"Kita harus ingat bahwa kehidupan di alam, tanpa teknologi, adalah kematian yang besar."

Begitulah kira-kira kalimat yang pernah disampaikan oleh Ayn Rand, seorang penulis dan filsuf berkebangsaan Rusia. Barangkali yang membuat Ayn berkata seperti demikian karena ia telah merasakan manfaat besar yang diberikan oleh teknologi dalam kehidupannya.

Ayn barang kali sudah merasakan dengan menggunakan teknologi biaya, energi dan waktunya jadi terasa lebih hemat. Karena itulah ia menempatkan teknologi di posisinya yang amat sentral dalam kehidupan ummat manusia. Sama seperti dengan kita yang juga merasakan berbagai macam manfaat yang disumbangkan teknologi.

Dengan teknologi kita jadi bisa berkomunikasi dengan mereka yang berjarak sangat jauh dari kita, kita juga bisa semakin memperluas lingkup pertemanan, informasi yang ingin kita dapatkan juga semakin lebih instan, dan seabrek manfaat lainnya.

Dengan fakta seperti demikian tak ayal jika kemudian hari ini kita bisa menyaksikan semakin membludaknya jumlah orang yang menggandrungi teknologi. Mulai dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, bahkan hingga lansia.

Dan, salah satu anak kandung teknologi yang mana peminatnya semakin terus mengalami peningkatan dari masa ke masa adalah apalagi kalau bukan internet.

Dikutip dari data yang dikeluarkan oleh Kemenkominfo disebutkan pengguna internet di Indonesia semakin mengalami perkembangan. Jika dilihat dalam bentuk angka jumlahnya akan mencapai kurang lebih sekitar 80-100 juta pengguna. 

Dan jika jumlah tersebut kita petak-petakan, maka akan didapatkan sebuah fakta bahwa pengguna internet yang paling banyak berasal dari kalangan remaja dan dewasa yang berusia rata-rata 15-40 tahun ke atas dengan persentase 90%. Sementara 10% pengguna internet lainnya berasal dari kalangan anak-anak dengan usia di bawah 15 tahun.

Dan untuk di kalangan anak-anak sendiri, Bambang Heru Tjahjono, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika mengatakan "Pengguna internet di kalangan anak-anak semakin mengalami pembengkakan."

Ucapannya itu pun seakan semakin menemui titik klimaksnya, khususnya di masa pandemi seperti saat ini. Peluang anak-anak untuk mengakrabkan diri dengan internet semakin terbuka sangat lebar. 

Seperti yang kita tahu, salah satu bentuk kebijakan yang diambil oleh pemerintah kita di masa pandemi ini adalah diberlakukannya proses belajar mengajar secara daring atau via online. Hal tersebut dilakukan semata sebagai upaya untuk memutus persebaran virus Corona.

Dan sebagai dampaknya, anak-anak pun dengan usia mereka yang masih sangat dini sudah harus bersentuhan dengan teknologi yang salah satunya berupa gawai. Sebab hanya dengan benda itulah sehingga mereka bisa mengikuti kegiatan proses belajar secara online.

Dari situlah keakraban anak-anak dengan internet bermula. Internet pun menjadi sesuatu yang tidak asing lagi bagi mereka. Jarak anak-anak dengan internet nyaris tak ada lagi. Mereka jadi lebih cepat mengenal istilah-istilah internet. Jari-jari mereka juga jadi lebih cepat pandai memainkan gawai, bahkan sampai-sampai mengungguli orang-orang dewasa. 

Dan secara perlahan, waktu bermain mereka di dunia luar jadi teralihkan ke dunia maya. Padahal jika merujuk pada pendapat sejumlah para ahli, memperkenalkan teknologi (dalam hal ini internet) sedini mungkin terhadap anak-anak tentu bukan sesuatu yang dapat didiamkan begitu saja. 

Sehingga hal inilah yang juga membuat para orang tua jadi merasa cemas dan bingung. Di satu sisi mereka sangat khawatir dengan nasib masa depan anak-anak mereka karena di usianya yang masih sangat dini sudah harus "berteman" dengan teknologi.

