Andy anteng saja duduk di atas jok belakang motornya kala sang ayah menggedor-gedor pintu gerbang dengan kerasnya. Hari itu adalah kali ketiga setelah dua hari sebelumnya secara berturut-turut; Andy langsung nyelonong pulang ke rumah begitu mendapati gerbang sekolah sudah ditutup.

Setelah panas mendengar laporan dari si anak bahwa ia selalu pulang lebih awal karena tidak dapat masuk, akhirnya sang ayah turun tangan mengantarkan sendiri putranya. Namun tetap saja mereka sampai di sekolah dalam keadaan yang sama. Gerbang sudah terkunci. Duapuluh menit terlambat dari bel tanda masuk berbunyi.

Padahal rumahnya tidak begitu jauh dari sekolah. Sepuluh menit dengan berjalan kaki, atau kira-kira setara dengan lima ribu rupiah tarif menggunakan ojek online.

Sebelum dilanjut, untuk sekadar informasi bahwa ini hanya sebuah kisah dari seorang guru yang kangen sekolah. Yang sudah sangat bosan karena kerjanya sambil rebahan teroos. Yang terlambat menyadari bahwa permasalahan-permasalahan di sekitar bumi manusia ini, kalau dirasa-rasakan, ternyata cukup menarik dan mengasikkan juga. Kalau kata Minke; "Kau harus berterima kasih pada segala hal yang memberimu kehidupan, sekalipun ia seekor kuda." Halah, yuk lanjut..

Ada 6 anak yang waktu itu sama-sama berada di depan kuncian pintu, namun mereka diam, pasrah, dan berdiri saja menunggu dengan sabar sampai gerbang kembali dibuka. Mungkin karena sadar akan kesalahan yang mereka perbuat; tidak dapat bangun lebih awal.

Biasanya di jam-jam tersebut ada saya yang berjaga di balik pagar. Bertugas menutup dan membuka kembali pintu gerbang. Kebetulan karena hari itu saya ada hajat yang tidak dapat ditunda-tunda, jadi terpaksa tidak dapat berada di tempat. Secara pemikiran sekolah kami memang agak ketinggalan, sehingga setiap pagi Guru BK masih dibebani tugas yang tidak-tidak. Mengurusi anak-anak yang datang terlambat salah satunya.

Melihat ada seorang laki-laki bertubuh besar sedang menggedor-gedor pintu, dengan sigap turunlah Pak Satpam mencoba mengklarifikasi. Bermaksud menanyakan ada masalah apa hingga membuat dua tanduk di atas kepalanya tumbuh dan kepulan asap tipis-tipis muncul dari balik rambut karena terbakar emosi.

Belum genap napasnya karena lari terbirit-birit menuju gerbang, terhitung sudah dua kalimat bernada makian ia terima; “Apa ini sekolah nggak mutu, anak mau belajar malah tutup pintu!! Saya di sini sudah bayar mahal, ngerti nggak, kamu?!!”

Karena tidak mau ikut tersulut emosi, dan sebagai satpam senior ia sudah kenyang menghadapi model orang tua seperti itu, maka, setelah kalimat kedua itulah kemudian Pak Satpam tanpa banyak ba-bi-bu, meninggalkannya begitu saja dan segera mencari guru.

Ternyata sikap Pak Satpam ini salah lagi. Bapak tersebut menganggap Satpam di sekolah kami tidak dapat menghargai tamu dan tidak becus bekerja. Sehingga bertambah lagi bahan untuknya marah-marah. Apabila itu adalah adegan dalam sebuah sinetron, mungkin satu episode sudah habis dialog ia lahap sendiri.

Hingga akhirnya tepat 30 menit setelah jam 7, saya tiba bersama Satpam. Sesuai aturan memang gerbang dibuka kembali pada jam tersebut. Bapak itu belum pindah dari posisinya. Masih berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan keadaan siaga. Seakan siap dilepaskan untuk menuding-nuding muka kami berdua bagaikan ular cobra yang hendak mematok karena diinjak buntutnya.

Walaupun badannya gagah-tinggi-besar, namun beliau bukanlah tipikal seseorang yang terlahir dengan karakter sangar macam Toro Margens ataupun Gary Iskak. Kulitnya putih bersih, pipinya agak cabi, dan bermata sipit. Kalau tidak sedang marah, ya, ia sama seperti bapak-bapak juragan toko kelontong lainnya. 

Tapi, karena hari itu ia berangkat dengan membawa setumpuk laporan yang membuatnya marah, sehingga membuat siapa pun yang berhadapan dengannya saat itu; akan mengira bahwa pria tersebut adalah Kim Jong-un. Salah sekali lagi, tombol peluncuran roket siap ditekan.

