Dalam konteks budaya Indonesia, status orang tua digambarkan selalu lebih tinggi dibandingkan anak. Sejak anak masih kecil, sampai kapan pun, status orang tua akan selalu dimaknai begitu. Berbeda dengan di dunia Barat, saat sang anak sudah memasuki usia dewasa, hubungan antara anak dan orang tua lebih cenderung equal, yaitu sebagai dua orang dewasa yang statusnya sama dalam kehidupan.

Mereka bisa berhubungan layaknya dua orang dewasa yang sama-sama memiliki hak dan kewajiban terhadap hidupnya masing-masing. Hubungan keduanya seperti dua orang teman yang saling menghargai satu sama lain.

Misalnya orang tua meminta bantuan kepada anak, sementara anak sedang berhalangan atau sedang tidak bisa membantu, maka dengan ringan akan disampaikan bahwa dia sedang tidak bisa memberikan bantuan yang diminta orang tuanya. Sang orang tua pun akan memakluminya, tanpa memaksakan kehendaknya agar sang anak membantunya. Begitulah seharusnya hubungan antar dua orang dewasa, terlepas bahwa itu adalah anak dengan orang tuanya.

Fenomena itu hampir pasti tidak kita temukan di sini, di dunia Timur. Jika contoh kasusnya seperti cerita di atas, bisa jadi orang tua yang tidak mendapat bantuan dari anak akan marah terhadap anaknya, disebut tidak berbakti kepada orang tua atau bisa juga bahkan dikatakan sebagai anak durhaka. Padahal mungkin saja si anak memang sedang tidak bisa membantu dikarenakan satu dan lain hal.

Pola hubungan seperti ini tidak terlepas dari doktrin yang ditanamkan dengan dogma agama yang sering kita dengar sejak masih bercelana pendek ke sekolah. Sering kali statement “surga berada di bawah telapak kaki ibu” digaungkan. Tujuan agar anak menghormati orang tuanya, terutama ibu tentu tidak salah, tetapi seringkali pernyataan ini digunakan tidak dalam proporsi yang seharusnya.

Saya sering menanyakan soal ibu seperti apa yang di bawah telapak kakiknya terdapat surga? Apa setiap ibu memiliki surga di bawah telapak kakinya? Saya kok tidak sepenuhnya sepakat dengan pernyataan tersebut. Saya meyakini surga hanya ada dibawah telapak kaki ibu pilihan, tidak semuanya.

Saya pikir, ibu yang membesarkan anak-anaknya dengan cinta kasih yang tulus, bertanggung jawab dan penuh pengorbanan tanpa pamrihlah yang di bawah telapak kakinya terdapat surga. Bagi ibu yang bersikap sebaliknya, seperti tidak bertanggung jawab, cenderung toxic terhadap anak-anaknya, atau bahkan eksploitatif terhadap anaknya, saya rasa tidak ada surga di bawah telapak kakinya.

Anak Durhaka

Saya terkadang agak terganggu dengan istilah “anak durhaka”, bukan karena saya tidak menyetujui istilah ini, tapi terkadang orang tua sangat mudah sekali menyematkan status ini kepada seorang anak yang “dianggap” tidak menjalankan kemauan orang tuanya.

Istilah “anak durhaka” ini boleh diberikan kepada anak yang benar-benar kurang ajar terhadap orang tuanya, padahal tidak ada satu kesalahan pada orang tuanya, seperti yang pernah kita dengar pada cerita Malin Kundang yang tidak mengakui ibunya, karena malu terhadap pasangannya memiliki ibu dengan kehidupan yang sangat miskin.

Banyak orang tua yang dengan mudahnya mengatakan bahwa anaknya adalah anak durhaka, hanya karena sang anak menolak melakukan apa yang diminta orang tuanya. Misalnya orang tua tidak suka dengan suatu profesi, sebut saja misalnya tidak suka dengan penjual cendol, mungkin karena di masa mudanya pernah patah hati terhadap penjual cendol.

Karena ketidaksukaannya terhadap penjual cendol, maka sang ibu mengatakan kepada anak perempuannya untuk jangan menjadi penjual cendol, dan itu dituruti oleh anaknya. Seiring berjalannya waktu, akhirnya si anak perempuan ini mendapatkan jodoh dan menikah. Selama mengarungi bahtera pernikahan, ternyata nasib mengantarkan sang menantu menjadi seorang penjual cendol. Lalu sang orang tua, dengan status “keorangtuaannya” meminta sang menantu jangan menjadi penjual cendol.

Karena si orang tua hanya meminta, tanpa memberikan solusi, tentu saja menantunya menolak untuk berhenti menjual cendol, dan sang anak pun membela suaminya untuk tetap berjualan cendol, karena itu adalah cara mereka mencari nafkah saat ini. Dalam kasus seperti ini sang orang tua bisa dengan sangat mudah mengatakan bahwa anak dan menantunya adalah anak yang durhaka, karena tidak menuruti kehendaknya.

Coba kita pikirkan bersama, apa tepat sang orang tua menyematkan status anak durhaka kepada anak dan menantunya? Saya pikir bukan seperti itu istilah anak durhaka dipakai. Kalau ceritanya seperti kasus di atas, saya rasa lebih pantas disematkan istilah orang tua atau mertua durhaka.

Kalau ada istilah anak durhaka, saya sepakat juga ada istilah orang tua ataupun mertua durhaka. Anak, menantu dan orang tua adalah manusia biasa yang bisa berbuat khilaf. Kalau sang anak bersikap sangat keterlaluan terhadap sang orang tua yang tidak berbuat salah, maka tepat istilah anak durhaka diberikan kepada anak seperti itu.

Sebaliknya jika orang tua bersikap sangat kurang ajar dan tidak bisa menghargai sang anak sebagai sesama manusia dalam konteks sama-sama sudah dewasa, maka tidak salah juga kalau dijuluki sebagai orang tua atau mertua durhaka.

Untuk renungan, sebagai anak, apakah kita sudah pantas disebut sebagai anak yang berbakti kepada orang tua? Apa kita sudah memuliakan orang tua dan memosisikan orang tua kita sebagai orang tua yang baik? Jangan sampai status anak durhakalah yang pantas kita terima.

Lalu sebagai orang tua, apa sudah pantas kita mengatakan bahwa ada surga di bawah telapak kaki kita? Apa kita juga sudah layak disebut sebagai orang tua yang bertanggung jawab bagi anak-anak kita? Jangan-jangan kita hanya pantas disebut sebagai orang tua durhaka…