Wabah Covid 19 memberi efek kejut untuk semua pihak, baik individu, instansi, bahkan untuk level negara gagap menghadapi serangan mendadak ini. Tingkat penularan yang sangat mudah dan banyaknya korban berjatuhan dalam waktu singkat membuat siapa pun gentar, sedangkan sampai saat ini belum ada vaksin yang siap didistribusikan. 

Tenaga medis sebagai garda terdepan mengatasi masalah pelik ini juga sudah banyak terinveksi, sedangkan pemerintah masih belum punya langkah pasti dan tepat untuk melindungi semua pihak.

Dunia pendidikan tak luput dari dampak pandemi ini. Untuk memutus rantai penularan dari dunia pendidikan, yaitu dengan memindah proses kegiatan belajar mengajar dari kelas ke rumah. Ada berbagai metode transfer materi pembelajaran yang dilakukan setiap sekolah. 

Mengingat kondisi siswa yang berbeda-beda dari segi ekonomi maupun kesiapan siswa, ada yang sudah menerapkan learning based internet, ada pula yang menggunakan aplikasi whatsapp sebagai media penyampai materi dan pengumpulan tugas. 

Untuk beberapa sekolah yang masih masuk zona hijau, orang tua mengambil materi ke sekolah setiap satu minggu sekali sekaligus mengumpulkan tugas yang dikerjakan sebelumnya. Ada pula metode home visit oleh guru, metode ini digunakan ketika orang tua tidak memiliki akses internet, sehingga pesan whatsapp pun tidak bisa diterima.

Semua pihak berkorban. Tugas tenaga pengajar menjadi berkali lipat dibandingkan tugas sebelumnya. Mereka menyiapkan materi dengan metode baru dan menunggu pengumpulan tugas sepanjang hari bahkan ada yang standby 24 jam. 

Karena pembelajaran yang biasa bersifat komulatif sekarang individu, artinya ketika keadaan normal seorang guru bisa mengajar 20 siswa dalam sekian jam pelajaran saja, sedangkan sekarang harus memberikan pemahaman satu per satu siswa. 

Konduktivitas kegiatan belajar juga disandarkan pada pendampingan orang tua, apalagi untuk para siswa PAUD dan Sekolah Dasar. Anak tidak bisa diberikan tanggung jawab penuh menghandle kelasnya. Orang tualah yang menjadi perantara guru menyampaikan materi, bahkan bisa dikatakan orang tua yang mengganti peran guru selama Belajar di Rumah. Menjelaskan materi, mendampingi megerjakan tugas, mengirimkan ke guru.

Tetapi banyak orang tua yang kewalaham dengan tugas barunya tersebut, paling tidak ada beberapa alasan yang membuat anak-anak memang jauh lebih kondusif belajar di sekolah.

1. Adanya menejemen kelas

Manajemen kelas yang sudah dipersiapkan oleh pihak sekolah termasuk guru pengampu sangat menentukan efektivitas kegiatan belajar-mengajar. Materi pelajaran, metode pembelajaran serta penyeragaman konsep antarguru banyak mendukung kelancaran proses. 

Selain itu, posisi tempat duduk siswa beserta perangkat pendukung belajar juga disiapkan dengan baik. Timing juga dipertimbangkan sesuai kesiapan siswa pada umumnya. 

Poin-poin tersebut tidak diberikan dirumah oleh orang tua. Sehingga mengurangi kesiapan anak dalam belajar.

2. Kesiapan Guru

Faktor ini tidak kalah penting sebagai pendukung kelancaran proses belajar di kelas. Seorang guru memutuskan untuk memulai jam pelajaran dengan persiapan yang baik dan tingkat fokus yang tinggi, tidak terganggu dengan masalah pribadi atau prioritas kesibukan lain.

Sedangkan orang tua memiliki pekerjaan dan kesibukan sebagai fokus utama, pendampingan belajar hanya diberikan di sela-sela kesibukan lain. Sering kali rasa capek mempengaruhi kesiapan pendampingan, sehingga anak menerima pelajaran dengan mood yang kurang baik.

3. Adanya teman di sekolah

Bagi anak-anak, berangkat sekolah adalah menemui dunia mereka yang menyenangkan bersama teman-teman. Mereka berinteraksi dalam level usia yang sama, mempunyai kesenangan yang serupa dan menghadapi sulitnya belajar bersama-sama. 

Anak-anak memperoleh informasi yang menyenangkan tentang gaya hidup, tontonan terkini, cerita menarik dari temannya. Bahkan mereka memperoleh pelajaran bagaimana bersaing dan berkonflik dengan teman lain. Itu merupakan faktor sangat penting bagi anak-anak yang juga pernah dialami orang tua saat masih melalui masa sekolah.

Meskipun di rumah juga ada banyak teman, tetapi teman satu leting di lingkup masyarakat terdekat susah didapatkan. Anak-anak di lingkungan rumah terlalu bervariasi umurnya sehingga tidak bisa diajak belajar bersama. 

4. Tempat jajan 

Setiap anak pasti punya tempat favorit untuk jajan, bisa di kantin sekolah bisa juga di warung sekitar sekolah. Kenapa jajan disekolah lebih enak daripada makan di rumah? Karena kondisi anak memang lapar karena energinya terkuras buat belajar dan banyak teman yang jajan bersama-sama. 

Nuansa seperti itu yang tidak ditemui di rumah. Faktor itu juga yang menambah minat belajar anak di sekolah.

Banyak orang tua yang kewalahan dalam pendampingan belajar anak. Karena memang pikiran tidak disiapkan untuk mengajar, belum juga tidak adanya penguasaan materi yang akan diberikan kepada anak. Yang paling penting adalah waktu, orang tua punya kesibukan rutin, mencari nafkah atau mengurus rumah yang sudah membutuhkan energi dan waktu yang banyak.

Agar tetap waras dalam menghadapi pandemi dan mendampingi anak belajar dari rumah, orang tua tidak perlu mentarget pencapaian atau prestasi anak. Orang tua bisa juga memberikan tutor online bagi anak-anak mereka tetapi hal tersebur anak menambah biaya.

Harus disadari bahwa di masa pandemi ini kesehatan dan keselamatan adalah prioritas utama. Hindari tekanan-tekanan yang melemahkan imunitas bagi anak dan orang tua. Prestasi sekolah bisa dikejar setelah pandemi ini berakhir. 

Tetap waras, tetap sehat untuk kita semua.