Sambil berjalan menuju ke depan tadi saya dan Pak Satpam sudah berembuk. Memilih jurus dan menyiapkan kuda-kuda. Kira-kira nanti sikap atau jawaban seperti apa yang akan kami lancarkan. Kami sadar betul, untuk menghadapi orang yang sedang naik pitam, harus hati-hati dalam bersikap serta selektif dalam memilih kata. Apabila tidak sanggup meredam amarahnya, minimal jangan membuatnya makin muntap. Tidak mungkin api dilawan oleh api.

Oleh karena itu, mengingat perbendaharaan kata-kata bijak kami yang juga tidak sekumplit Mario Teguh, kami berdua putuskan untuk diam. Dalam arti menjadi pendengar yang baik, serta memberikan kesempatan selebar-lebarnya kepada bapak tersebut untuk melepaskan segala unek-unek. Prinsipnya; nanti kalau sudah capek, pasti berhenti sendiri. Keputusan ini kami cetuskan sambil ketawa-ketiwi.

Akhirnya gerbang pun dibuka. Dan benar saja, begitu tidak ada lagi sekat di antara kami, sambil menuding-nuding dengan telunjuk bapak tersebut marah sejadi-jadinya. Di antara terjangan kalimat yang membuat kuping panas, terselip pula keheranan akan cara berpikir yang sedemikian kacau.

Entah bagaimana sejarah hidup, di mana, dan kepada siapa beliau memercayakan segala sumber informasi sekaligus pengetahuan untuk dipanuti. Sehingga mengantarkannya kepada berbagai macam kesimpulan yang absurd.

“Sekolah ini gimana. Guru-guru apa gak bisa mikir?! Udah dikasih negara duit-sertifikasi sebanyak itu, seharusnya bisa dipake buat beli makan enak biar pada pinter. Bikin aturan aja pada kagak becus! Kalau gerbang ditutup anak-anak jadi gak bisa masuk. Kan rugi. Ya anaknya, ya kita orang tua yang sudah bayar SPP (kebetulan dalam kisah ini adalah sekolah swasta). Uang 400 itu banyak. Kita kerja keras biar bayar mahal-mahal yang penting anak bisa sekolah, eh sampai sini gak bisa masuk. Kan lucu. Lucu, kan?!” Bla, bla, bla..

Berikut itu tadi isi secuil uring-uringannya. Sebagian besar tidak nyambung dan jauh keluar konteks. Sisanya tidak lulus sensor karena mengandung kata-kata tidak pantas.

Tapi sejujurnya saya lebih kepada tidak paham. Hanya sambil mendengarkan, diam-diam saya catat. Siapa tau setelah ini selesai ada kesempatan. Agar ia paham ingin rasanya saya dudukkan beliau di atas kursi, lalu menyimak penjelasan yang sudah saya rangkumkan dalam bentuk power point layaknya mahasiswa yang sedang sidang skripsi.

Tapi semua itu tentu saja urung saya lakukan, karena setelah bapak tersebut nge-gas sesuka hatinya, dengan santainya ia membalikkan badan, kembali naik motor, lalu pergi. Andy diam-diam sudah masuk kelas sedari bapaknya mulai uring-uringan tadi. Sementara saya dan Pak Satpam hanya tertegun sambil saling pandang satu sama lain.

~

Tahun ajaran baru sudah dimulai, guru dan murid masih harus berjarak tapi bukan karena sedang tidak akur, namun karena pandemi yang belum juga berakhir. Sehingga pemerintah menetapkan besok para siswa masih melanjutkan belajar dari rumah.

Kami sebagai guru di sekolah juga harus banyak-banyak bersabar, karena setiap hari masih harus mendapati kelas-kelas yang kosong, sepi, dan tidak ada aktivitas apa-apa. Walaupun masih dapat bertatap melalui perangkat digital, namun mengajar di aplikasi itu kurang nyeni. Hambar rasanya.

Serba-serbi dan lika-liku kehidupan bersekolah seperti cerita Kim Jong-un di atas juga belum dapat kami temui lagi. Sungguh seperti diliputi sebuah perasaan yang aneh. Di mana sudah sewajarnya masing-masing dari kita berusaha untuk menghindari permasalahan, tapi ini tidak.

Seberat dan sepelik apa pun kehidupan sebelum wabah ini muncul, kita tetap ingin semua kembali seperti sedia kala. Kita semua merindukannya. Sebab hidup seperti sekarang ini tidak enak.