Hidup di tahun 2021 bagaikan hidup di era doubleness. Mengapa demikian? Di satu sisi, pandemi covid-19 yang melanda seluruh dunia membuat setiap orang harus menahan diri untuk keluar rumah. Segala aktivitas mesti dilakukan di rumah dengan menggunakan bantuan teknologi. Di sisi lain, pandemi semakin memperlancar perkembangan teknologi, dalam hal ini adalah teknologi digital.

Pada titik ini, manusia seakan hidup di dalam dua dunia. Pertama dunia fisik di dalam bumi. Pada dunia yang pertama ini, manusia hidup secara fisik terikat dengan ruangan fisik. Kedua, di dalam dunia digital, tempat segala hal yang berkaitan dengan aktivitas virtual dilakukan. Di sinilah manusia bisa berekspresi sesuai dengan kemauannya. 

Pernyataan tersebut penulis ambil atas dasar data yang dihimpun dari laman Datareportal. Pada Januari 2021 saja, pengguna internet di Indonesia sebesar 202,6 juta jiwa dari total penduduknya yaitu 274,9 juta jiwa. Lebih lanjut, ternyata selama sekitar 5 jam orang Indonesia dari usia 16 sampai 64 tahun menggunakan waktunya untuk berselancar di internet. 

Dari data tersebut, paling banyak pengguna dari internet dan sosial media adalah orang muda, dalam hal ini penulis membatasinya di antara usia 18 hingga 34 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Maka, internet dan teknologi digital benar-benar merupakan perpaduan luar biasa dan dapat mengubah perilaku manusia lewat kemudahan yang  ditawarkan. 

Urgensi Menjadi Orang Muda - Manusia - ‘Yang Penuh’ di Era Digital

Namun demikian, semua kemudahan yang ditawarkan ternyata memiliki sisi negatif. Banyaknya kemudahan dan akses yang diberikan bagi manusia di dalam dunia digital, membuatnya seakan semena-mena di dalam hidup di dunia digital. Media sosial misalnya, digunakan sebagai alat untuk menyerang orang lain, mengalahkan orang lain untuk eksis. 

Kata “eksis” kini dimaknai secara berbeda. Apapun itu, yang penting tampil, menunjukkan keberadaan. Eksistensi tak lagi dimaknai sebagai kehadiran individu lewat tindakan bebas dan bertanggung jawabnya. Eksis hanya dimaknai sebagai “inilah diriku” lewat aksi-aksi unik, dan kadang viral. Semakin viral semakin bereksistensi.

Perihal perilaku konsumtif juga menjadi persoalan yang sering kali ditanyakan dalam hati, namun tak juga diutarakan lewat perkataan. Seolah-olah, perilaku konsumtif itu sudah menjadi pola hidup orang muda saat ini. Beragam diskon harga dari berbagai macam produk ditawarkan lewat e-commerce. Semakin murah, semakin dilirik oleh orang muda. 

Berbelanja online menjadi kebiasaan baru jika orang muda tidak sedang melakukan apa-apa. Terkadang, banyak orang muda sering kali berbelanja online hanya demi mengejar diskon atau ikut-ikut tren saja. Sehingga, banyak kali barang yang telah terbeli menjadi tak terpakai oleh karena memang tidak tahu tujuan dari membeli barang tersebut. Ini kan yang kalian lakukan, wahai orang-orang muda?

Pada titik ini, dapat dikatakan orang muda tak lagi memaknai eksistensinya dengan tepat. Kebebasan adalah tindakan tanpa batas moral dan aturan tertentu. Apapun itu yang dilakukan hanya menuruti kesenangannya saja. Kesenangan kini dimaknai sebagai tujuan akhir dari setiap tindakannya. Padahal sering kali, tindakan itu tanpa tujuan.

Tentang Etika Keutamaan sebagai Upaya Menjadi Orang Muda - Manusia - ‘Penuh’

Berbicara mengenai tujuan akhir dari hidup manusia, beragam definisi dan pengandaian tentangnya. Tujuan akhir di dalam beberapa filsuf juga berkaitan dengan Etika Keutamaan. Namun sebelum itu, kita mesti membahas tentang etika itu sendiri. 

