Kalu uji kamia yoya cempalo mulut, guing.” Itu kalimat teguran yang disampaikan oleh Besiar, seorang anak rimba ketika mendengar saya dan seorang teman sedang membincang tentang orang lain, di mana kebenaran ucapan kami belum terverifikasi.

Bagi orang rimba, menggunjing atau bergosip masuk dalam kategori tabu, mereka menyebutnya cempalo mulut. Konsekuensi cempalo mulut ini bisa sampai ke siding adat. Artinya bagi mereka ini perkara serius. Tapi di sisi lain, layaknya manusia kebanyakan, gosip tetap menjadi hal yang diminati orang rimba.

Mengapa saya memulai tulisan tentang gosip ini dengan peristiwa yang saya temui ketika bersama orang rimba? Karena dari orang rimba yang populasinya tak terlalu besar itu dan dalam relasi sosial yang relatif sederhana, saya mendapat pembelajaran dengan efek destruktif dari gosip, kabar burung.

Dalam masyarakat modern yang jauh lebih kompleks temali relasinya, tentu dampak gosip sulit dilihat secara langsung. Tapi dari pergumulan sosial dan budaya dengan Orang Rimba saya mendapati gosip bisa berdampak begitu luas dan bisa “mematikan” bagi orang yang digosipkan. Terasing secara sosial, terpinggirkan secara finansial dan terbuang secara kultural.

Sebagai contoh saya pernah hadir dalam sebuah sidang adat orang rimba, kasus yang disidangkan adalah adanya sangkaan kepada dua orang pemuda yang mengguncing seorang perempuan dan perbincangannya menjurus pada hal cabul. Perbincangan itu didengar oleh orang ketiga yang kemudian melaporkannya pada keluarga perempuan, maka terjadilah sidang adat tersebut.

Dalam persisangan yang dipimpin Temenggung dan Mangku tersebut, sungguh luar biasa pergulatan logika, budaya dan psikis dari komunitas mereka. Dalam bahasa famplet, memecah belah persatuan. :)

***

Hari ini, saya tak lagi bersama Orang Rimba. Tapi pembelajaran tentang gosip yang kudapat tiga tahun yang lalu masih lekat di kepala. Bisa menjadi semacam preferensi dalam melihat fenomena tentang gosip dalam masyarakat modern.

Mari kita simak tumbuh mekarnya akun-akun media sosial yang menjadikan gosip, baik gosip seputar pesohor, gosip politik dan berbagai bentuk gosip lainnya sebagai “jualan” mereka. Jangan Tanya follower mereka. Dampak yang ditimbulkan juga luar biasa, biasanya yang happening di akun gosip akan langsung menjalar ke media arus utama, pun menjadi perbincangan dimana-mana. Viral, begitu kira-kira.

Saya tak ingin langsung pada kesimpulan seperti yang ditulis Socrates, strong minds discuss ideas, average minds discuss events, weak minds discuss people. Karena saya melihat perbincangan di sosial media mengenai gosip tak melulu tentang orang, biasanya perbincangan tentang orang dalam media sosial berujung pada perbincangan tentang ide, nilai dan sampai pada hal-hal yang filosofis.

Untuk itu saya melihat perkembangan akun sosial media gosip adalah manifestasi dari realitas sosial dan kultural sebuah masarakat, dalam hal ini kita.

Gosip adalah picu atau pemantik untuk menarik perhatian publik, gosip sebagai alat. Ambil contoh, ketika ingin mengkritik institusi A misalnya, kalau tiba-tiba dibuat tulisan serius yang isinya anlisis permasalahan dan solusi ke depan, no body’s care, trust me. Tapi kalau trigger-nya adalah sebuah video perilaku culas, oknum dari institusi tersebut.

Percaya deh, atensi akan luas dan opini, argumentasi dan ide akan berkembang. Tentu perbincangan yang meluas sampai ke hal-hal tak pantas tak bisa dihindarkan. Karena inilah dunia sosial media, tak berbatas.

Namun, kalau boleh memilah akun-akun sosial yang jualan gosip dalam kategori tertentu. Maka paling tidak ada tiga; akun gosip yang tujuan menciptakan keriuhan seputar obyek gosip (gossip for gossip) dan kategori kedua adalah akun gosip yang bertujuan menstimulus perubahan sosial (gossip for social change). Sedangkan kategori ketiga adalah akun gosip yang mengkombinasikan kedua hal di atas.

Lantas bagaimana menempatkan sebuah akun gosip dalam kategori satu, dua atau tiga. Ikuti saja akun itu, kurang dari satu bulan anda pasti bisa menempatkannya di kategori mana. Selanjutnya, tinggal anda pilih, tetap bersama atau unfollow saja.

***

Saya sebenarnya sangat tertarik dengan sebuah pertanyaan mendasar, mengapa manusia cenderung suka membincangkan orang lain dan terutama jika hal itu menyangkut keburukan orang lain ? Mungkin, sahabat punya jawaban untuk pertanyaan itu, mohon berbagi dengan saya.

Oh ya, soal pertanyaan di atas, saya ingat kutipan dari Jean Paul Sartre, hell is others. Orang lain adalah neraka. Mungkinkah eksistensi ke aku-an kita yang membuat perbincangan tentang orang lain cenderung menarik hati kita. Ah, tapi itu terlalu berat untuk dibahas.

Cukup sampai di sini saja, mungkin secara individu kita punya alas an dan cara pandang masing-masing. Selamat bersenang-senang, sahabat!