Seminggu yang lalu, Doni mendapat hadiah ikan cupang dari sepupunya, Ziya. Begitu berbunga-bunga hati Doni setelah ia menerima ikan berwarna merah darah yang sangat cantik dari sepupunya itu.

Tak bosan-bosannya Doni melihat bulu-bulu pada ekor ikan cupang yang senantiasa merumbai-rumbai dengan sangat elok setiap kali ia berenang di dalam toples.

Untuk memastikan gizi dari si cupang itu akan senantiasa terpenuhi selama berada di tangan Doni, Ziya pun memberikan pelet sebagai makanan utama baginya.

Hati Doni bertambah girang karena ia mendapat paket hadiah yang sangat komplit dari Ziya, yakni ikan beserta makanannya. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah memberikan hadiah yang sangat istimewa ini. Ia pun berjanji akan menjaga dan merawat ikan pemberian dari Ziya itu dengan sepenuh hati.

Sesuai dengan apa yang diamanahkan oleh Ziya, setiap pagi dan sore hari Doni selalu memberi makan si ikan cupang dengan butiran pelet pemberiannya yang telah ia simpan dengan rapat dalam wadah plastik.

Suatu ketika, saat ia memandangi ikannya yang berada di dalam toples itu, tiba-tiba saja terbersit rasa kasihan dari dalam hati Doni. Ia membayangkan betapa tidak bahagianya si cupang itu bertempat tinggal di dalam wadah yang sempit itu. Meskipun ukuran tubuhnya itu juga kecil, akan tetapi mungkin saja ia serasa berada di dalam penjara saat tinggal di dalamnya.

Pada akhirnya, Doni pun memutuskan untuk memindahkan si cupang ke dalam bak kamar mandi yang ukurannya berkali-kali lipat lebih luas dibanding huniannya saat ini. Kebetulan di dalam bak mandi itu juga terisi si melon, ikan kuning yang selama dua bulan terakhir ini telah menjadi penghuni tetap di sana.

Tanpa pikir panjang lagi, ia pun bersegera memindahkan si cupang ke dalam bak kamar mandi. Barangkali dengan berada di sana ia akan bertambah senang karena bersanding dengan kawan yang baru, gumam Doni.

Sore harinya, pada saat Doni menghampiri ikannya, ia terkejut bukan kepalang. Lantaran ia melihat seperti ada potongan tubuh ikan berwarna merah darah tengah tenggelam di dasar bak mandi. Melihat pemandangan yang ganjil ini perasaan Doni pun mendadak berubah tak karuan.

Ia mencoba mengentas potongan ikan berwarna merah darah dari dasar bak mandi. Seperti dugaannya, ternyata potongan tubuh ikan yang tenggelam di dasar bak kamar mandi itu adalah milik si ikan cupang. Ia benar-benar tak menyangka, ikan yang baru saja ia pindah siang tadi telah mati dengan jasad yang tak utuh lagi.

Masih diliputi dengan rasa sedih yang menggelanyut di dalam hati, Doni pun mencoba merenungi apa sebenarnya penyebab terjadinya hal yang menurutnya sangat tidak masuk akal ini.

Beberapa saat kemudian, barulah ia sadar bahwa kedua ikan yang berada di dalam bak kamar mandi itu adalah tipe ikan yang agresif, sehingga keduanya tak mungkin untuk dikumpulkan secara bersama di dalam satu wadah.

Ia pun menjadi teringat bahwa ikan cupang biasa langsung bereaksi untuk lekas bertarung jika ia bertemu dengan sosok ikan lain yang dianggap musuh olehnya.

Sementara itu, untuk ikan lemonnya itu sendiri, barulah ia teringat bahwa sebulan kemarin ikan berwarna kuning itu juga telah menganiaya si ikan cakar lumut miliknya hingga kemudian menewaskannya.

Doni pun menyimpulkan karena ia mengumpulkan si cupang dan si lemon dalam satu wadah, maka pastilah baku hantam diantara keduanya tak mungkin terelakkan. Dan kematian dari si cupang inilah yang menjadi bukti sahihnya.

Doni pun merasa sangat menyesal atas kesalahannya itu. Lantaran kelalaiannya itu pada akhirnya berimbas pada hilangnya nyawa dari salah satu ikan yang begitu ia sayangi.

Berawal dari kejadian ini, ia pun bertekad untuk semakin berhati-hati pada saat hendak mencampur dua ikan atau lebih ke dalam satu wadah, terutama jika jenis dari ikan itu berbeda.

Dari peristiwa tersebut Doni pun kian sadar bahwa sesama ikan cupang yang jenisnya sama saja mereka dapat bertengkar hebat satu sama lain dan bahkan hingga menjurus pada kematian jika berada di dalam satu wadah. Apalagi jika yang dicampur dalam satu wadah itu adalah ikan yang jenisnya sama sekali berbeda.

Akan tetapi, di luar dari keyakinannya itu ia pun memiliki pertimbangan yang lain. Yakni belum tentu ikan yang tipikal karakternya berbeda itu tidak mungkin akan cocok jika disandingkan dengan jenis ikan yang berbeda.

Sebab, pada kenyataannya ia juga masih seringkali menemui bahwa ikan yang jenis maupun karakternya berbeda itu ternyata mereka dapat hidup akur ketika berdampingan dan bahkan dengan keadaan yang saling menguntungkan satu sama lain.

Berangkat dari kejadian yang begitu memilukan dalam hidupnya ini, Doni pun bertekad untuk semakin mendalami masing-masing karakter dari ikan yang akan ia miliki agar tak mengulang kembali kecerobohan yang sama pada ikan-ikannya. (*)