semakin terancam dan semakin berkurang.

Mari lihat fakta yang terjadi di Indonesia dilansir dari artikel kompasiana.com pada tahun 2016, IUCN menerbitkan daftar baru yang sangat memprihatinkan yaitu Orang Utan Kalimantan masuk dalam daftar sangat terancam punah. IUCN atau kepanjangan dari International Union for Conservation of Nature and Natural Resources adalah sebuah organisai yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam.

Setiap tahunnya IUCN menerbitkan daftar fauna yang terancam punah salah satunya Orang Utan tersebut. Prediksi dari IUCN sampai tahun 2025 populasi Orang Utan akan berkurang sebanyak 85 % yang disebabkan oleh berbagai macam kegiatan diantaranya illegal loging, pembukaan lahan pertanian dan perkebunan baru serta pemburuan terhadap hewan tersebut.

Hal yang paling buruk lagi Orang utan memerlukan waktu sekitar 6 sampai 8 tahun untuk berkembang biak. Melihat kondisi tersebut seharusanya pemerintah Indonesia harus mengambil tindakan tegas apabila mereka menginginkan pembangunan yang bersinergi dengan lingkungan. Apabila hal itu tidak disegera dilakukan mungkin nasib Orang Utan akan sama dengan Badak Afrika yang tersisa hanya 1 dan terus diawasi oleh petugas konservasi. Stop…, jangan bertindak setelah itu terjadi. 

Perlindungan terhadap flora dan fauna di Indonesia seharusnya telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan mengikuti peraturan yang telah disahkan oleh Pemerintah itu sendiri. Yang kurang dari Pemerintah itu sendiri adalah pengawasan dan tindak lanjut dari peraturan tersebut. Dengan tulisan ini mudah-mudahan dapat menjadi masukan bagi pemerintah Indonesia dalam menyelematkan Orang Utan dan Fauna di Indonesia. Penulis menjabarkan hal yang perlu dilakukan untuk penanganan Orang Utan di Indonesia.

  • Perlunya pengawasan peraturan yang berlaku

Peraturan yang ada di Indonesia telah cukup untuk mencegah terjadinya musnahnya fauna di Indonesia namun yang terjadi peraturan tersebut mungkin hanya berupa cover yang menunjukan bahwa Pemerintah juga peduli dengan lingkungan. Sebenarnya dilihat dari fakta tersebut sudah mendekati praduga tersebut. Kurang nya pengawasan terhadap peraturan yang berlaku merupakan factor terjadinya hal yang sangat tidak diinginkan.

Sebagai contoh sebuah industry besar mengeluarkan Dokumen Lingkungan untuk menekan kerusakan yang ditimbulkan. Dokumen tersebut seharusnya bisa direalisasikan oleh Industri tersebut. Kenyataan yang terjadi Industri tersebut hanya melakukan sebagian dari saran yang ada di Dokumen Lingkungan tersebut. Mereka cenderung tidak melakukan hal tersebut di lokasi yang tidak dapat dilihat oleh pengawasan.

Dan buruknya lagi Industri yang memiliki dokumen tersebut tidak melakukan yang telah dianjurkan dalam artian hanya pada saat pengawasan nanti barulah mereka melakukan yang ada dalam dokumen tersebut. Hal ini tidak dapat terjadi apabila pengawasan dilakukan secara menyeluruh dan tidak sebagian.

  • Memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang Fauna yang ada disekitar mereka.

Pada point ini Pemerintah melalui badan yang berhubungan langsung dengan masyarakat seharusnya gencar melakukan orasi tentang keberadaan Orang Utan yang hampir punah ini. Kenapa harus masyarakat? Selain industry yang berdampak langsung dengan lingkungan, masyarakat juga menjadi target pemerintah. Belakangan beredar kabar, beberapa masyarakat malah menjadikan Orang Utan sebagai buruan.

Hal ini terjadi karena kurangnya informasi terhadap masyarakat khususnya yang berhubungan langsun dengan Orang Utan. Minimnya informasi yang bertajuk tentang Kepunahan Orang Utan membuat masyarakat masih memburu Orang Utan tersebut untuk dijadikan makanan mereka. Masyarakat seperti ini harusnya diberikan pengetahuan tentang keberadaan Flora dan Fauna disekitar mereka yang tidak boleh diburu dan harus dilestarikan dan memberikan pengetahuan terhadap sanksi yang terjadi apabila mereka melakukan pemburuan Orang Utan.

Apabila sosisaliasi ini gencar dilakukan pemburuan Orang Utan akan berkurang dan masyarakat yang seharusnya memiliki akal dan pikiran bisa menghindari perburuan tersebut sehingga nantinya anak cucunya dapat melihar keberadaan Orang Utan dilingkungan mereka dan bukan mendengar cerita Orang Utan menjadi cerita daerah yang telah punah.

  • Mulai mendata keberadaan fauna dan flora yang berada disekitar lokasi Industri.

