Setiap pagi mentari menyebul seolah menyapa semua makhluk di bumi. Membangunkan manusia dari pembaringan, mengetuk pemuda untuk sadar lalu bangkit dari lelapnya pangkuan kekasih.

Melepas pelukan suami dari isterinya untuk menyelesaikan kehangatan, menjadikan mawar mekar dengan aroma yang meresap lewat udara.

Pagi selalu menjadi istimewa bagi segenap yang hidup di dunia. Senandung bunyi alam sekitar yang merdu masih menjadi sesuatu yang mudah dijumpai khususnya di desa, suara burung dan desau angin menenangkan diri.

Sementara bunyi dengan sensasi mengerikan sebaliknya terjadi di kota. Seperti siang dengan malam, layaknya kehidupan sosial antara desa dengan kota, kontras.

Tulisan ini saya buat untuk mengintrospeksi diri sebagai kaum muda yang gemar membaca buku. Kaum muda yang berpenampilan semrawut, dan lantang bicara revolusi atau perubahan-perubahan besar dalam bangsa dan negara ini.

Saking semangatnya sebagai pemuda teoritis melalui pembahasan global, hingga subuh bahkan kadang tembus pagi. Lalu terbangun kesiangan. Kemudian ke cafe lagi, pesan kopi sambil berdiskusi topik yang sama. Terus berulang-ulang dengan penuh antusias bisa mengubah keadaan.

Baca Juga: Menyapa Pagi

Sebagai pemuda yang sok keren, saya merasa bangga bisa membahas setumpuk teori walau menghabiskan waktu dengan tidur lebih banyak daripada bertindak nyata. Sehingga tulisan ini lebih menarik sebab mengandung unsur-unsur curahan aktivitas kepribadian yang selalu merasa terancam sukses.

Walau demikian, saya masih tetap bertahan merasa eksis. Memegang teguh prinsip kemalasan dalam koalisi kelompok rebahan yang kokoh membangun solidaritas lewat perkopian dengan harapan besok revolusi, atau paling lambat lusa bila tidak ada halangan.

Sungguh hal tersebut telah menjadi cita-cita semua orang dan dimuliakan oleh orang-orang muda yang memiliki kebiasaan luar biasa seperti saya.

Kegilaan semacam ini bukan hanya terjadi pada saya. Pun terjadi pada beberapa orang muda lainnya di negeri ini.

Hidup dengan sekelumit teori di kepala dengan gumpalan romantis di hati yang tertutupi dan menyesakkan. Menolak patah demi pengakuan bahwa diri ini benar-benar kuat.

Kerap mengadakan seminar-seminar dengan rangkaian seremonial penuh bumbu euforia sebagai pelengkap, kemudian merasa paling hebat dalam segala bidang, sungguh sesekali saya harus buka-bukaan dalam konteks ini.

Bahwa saya dan yang lainnya selalu merasa butuh pengakuan atas segala hal-hal kecil yang pernah dilakukan atau sedang direncanakan.

Merasa paling mewakili dengan menyebut rakyat sebagai dalil yang agung, seolah-olah paling paham kondisi sosial, padahal melihat pemulung saja, jijik.

Belum lagi terjun ke desa-desa, menyaksikan pergulatan cangkul dan parang dengan gagang usang serupa warna kulit anak-anak kecil yang menghabiskan waktunya bermain lumpur di sawah saat ayah dan ibunya menanam padi.

Mengingat kebiasaan saya berfoto menggenggam mic atau menentengi toa dengan caption revolusioner ala pejuang terhormat.

Berharap dapat super like serta komentar basa-basi penuh apresiasi dari netizen maha benar. memperlihatkan semua tindakan untuk nampak paling berguna.

Menolak segala kemungkinan jatuh cinta dengan alasan karier juga kehormatan sebagai laki-laki, kokoh pada prinsip untuk tetap melajang. Namun, terisak-isak pilu, menangis sepanjang malam saat berada di kamar kost sendirian.

Kebingungan lalu mencoba menenangkan diri dengan menghubungi semua kontak perempuan dan berharap ada salah satu yang khilaf lalu menerimanya sebagai teman cumbu semata.

Terlihat abai pada perempuan dan menampik romantisme di meja kopian, tetapi di lain sisi selalu tersiksa dan merasa paling asing sebab beratnya menanggung sepi, adalah problem laki-laki seperti saya yang hebat dalam rekayasa karakter untuk tetap dipandang memukau.

Sungguh gilanya perilaku demikian. Menjengkelkan namun, harus dipertahankan untuk keselamatan sebagian pemuda di mata publik.

Selain itu, orang-orang muda seperti saya juga tak banyak vitamin D mengingat hanya akrab dengan sinar bola lampu atau terik mentari saat siang hari.

Kenapa tidak, bangun kesiangan, kadang sore. Sehingga untuk menikmati indahnya pemandangan pagi hanya bisa menyaksikan di YouTube atau lewat film-film nuansa alam saja di internet.

Satu-satunya kebanggaan menjadi laki-laki seperti saya adalah tidak pernah stres hanya karena khawatir hidup miskin di hari depan.

Dan itu saya alami sejak memahami bahwa ketenangan jiwa tidak diraih oleh kemewahan, melainkan kemampuan menerima semua dengan penuh rasa syukur.

“Menjadi muda dan tidak revolusioner adalah kontradiksi biologis” adalah kalimat paling sakti menjadi pembenaran, mengutip aktivis kiri Chili, Karol Cariola.

Seolah-olah revolusi akan terjadi hanya dengan kata-kata, sehingga sudah sangat jarang terjun ke kampung-kampung untuk kerja-kerja organisir. Padahal revolusi tak pernah menjadi mudah hanya dengan teori saja.

Sebagai kesimpulan, pemuda seperti saya baiknya tetap berjuang untuk perubahan-perubahan besar. Atau seperti kata Gandhi, “Jadilah bagian dari perubahan yang kau inginkan”.

Atau menjadi apa saja yang diinginkan, dan itu sebenarnya mudah dilakukan. Hanya perlu mandi wajib, lalu berharap semua jadi kenyataan, kemudian naik ke ranjang dan nikmatilah di dalam tidur, semua bisa saja terjadi sebagai mimpi.

Baca Juga: Petaka Awal Pagi