Bermain ke sekolah tempat ibu bekerja sudah menjadi kebiasaan saya selama kuliah daring ini. Selain numpang Wi-Fi, refreshing juga menjadi salah satu tujuan saya supaya tidak jenuh di rumah. 

Jujur saja, terus-terusan di rumah membuat saya bosan. Mungkin tidak hanya saya, semua anak sekolah dari SD sampai Mahasiswa pasti merasakan hal yang sama. 

Pelarian saya dari rasa bosan ya dengan bermain di sekolah tempat ibu bekerja. Duduk di ruang kelas dekat masjid sambil menikmati semilir angin yang berlalu.  Bahkan, kadang juga ikut nguping ibu saya ngobrol dengan wali murid. Tidak baik memang, tapi saya mendapat sesuatu yang menarik.

“Itu loh, Bu, anak saya ga pernah mau ngerjain tugasnya. Tiap hari malah main terus. Udah dibilangin tugasnya banyak masih aja ngeyel.” Begitulan pembukaan percakapan ibu saya dengan salah satu wali murid. 

“Bener sih, adik-adik juga gitu,” batin saya membenarkan.

“Kadang saya tuh sampe pusing, Bu, tugas anak gak selesai belum lagi urusan rumah,”sambung wali murid tadi dengan mimik muka yang menurut saya banyak tertekan. Selain pusing dengan urusan rumah mungkin juga ikut pusing dengan tugas sekolah anaknya, pikir saya.

“Saya sampe pusing, Bu, anak saya tidak paham materi karena materi tidak disampaikan secara tatap muka padahal tugas menumpuk banyak. Disampaikan tatap muka pun, anak-anak kadang masih tidak paham apalagi ini secara daring. Cuma bisa ngelus dada saya, Bu.” Sesuai dugaan, ibu saya manggut-manggut merasakan apa yang wali murid ini rasakan.

Di masa pandemi seperti ini memang pembelajaran secara daring atau virtual menjadi solusi di dunia pendidikan. Penggunaan platform meeting online seperti zoom dan google meet menjadi salah satu cara untuk tetap menjalankan pembelajaran di masa pandemi ini. 

Guru dan siswa bertemu secara online, guru menerangkan materi setelah itu memberikan tugas. Kelihatannya simple dan mudah. Tetapi pada kenyataannya tidak semudah itu. Kendala sinyal membuat materi yang disampaikan menjadi tidak lengkap dan bisa saja terjadi miskonsepsi. Apalagi ditambah dengan tugas, bikin tambah pusing. Materi saja tidak paham, bagaimana mau mengerjakan tugas?

Tugas yang menumpuk banyak dan berakhir diabaikan semua. Materi tidak masuk, malah tugas yang masuk terus-menerus. Tidak hanya tugas, bosan di rumah juga menjadikan anak-anak tertekan belajar di rumah. Yang biasanya ketika waktu istirahat ada teman bermain, sekarang hanya duduk di depan TV atau di depan HP. Nafsu makan anak turun, sampai berat badannya pun ikut turun. 

Bahkan saya juga mendengar dari cerita ibu saya, bahwa muridnya ada yang sampai mengalami gangguan haid. Artinya, pembelajaran daring ini sangat membuat anak tertekan hingga mengganggu fisiknya. Kondisi anak yang seperti ini membuat orang tua khawatir dan tidak tenang. Pada akhirnya jadi beban pikiran dan membuat kepala pening.

Apalagi jika orang tua anak adalah seorang guru. Peningnya bisa dua kali lipat. Seperti testimoni dari ibu saya sendiri. Ketika di rumah, ibu mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anaknya. Membantu anaknya ketika kesulitan mengerjakan tugas dan menjelaskan suatu materi ketika ada yang tidak dipahami anaknya. Belum lagi tugas-tugas rumah tangga seperti memasak dan pekerjaan rumah lainnya.

Ketika di sekolah sebagai seorang guru, memberi materi kepada muridnya sudah menjadi rutinitas di pagi hari. Membuka handphone, menyapa anak didik lewat WhatsApp grup baru kemudian memberi tugas. Selepas melakukan rutinitas pagi hari itu, barulah beralih ke tugas-tugas anak didiknya. Mengoreksi tugas murid yang banyaknya minta ampun. Belum lagi pusing ada anak didiknya yang belum mengumpulkan tugas. 

Pernah saya lihat beranda WhatsApp ibu saya, pesan dari wali murid sampai numpuk-numpuk. Ada yang bertanya tugasnya apa, padahal jelas sudah disampaikan di grup chat wali murid. Saya yang lihat saja pusing, bagaimana ibu saya yang notabenenya jadi ibu dan ibu guru yang harus sabar menghadapi anaknya dan anak didiknya, Pusing tujuh keliling mungkin. 

Pernah saya bilang pada Ibu saya, ”Rasah dibales wae to, ma (tidak usah dibalas saja, Ma).” Ibu saya yang dengar cuma bisa senyum kecut dan ngendika, ”Wong tugase guru yo ngene iki to, nduk (tugasnya guru ya seperti ini, nak).” Cuma bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban ibu saya.

Selain memberi tugas, koreksi tugas dan meladeni pertanyaan yang sebenarnya ngeselin menurut saya, sebagai seorang guru juga harus mendengar keluh kesah dari wali murid tentang perkembangan anaknya di rumah. Contohnya ya seperti yang saya paparkan di awal tadi. Selain mendengarkan, guru juga harus memberi solusi pada wali murid tersebut layaknya konsultasi di BP. 

Baiknya bagaimana untuk menghadapi anaknya yang seperti itu. Padahal ibu saya sendiri agak keteteran menghandle anak-anaknya. Tugas-tugas adik saya saja masih banyak yang belum dikerjakan juga karena ibu tidak bisa mendampingi. Sudah pusing memikirkan anak-anaknya, harus memikirkan anak didiknya pula. Kalau kata anak sekarang, rasanya seperti anda menjadi ironman, harus bisa multi tasking.

Lepas dari semua itu, sebenarnya pembelajaran daring tidak bisa disalahkan juga. Kalau keadaan menuntut seperti ini, apa iya mau dipaksakan untuk pembelajaran luring. Yang ada malah pandemi makin lama, amit-amit Ya Allah.  

Daring tidak melulu buruk, banyak juga sisi positifnya. Contohnya saja, untuk yang suka rebahan waktu rebahan jadi tambah banyak. Tidak perlu capek-capek keluar rumah untuk menuntut ilmu. Family time juga lebih banyak karena di rumah saja. 

Yah, meski di balik itu semua ada orang tua yang juga berprofesi jadi guru pusing-pusing memikirkan bagaimana anak didiknya bisa di rumah saja untuk menuntut ilmu. Capek loh memikirkan anak sendiri sekaligus memikirkan anak orang lain. Apalagi kalau anak didiknya ngeyel-ngeyel, tambah pusing.

Untuk yang masih daring, yuk rajin-rajin kerjain tugas. Guru-guru juga ingin istirahat, ingin rebahan, ingin menghabiskan waktu dengan keluarga dan anak-anaknya. Tidak hanya ngejar-ngejar muridnya untuk mengumpulkan tugas. Buat guru-gurumu bahagia dengan mengumpulkan tugas tepat waktu. 

Kalau bukan anak didiknya yang membuat mereka bahagia, siapa lagi? Tidak mungkin abang-abang penjual siomay depan sekolah, kan?