Etika berbeda dengan moral. Di dalam filsafat, moral bermakna suatu ketentuan atau ketetapan, baik telah ditetapkan lewat aturan-aturan - sehingga menjadi prinsip -, atau apa yang ada secara natural dalam hati manusia untuk menilai tindakan manusia itu sendiri. Sedangkan, etika adalah bagian dari filsafat, sehingga disebut filsafat moral. 

Etika sendiri adalah suatu kajian di dalam filsafat yang membahas mengenai pengetahuan seputar prinsip-prinsip moral untuk memberikan justifikasi (pun juga falsifikasi) atas suatu tindakan sadar dari manusia. Sebagai sebuah kajian, Etika berusaha menyelidiki berbagai macam prinsip-prinsip, baik di dalam Etika Kewajiban, ataupun Etika Keutamaan yang menjadi pokok pembahasan ini.

Mengapa tindakan sadar? Dalam hal etika, penilaian diberikan terhadap tindakan manusia yang dilakukan secara bebas dan sadar. Oleh karena kebebasan untuk bertindak, secara otomatis tiap manusia mengemban tugas untuk bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan olehnya. Pada titik ini, kita telah memahami bahwa etika punya fungsi menilai suatu tindakan apakah baik atau buruk. 

Eits, tunggu dulu. Pembahasan di atas merupakan definisi umum dari etika. Berbeda dengan etika pada umumnya yang menggunakan prinsip tertentu atas penilaian, Etika Keutamaan tidak demikian. Mengutip dari Kees Bertens, Etika Keutamaan berfokus pada keseluruhan diri manusia dengan melihat wataknya. 

Kita mengatakan seseorang adalah tidak dapat dipercaya karena ia tidak jujur, misal. Atau mengatakan bahwa seseorang adalah pemarah karena tidak dapat menahan emosi. Di sini etika keutamaan menunjuk bukan pada prinsip atau norma, melainkan pada sifat watak atau akhlak dari seseorang, apakah seseorang adalah baik atau buruk.

Etika ini tidak menyoroti perbuatan satu persatu berkaitan dengan kesesuaian dengan prinsip-prinsip moral, tetapi lebih memfokuskan pada manusia itu sendiri. Di dalam pembahasan etika keutamaan tidak berusaha menjawabi tentang “what should I do?” tetapi lebih kepada “what kind of person should I be?”.  Dari hal ini, kita memahami bahwa Etika Keutamaan berkaitan dengan kualitas diri seseorang, suatu disposisi watak manusia.

Lalu, apakah etika keutamaan bertentangan dengan etika kewajiban? Bertens mengatakannya tidak demikian. Menurutnya, prinsip-prinsip yang diterapkan juga membutuhkan suatu disposisi batin untuk terus melakukannya. Misal, menahan diri dalam konteks ugahari juga membutuhkan kebertahanan untuk terus melakukannya. Jika tidak, maka ugahari tersebut akan dilakukan satu atau dua kali saja. 

Terus mengkuti prinsip atau norma di dalam etika kewajiban juga tidak menjamin apakah seseorang atau baik atau buruk dalam moralnya. Seorang dokter yang tidak melakukan malapraktik belum tentu seorang dokter yang baik oleh karena mengikuti aturan saja. Menjadi dokter yang baik juga perihal melayani sesama dengan sepenuh hati, misalnya. 

Sebaliknya, etika keutamaan juga memerlukan etika kewajiban yang berkaitan dengan prinsip atau norma. Sebagai contoh, seseorang yang baik hati bisa saja terjebak dalam kasus pembunuhan tertentu karena berusaha melindungi temannya tanpa memperhatikan prinsip lain seperti keadlian, hak untuk hidup, dan sebagainya. Pada titik ini, untuk menjalankan keutamaan perlu juga memperhatikan prinsip lainnya, seperti aturan, norma masyarakat, bahkan hati nurani sebagai kompas moral. 

