Orang-orang muda banyak memilih tinggal di kota, belajar dan mengaku betah dengan alasan kesederhanaan dan kebersamaan. Tetapi akankah semua berlaku sama? Bagaimana bila kehidupan kota justru menjadi neraka?

Seorang mahasiswa mungkin akan mencintai diri dan kekasih tetapi akan melupakan keduanya demi kemanusiaan.

Tetapi bagaimana dengan pemuda biasa sepertiku? Akankah juga menemukan keajaiban, dipandang terhormat karena dianggap berguna?

Seorang mahasiswa yang notabenenya sudah senior dalam suatu kampus, selain karena lebih dulu kuliah. Seorang senior mungkin selalu memiliki nilai lebih melampaui kepemilikan baik gagasan, maupun pengalaman mahasiswa baru.

Sehingga bisa disebut berguna. Sekalipun kebergunaan tak berlaku absolut, kelak akan dipecundangi pula, bila tidak lagi memiliki materi sebagai alat pendukung.

Kebaikan semacam itu sudah menjadi tanggung-jawab seorang senior untuk mendidik adik-adiknya secara maksimal dalam kampus. Tapi tidakkah kalian pernah berpikir bagaimana mendidik adik-adik di kampus layaknya merawat dan membesarkan anak harimau?

Menjadi makhluk yang kelak lebih buas dan rakus dalam segala hal, terutama soal uang dan bayang-bayang kemapanan lainnya.

Adakah khianat paling menyakitkan dari membesarkan anak harimau? Merawat selalu, setiap saat membersihkan, mengajari berlari, berburu; hanya untuk memangsa habis-habisan tuannya, kelak.

Walau tujuan awal manusia lahir selalu ke arah yang lebih baik. Membesarkan anak harimau juga adalah salah satu cara untuk mempermudah mendapatkan buruan, di mana harimau selalu menerkam mangsanya dengan cekat, dan itu alamiah untuk binatang spesies ini.

Meski alamiah bagi harimau. Tetapi anak harimau yang kesasar tidak akan menemukan apa-apa selain dari bantuan eksternal dari lingkungannya, salah satunya manusia.

Sebagai manusia yang mendidik, jika didikannya patuh dan bijaksana hingga akhir hayat, tentu akan melahirkan hikayat.

Seperti H.O.S Tjokroaminoto yang memiliki murid jenius dan dikisahkan sebagai teladan. Namun, sebaliknya bila murid mengkhianati, hanya memanfaatkan guru sebagai air yang terus mengalir untuk ditadah, lalu menenggelamkannya.

Itu seperti merawat anak harimau yang setelah besar akan menerkamnya sampai habis. Dan itu sungguh memilukan, bukan?

Saat menulis gejolak seperti ini, aku selalu mengingat Almarhum kakek, beliau selalu berpesan, “Jangan durhaka pada orang yang baik padamu nak, jangan kurang ajar padanya. Bila ada seseorang yang hendak kau hormati selain orang tuamu, maka itulah orang yang memberimu pengetahuan” katanya setiap saat dan selalu terasa cukup.

Seandainya kakekku masih hidup, mungkin pertama-tama akan aku katakan padanya, adalah bahwa pameo yang disampaikan sudah tidak lagi relevan, sudah tidak berguna di zaman yang penuh pengkhianatan ini.

Kakek semestinya masih hidup, atau paling tidak hidup sekali lagi untuk mengetahui, di zaman sekarang ini, bila seseorang tak punya uang, berarti seseorang sebenarnya sudah mati.

Walau masih terlihat gembira dan masih mampu bersandiwara, itu hanya sebagai wujud benda sebab, kehormatan dan nilai kemanusiaannya telah direnggut oleh zaman.

Di zaman ini, tak ada kemanusiaan, yang ada hanya uang dan seperangkat tipu-tipu penuh pencitraan yang senantiasa membuntutinya.

Kakek seharusnya tahu, atau paling tidak berpesan tentang masa depan agar cucunya bisa mengantisipasi, bukan malah terjebak seperti ini, terkoyak dalam tatanan hidup yang brengsek.

Waktu aku masih kecil, kakek selalu memberiku wejangan. Tentang bagaimana hidup, tentang pengetahuan yang mutlak. Tentang bagaimana manusia hidup dan lebih berguna, tetapi benar kata orang di zaman edan ini; waktu merenggut banyak hal, termasuk nilai-nilai kemanusiaan yang semua bisa dibayar tuntas dengan uang.

Mungkin seseorang hari ini sedang sibuk di luar negeri sana. Menuntut ilmu, berguru hingga di negeri Jiran, tetapi di belahan bumi lain aku yakin seseorang sedang merengek memanja minta pertolongan dan tidak menemukan apa-apa selain kekosongan akibat lahannya digusur sebab tak bisa bayar hutang yang receh bagi konglomerat.

Tetapi di balik semua itu, mungkin ada seseorang yang mendapati mukjizat, sehingga tanpa uang hanya bermodal kebaikan namun, selalu terlihat mulia dan senantiasa dipandang terhormat oleh orang lain. Sungguh, itu mukjizat.

Sebagai pemuda miskin yang lahir di desa, entah ini kecelakaan atau sudah menjadi kutukan bagiku. Sehingga sering aku temui kemalangan dalam hidup ini, dipermalukan sebab terlalu ingin minum kopi lalu memberanikan diri memesan, namun tak mampu membayarnya.

Atau karena meminjam uang teman tetapi tidak bisa melunasi dengan cepat. Adalah kesialan paling hakiki yang dialami pemuda miskin sepertiku.

Dalam lingkungan sehari-hari, orang sepertiku bisa jadi hanya dilihat benalu, pengganggu, dan tak ada kehormatan di dalamnya.

Sayangnya sejauh ini, selain karena malas bekerja, aku memang tidak bermimpi untuk kaya, aku tidak pernah terobsesi jadi mapan.

Aku suka hidupku yang seperti ini, walau menderita. Namun, sesekali aku merenungkan dan masuk akal bagiku, atau mungkin itulah bentuk kepasrahan akibat kehilangan sugesti untuk lebih maju, entah.

Intinya aku selalu menyaksikan deretan tragedi mengenaskan yang terjadi pada manusia di bumi yang telah lama kehilangan semangatnya.

Saat keluar ruangan, aku mengamati sekeliling seolah kembali ke masa lalu, di mana orang memahat sejarah, merincikan kata untuk sebuah judul, Dark Ages.