Point ketiga ini yang sangat harus dilakukan agar pengawasan terhadap tindakan illegal yang membahayakan Orang Utan dapat berlangsung dengan efektif dan benar. Pendataan akan dilakukan dengan memberikan zona-zona dengan menghitung keberadaan Orang Utan yang berada diarea tersebut.

Setelah dilakukan pendataan terhadap zona-zona tersebut layaknya sensus pengulangan penghitungan keberadaan Orang Utan tersebut harus dilakukan minimal 1 tahun sekali sehingga apabila terjadi pengurangan angka keberadaan Orang Utan, Pemerintah dengan mudahnya melakukan evaluasi dengan mengacu terhadap kegiatan apa saja yang ada disekitar zona tersebut sehingga dengan mudah menemukan hal-hal yang terjadi terhadap Orang Utan.

Evaluasi yang nantinya dilakukan akan berujung dengan penindakan pelaku-pelaku yang secara sengaja ketahuan melakukan tindakan illegal yang membahayakan keberadaan Orang Utan.

  • Memberikan hukuman ganti rugi yang sangat besar yang bisa dipergunakan untuk menggantikan Fauna yang hilang akibat kegiatan tersebut.

Point ke-empat ini merupakan salah satu solusi yang pas apabila terjadi tindakan criminal yang dilakukan secara sengaja oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab seperti perburuan Orang Utan dan Fauna lainnya. Berdasarkan undang-undang yang berlaku ganti rugi yang ada dengan membayar denda 100 juta rupiah dan hukuman kurungan.

Kalau menurut penulis denda ini sangatlah kecil karena masih bisa ditawar oleh pengacara mereka dan mungkin bisa lebih kecil lagi. Akhirnya ganti ruginya malah tidak sesuai dengan kerusakan yang ditimbulkan. Kalau bisa dinaikan dengan angka yang lebih besar dan hukuman kurungan yang lebih lama mungkin bisa memberikan efek jera terhadap para pelaku.

Hmmmm, mungkin uang ganti rugi tersebut bisa dijadikan untuk melakukan penelitian pengembang biakan Fauna yang hampir punah dengan teknologi lebih canggih jadi bisa dilakukan kembang biak tanpa adanya interaksi hubungan seksual yang terjadi.  Sehingga Fauna yang hampir punah tersebut dapat dikembang biakan secara genetika dan memperbanyak keberadaan mereka.

  • Hentikan Politik Uang

Dari ke-empat point yang telah dijabarkan point yang paling penting adalah point ke-lima ini yaitu menghentikan semua kegiatan yang berbau Politik Uang. Politik uang merupakan musuh terbesar pemerintah yang masih diberantas sampai saat ini. Nah, berhubungan dengan politik uang ini sering terjadi disekitar kita apalagi yang berhubungan dengan tanda tangan seseorang yang diperlukan untuk melanjutkan suatu kegiatan.

Sering juga terjadi saat pengurusan izin industry apabila sulit untuk mendapatkan izin tersebut sipemilik rela mengeluarkan segelintir uang untuk memudahkan keluarnya izin tersebut. Politik uang ini lah yang mengakibatkan kelalaian dalam penegakan hukum yang terjadi terkait permasalahan undang-undang yang dilanggar oleh oknum-oknum tersebut.

Kalau menurut penulis ini factor yang sangat besar terkait dengan konservasi Flora dan Fauna di Indonesia. Sepertinya hukum rimba yang terjadi yang terkuat bertahan dan yang lemah musnah. Sering kali juga terjadi kesalahan dalam memanfaatkan kekuasaan, demi segelintir uang pejabat-pejabat tertinggi rela hutan mereka dipangkasi dan dijadikan perkebunan padahal kondisi hutann di Indonesia sudah memprihatinkan.

Hutan yang merupakan habitat Flora dan Fauna langkah hilang yang disusul dengan pertikaian fauna dengan manusia yang berujung hilangnya fauna tersebut. Selama politik uang ini masih berlangsung di Indonesia maka segala sesuatu yang sudah diatur akan percuma dan sia-sia dalam perwujudannya.

5 point tersebut seharusnya sudah cukup dan harus dilakukan untuk menunjang kembali keberadan Orang Utan dan Fauna di Indonesia. Harapan terbesar dari penulis adalah terciptanya hubungan antara manusia dengan lingkungan yang lebih baik sehingga pembangunan dapat bersinergi dengan lingkungan dan keberadaan fauna yang langka seperti Orang Utan ini dapat dilestarikan dan dapat dinikmati oleh anak cucu kita dan bukan hanya sekedar cerita belaka.

Melalui tulisan ini penulis juga berharap Indonesia menjadi lebih baik dalam memperhatikan keberadaan Fauna Langkah dan menjalankan peraturan yang telah berlaku dan bukan hanya sekedar cover untuk menutup keburukan yang sedang berlangsung di negeri ini.

Artikel Terkait