Siapa bilang orang gila hanya bisa melakukan hal-hal gila dan orang waras hanya bisa melakukan hal-hal waras?

Di negeri kita ini, segala sesuatu termasuk yang paling aneh pun bisa terjadi. Segala sesuatu bisa sangat membingungkan, tertukar-tukar, tertumpuk-tumpuk, dan tumpang-tindih. Pokoknya serba ruwet, termasuk kelakuan orang-orang gila dan orang-orang waras berikut ini.

Di kampung saya, ada seorang gadis bernama Tri. Kami biasa memanggilnya Kontring. Mbak Kontring ini berusia sekira 40-an, seangkatan dengan kakak saya perempuan. Ia agak stres. Konon karena selalu gagal mendapat pekerjaan di mana-mana.

Orang-orang tua dan konservatif lebih ekstrem lagi. Kata mereka, Mbak Kontring stres karena pengaruh tanah atau rumah tempat tinggalnya. Biasalah, kepercayaan orang Jawa ‘tempo doeloe’.

Anggapan ini, saya duga, karena di rumah itu, Mbak Kontring tinggal berdua dengan adiknya yang juga agak-agak stres seperti ia (ayah ibu mereka sudah lama meninggal dunia). Anggapan yang sebenarnya masuk akal juga karena rumah itu begitu kusam; hanya berlantai tanah, kurang sinar matahari, dan nyaris tanpa perabot.

TV pun hanya bergambar berjuta-juta semut yang berisik. Itu pun sekarang entah masih ada atau tidak. Bukankah kondisi sebuah rumah bisa memengaruhi kondisi psikologis penghuninya?

Nyatanya, biar stres begitu, Mbak Kontring ini juga paling rajin berangkat ke masjid. Tak peduli siang ‘kenthang-kenthang’, dengan mendekap sajadah dan mukena, ia berangkat untuk salat wajib di masjid agung di kota saya. Meski kadang pakaiannya terlalu tipis dan pendek untuk dipakai keluar rumah, apalagi ke masjid.

Kalau sedang ‘kumat’, ia suka melamun, bengong sendirian di depan rumahnya. Ia juga suka jalan-jalan tak tentu arah, berpakaian rapi dan membawa tas kantor, berlagak seolah-olah ia baru pulang dari tempat kerja.

Kalau lewat di depan rumah saya, ia mampir, ngobrol ngalor-ngidul dengan kakak saya. Bercerita macam-macam, bertanya macam-macam. Kadang, ia menawari kakak saya—yang sudah punya usaha sendiri di rumah—pekerjaan di perusahaan anu, perusahaan khayal ciptaannya. “Nanti kubantu,” janjinya.

Cerita-ceritanya kadang lucu saking tak masuk akalnya, tapi juga sebenarnya menyayat hati jika mengingat latar belakang si pencerita.

Biar stres begitu, Mbak Kontring tak pernah melupakan saya dan kakak saya. Sepertinya memang cuma kami yang mau berteman dengannya. Ia selalu menyapa, memanggil, dan bertanya ini-itu. “Rik, kok lama gak kelihatan?”, “Rik, kok kamu tambah gemuk?”, “Da, kok kamu begini, kok kamu begitu?”…dan seterusnya.

Gengsi dan harga dirinya juga sangat tinggi. Ia selalu menolak pemberian apa pun dari tetangga-tetangga. Padahal kami sebetulnya sangat kasihan dengan keadaannya yang yatim piatu dan kekurangan itu.

Orang gila kedua tinggal di Bandung, di dekat kos-kosan saya waktu kuliah dulu. Ia, perempuan juga dan ‘tingkat gilanya’ lebih tinggi daripada Mbak Kontring.

Saya tak tahu siapa nama perempuan itu. Kadang-kadang ia lewat di depan kos saya. Dari balik kaca jendela kamar saya di lantai 2, saya dengar ia bernyanyi keras-keras, tak jelas syair dan lagu apa yang ia nyanyikan. Kadang disambut dengan teriakan bapak kos saya yang membuatnya tambah semangat bernyanyi. Saya tersenyum melihatnya.

Tampangnya coreng-moreng tak karuan. Lipstik merah menyala belepotan di sekeliling bibirnya, pita yang warna-warni terlihat kontras dengan kulitnya yang legam. Sekali waktu, saya memergokinya berada dalam rombongan pawai kesenian yang biasa ditanggap saat ada anak yang dikhitan.

Dia jadi bintang saat itu. Berada di rombongan depan, memakai kacamata hitam, berbedak dan bergincu tebal sekali. Goyangan dan teriakannya tampak mencolok dalam iringan musik dangdut yang gegap-gempita mengiringi rombongan yang berisik itu.

Itu kalau lagi kumat. Kalau sedang waras, wajahnya bersih, malah akhir-akhir ini ia sering memakai jilbab. Kadang ia membawa kresek besar berisi pakaian-pakaian kotor mahasiswa. Rupanya, ia jadi ibu laundry juga.

Pernah saat saya sakit, ia datang ke kosan menjenguk saya. Saya sungguh tak menyangka akan dijenguk olehnya. Ia tak berkata apa-apa pada saya, cuma menatap. Sekali-kali bertanya ini-itu dalam bahasa Sunda dengan ibu kos saya. Sesudah itu pamit, pulang.

Ketika saya sembuh, di jalan saat kami berpapasan, ia menyapa dan bertanya, “Kumaha Neng, damang?”. Setelah lama peristiwa itu berlalu, kalau bertemu di jalan, saya selalu usahakan tersenyum padanya, tapi ia seperti lupa pernah kenal saya, pernah menyapa saya, pernah menjenguk saya…

Yang itu tadi contoh orang-orang gila paling waras. Nah, yang ini orang-orang waras paling gila. Untuk kategori yang satu ini, lebih mudah dicari contohnya. Contoh terbaru tentunya adalah banyaknya prank oleh influencer sampai pejabat, bahkan presiden dan para petinggi negeri pun di-prank, munculnya para raja dan ratu baru yang herannya ada juga pendukungnya (banyak pula).

Belum lagi pembunuhan ayah oleh anak; anak oleh ibu; ibu oleh ayah dan seterusnya, koruptor yang diputus bebas, maling ayam yang dibakar massa, maling sepeda yang ditembak mati, dan sederet daftar yang panjangnya tak terkira.

Dan kita menyaksikan semua kegilaan itu setiap saat. Tanpa sadar, semua kegilaan itu sudah menjadi konsumsi kita sehari-hari. Menjadi pengisi waktu luang, teman makan siang, bahan diskusi, dan hiburan di kala senggang.

Tanpa sadar, kita telah terbiasa dengan kegilaan-kegilaan itu. Kita menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Bahkan jangan-jangan tanpa sadar pula, kita telah menjadi bagian dari orang-orang waras paling gila itu?