Pertanyaan selanjutnya, apakah keutamaan merupakan sesuatu yang ada secara alamiah? Tentu saja tidak. Sebagai sebuah disposisi watak-batin, keutamaan harus didapatkan lewat berlatih dan membiasakan diri. Berlatih dalam konteks ini adalah berlatih untuk tidak berbuat sesuai dengan kecenderungan ekstrem, kelebihannya (excess) maupun kekurangan (deficiency).

Misal, untuk mendapatkan keutamaan keberanian, seseorang mesti berusaha melawan rasa takutnya sebagai sebuah titik ekstrem. Di sisi lain, ia juga harus bertindak menggunakan akal sehat agar tidak bertindak ceroboh dan gegabah. Maka jika dianalogikan sebagai sebuah neraca, keutamaan adalah titik tengah dari dua buah titik ekstrem kecenderungan perilaku yang ada. 

Lebih lanjut, Aristoteles, seorang filsuf Yunani Kuno termahsyur yang mencetuskan teori etika ini pertama kali, mengatakan bahwa keutamaan mengandaikan manusia untuk menghindari dua ekstrem. Manusia harus selalu menidak dan bergerak menjauh dari titik ekstrem kelebihan dan kekurangannya. Dengan demikian Aristoteles juga menyebut keutamaan sebagai suatu golden mean. 

Analisa: Hidup Berkeutamaan Dalam Hidup di Era Digital

Seperti yang telah disebutkan, bahwa keutamaan merupakan hasil dari latihan. Bertens menambahkan bahwa keutamaan bukan sesuatu yang didapatkan lewat latihan seperti les musik atau sekadar membaca buku panduan. Keutamaan didapatkan lewat proses terus menerus di dalam bertindak dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang ada. 

Sekarang jika ditanya, “bagaimana penerapannya di dalam hidup era digital?”, jawabannya pasti akan panjang. Tapi hal yang menjadi tendensi dari hidup berkeutamaan adalah dengan memperhatikan prinsip sekaligus bertindak melawan arus. Melawan arus di sini berarti menghindari kecenderungan-kecenderungan moral buruk.

Apa contoh konkretnya? Jika ditinjau dari beberapa perilaku milenial muda seperti yang telah disebutkan, maka sesuatu yang mesti dilakukan adalah tidak melakukan hal-hal tersebut. Sederhananya, seluruh tindakan sadar dari orang muda perlu diarahkan pada apa yang baik secara moral. Setiap pertimbangan adalah perlu juga memperhatikan prinsip yang ada.

Seperti misal tidak berbelanja online berlebihan dan memperhatikan prinsip ugahari adalah salah satu contoh mempraktikkan keutamaan. Tidak takut untuk ketinggalan zaman atau FOMO juga salah satu bentuk dari mencapai keutamaan. Tidak takut ketinggalan zaman ini dimaksudkan sebagai kerendahan hati dan kesederhanaan juga. 

Dengan bertindak berdasarkan prinsip dan keutamaan orang muda dapat mencapai kepenuhannya. Dengan demikian juga ia telah menjadi pribadi otentik oleh karena memanfaatkan kebebasannya dengan baik. Lantas, bagaimana jika orang yang telah berkeutamaan - misalnya - berbuat suatu kesalahan? Aristoteles mengatakannya tidak menjadi soal. 

Orang yang telah berkeutamaan ketika melakukan kesalahan (tidak disengaja) tetap tidak kehilangan predikat keutamaannya tersebut. Malahan, hal tersebut juga merupakan bentuk latihan, apalagi hal tersebut dilakukan di realitas digital. Jadi, mau jadi manusia seperti apa di dunia digital ini?

Sumber bacaan:

Bertens, Kees., (2013), Etika, Sleman: PT Kanisius.

“Digital 2021: Indonesia” dilansir dari laman Datareportal https://datareportal.com/reports/digital-2021-indonesia, pada 30 November 2021.