Hidup mereka sangat sederhana dalam balutan tradisi dan budaya. Kultur mereka penuh pesan bermakna filosofis. Keistimewaan mereka terwujud dalam setiap kehidupan sosiologis yang mereka jalani hari demi hari. 

Seorang raja sangat penting bagi mereka. Raja atau Usif menjadi pusat informasi sekaligus penentu segala kebijakan. Mereka tunduk dan patuh pada raja sebagai sunnum bonum (kebaikan tertinggi) dan pusat dari segala aspek kehidupan sosiologis. 

Mereka tidak ‘mengenal’ agama, tetapi mereka percaya tentang kekuatan yang ilahi dalam sakralnya halaik sebuah kepercayaan tradisional berkonsep Uis Pah (penguasa alam) dan Uis Neno (penguasa alam baka).

Mereka berpendapat bahwa sang pencipta, alam, dan sesama adalah sebuah relasi yang harus dijaga tetap seimbang. Keyakinan mereka terletak pada suatu paham sederhana: perlakukanlah alam dan sesama secara bijaksana, maka kamu akan diperlakukan secara bijaksana pula. Prinsip-prisip inilah yang terus dipertahankan dan menjadi pedoman hidup mereka hingga saat ini.

Itulah yang khas dari suku Boti. Salah satu suku tradisional yang berlokasi di Timor Tengah Selatan, sebuah kabupaten di pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Masyarakat Boti punya keyakinan yang teguh terhadap kekuatan-kekuatan alam. Alam sebagai salah satu sumber utama untuk menentukan kehidupan masyarakat Boti. 

Perilaku-perilaku tersebut konkret dalam sikap hidup menjaga alam, seperti pembagian waktu membersihkan kebun, waktu tanam dan panen yang selalu didahului oleh sebuah ritual. Konsep animisme yang mereka anut terwujud pada setiap siklus kehidupan, mulai dari kelahiran hingga waktu kematian.

Proses hidup masyarakat Boti dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan setiap fase kehidupan setiap individu. Sebagai contoh, masyarakat Boti mengenal suatu fase, yaitu Tapoitan Li Ana bagi seorang bayi yang baru dilahirkan; suatu waktu khusus ketika untuk pertama kalinya seorang anggota suku yang baru lahir diperkenalkan kepada dunia luar setelah empat hari berada dalam sebuah rumah.

Menjalani keseharian hidupnya, masyarakat Boti mengenal penanggalan hari yang mereka maknai sebagai hari-hari khusus. Mereka mengenal beberapa hari, seperti neon ai (hari api), neon besi (hari besi), neon one (hari air), neon Uis Pah dan Uis Neno (hari dewa bumi dan langit), neon suli (hari perselisihan), neon masikat (hari kesuksesan), neon naek (hari perasaudaraan), neon li’ana (hari anaK), dan neon tokos (hari istirahat).

Masing-masing hari memiliki ritual tersendiri dengan berbagai peraturan dan ketentuan-ketentuannya. Tahapan-tahapan yang dapat diterjemahkan dari logika waktu suku Boti adalah masyarakat Boti mengenal beberapa konsep masa, yaitu masa lampau, masa sekarang, masa yang akan datang, dan masa setelah kematian. Masing-masing waktu bergerak dalam rasionalitas tradisi dan pemahaman sosial-kultural masyarakat Boti.

Ketaatan menjalani setiap tradisi dan budaya sangat kental terlihat pada setiap individu suku Boti. Konsep gender secara aksiologis dapat terlihat dari pembagian tugas kerja antara pria, wanita, dan anak-anak. Tidak ada diskriminasi maupun dominasi secara sepihak antara wanita dan pria.

Pada upacara-upacara tertentu, para pria justru dapat berperan layaknya seorang wanita, mulai dari memasak hingga menghidangkan makanan. Setiap pria yang dewasa dan telah menikah dilarang memotong rambut dan untuk seorang perempuan diwajibkan mengetahui bagiamana cara menenun dan dapat melakukan pekerjaan menenun sebagai salah satu syarat jika hendak menikah.

Kematangan berbudaya dan berkehidupan sosial masyarakat Boti dapat kita saksikan melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan berperilaku, bertutur kata, sampai bagaimana cara menyelesaikan sebuah persoalan. Seorang Boti yang kedapatan mencuri tidak diadili dalam sebuah koridor hukum sebagaimana diberlakukan di tempat lain. 

Hal yang menarik adalah, mereka punya cara yang unik untuk mengadili seorang pencuri. Bukan memberi sanksi kepada seorang pencuri, justru masyarakat Boti membantu pencuri untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi si pencuri. 

Dalam sebuah kasus, seorang Boti diketahui mencuri buah kelapa di salah satu kebun. Pencuri tersebut kemudian diadili dengan cara membantu si pencuri untuk menanam kelapa di kebun miliknya.

Makna logis budaya yang dapat dipahami dalam situasi ini adalah, kebijaksanaan masyarakat dalam memandang setiap persoalan; bahwa jika hanya memberi sanksi berupa sebuah hukuman, maka inti dari persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan. Oleh karena itu, perbuatan “membantu” seorang pencuri adalah untuk menyelesaikan masalah sekaligus memanusiawikan setiap tingkah laku yang berbelok dari domain budaya. 

Hal pokok yang menjadi keistimewaan orang Boti adalah memperlakukan sesama secara mutualistis dan saling membantu meluruskan setiap masalah untuk satu tujuan yang mulia bahwa setiap orang Boti harus hidup secara benar menurut ketentuan-ketentuan adat dan tradisi.

Meskipun masyarakat Boti masih menganut sistem kehidupan yang tradisional, tetapi mereka tetap kooperatif dengan perkembangan zaman sembari tetap selektif terhadap setiap gejala akulturasi. Sikap tersebut teraktualisasi dalam perlakuan kepada setiap anak yang berada di masing-masing kelurga Boti. 

Apabila dalam sebuah keluarga memiliki empat orang anak, maka dua orang anak diizinkan untuk memperoleh pendidikan formal sedangkan yang lain harus mengikuti pendidikan tradisional dengan tujuan agar difusi budaya dari generasi ke generasi tetap awet terpelihara.

Titik pijak yang dapat menjadi petuah bagi kita adalah, orang Boti mencintai kebijaksanaan hidup melalui sikap yang seimbang antara yang Ilahi, alam dan sesama dengan menerapkan perlakuan yang simbiotis tanpa determinatif. 

Hidup yang manusiawi menurut orang Boti adalah kemuliaan sebuah kehidupan ditentukan oleh sebarapa kualitas perlakuan anda terhadap orang lain, seperti dalam nasihat latin alteri vivas oportet, si vis tibi vivere yang secara epistemologis dapat diterjemahkan, jika engaku mau hidup untuk dirimu, hendaknya engkau juga hidup untuk sesamamu.