Sementara di sisi yang lainnya, demi keberlanjutan pendidikan yang ditempuh oleh sang anak, para orang tua mau tidak mau harus membuang jauh-jauh kekhawatiran mereka itu. Karena seperti yang sudah kita tahu pembelajaran yang diberlakukan oleh pemerintah saat ini bagi seluruh lembaga pendidikan adalah yang berbasis online di mana teknologi merupakan salah satu "pendukung" utamanya.

Dengan kata lain, selama para orang tua masih ingin tetap melihat anak-anak mereka bersekolah, maka membiarkan sang anak untuk bersentuhan dengan teknologi sekalipun di usianya yang masih sangat dini merupakan risiko yang harus mereka terima.

Para orang tua pun harus rela menyaksikan anak-anak mereka bermain-main dengan teknologi meski dengan penuh kecemasan. Mereka pun juga harus menyiapkan dana lebih buat anak-anak mereka bersekolah. Sebab bukan hanya buku, pulpen, tas dan seragam sekolah lagi yang anak-anak butuhkan, melainkan juga gawai yang memang bisa mendukung mereka untuk belajar lengkap dengan kuotanya yang tidak sedikit. 

Namun nampaknya guratan kecemasan yang sebelumnya bertengger di raut wajah para orang tua itu kini perlahan-lahan mulai redup sedikit demi sedikit. Mereka jadi senang melihat anak-anak mereka memainkan gawai. Mereka ikut tersenyum saat melihat anak-anak mereka riang gembira di depan layar gawainya. Mereka merasa dengan gawai anak-anak mereka jadi lebih aman karena tidak perlu harus ke luar rumah untuk bermain.

Hingga pada akhirnya mereka pun jadi memaklumi dan tidak merasa risau lagi. Bahkan mereka jadi yakin bahwa dengan membiarkan anak-anak mereka bersentuhan dengan teknologi sama halnya mereka telah membantu sang anak untuk meraih masa depannya yang cerah.

Namun miris, sebab tanpa mereka sadari sejatinya mereka telah menindas psikis anak-anak mereka sendiri. Orang tua yang merasa aman dengan membiarkan anak-anaknya akrab dengan teknologi secara tidak langsung telah "memasung" anak-anaknya.

Alih-alih akan membuat sang anak semakin cerdas, yang ada justru malah akan menjadikannya anti sosial, inklusif, dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar. Dengan segala kenyamanan yang ditawarkan oleh teknologi akan membuat anak-anak jadi terlena sehingga hanya akan sibuk menghabiskan waktu dengan teknologi.

Hasilnya, anak-anak jadi jauh dari lingkungan alam sekitar. Mereka pun jadi tidak punya waktu untuk bermain di alam terbuka atau berkontak langsung dengan alam karena semuanya telah mereka habiskan di dunia digital. 

Padahal hal yang demikian bukanlah perkara yang dapat dipandang sebelah mata. Sebab ada banyak dampak negatif bagi anak-anak yang kurang berinteraksi dengan alam. 

Dalam kacamata psikologi lingkungan disebutkan bahwa anak-anak yang kurang terbiasa bermain di lingkungan yang alami akan kurang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan, seperti kondisi cuaca yang tidak menentu. Akibatnya, mereka pun jadi mudah mengalami obesitas dan rentan terserang penyakit.

Mereka juga akan jadi kurang kreatif, karena dengan bermain di lingkungan yang alami anak-anak akan lebih leluasa memilih dan menciptakan permainan yang diinginkannya. Seperti mobil-mobilan, kapal-kapalan, ataupun yang lainnya yang bahan-bahannya mereka bisa dapatkan dari alam. 

Peta kognitif mereka juga akan jadi melemah sehingga menyebabkan mereka lebih agresif terhadap anak-anak lainnya. Mereka juga akan jadi lebih gampang stres dan autis serta memiliki sifat apatis terhadap lingkungan. 

Teringat dengan apa yang pernah disampaikan oleh Kang Maman, "Anak kita, masih duduk di bangku SD, kalau tidak jadi pembunuh, ya jadi korban yang terbunuh." Semoga saja yang dimaksud dengan kata "terbunuh" pada ungkapan tersebut tidak dilakukan oleh para orang tua itu sendiri.