Tulisan saya tentang atraksi wisata di kota Portsmouth, Inggris, belum bisa tayang karena media yang mengundang saya menulis harus fokus pada pemberitaan terkait peristiwa penusukan ulama, Syekh Ali Jaber, terlebih dahulu.

Tentu saja saya memahami hal ini, harus memaklumi dan harus sangat menghormati keputusan redaksi. Lagi pula, memang tak elok jika artikel saya itu muncul.

Sedang membahas peristiwa yang mengagetkan dan memrihatinkan, tiba-tiba muncul di antara berita-berita itu ulasan tentang setting-setting film box office di kota Portsmouth. Saya, penulisnya, dan media yang memuatnya bisa dianggap tak memiliki senses of crisis.

**

Saya mengetahui peristiwa penusukan Syekh Ali Jaber ketika dihubungi redaksi tentang ditundanya pemuatan artikel saya itu. Adegan penusukannya saya simak pertama kali dari video yang dikirim di salah satu WhatsApp group yang saya ikuti.

Menyaksikan cuplikan video itu, sampai saat ini saya bergidik ngeri. Berempati kepada Syekh Ali Jaber, yang pasti kaget setengah mati menghadapi serangan yang tiba-tiba itu. Mudah-mudahan beliau tidak trauma.

Bagaimana andai pisau itu melukai bagian yang lebih rentan, seperti leher atau dada, misalnya. Bisa berakibat fatal pada ulama yang santun ini. Kemungkinan lebih jauhnya, bisa menimbulkan gejolak besar dalam kehidupan bermasyarakat di negara kita.

Membayangkan itu, saya mengucap ta'udz berkali-kali. Ditambah lagi, dari rantau ini saya menyimak rutin dari jauh, bagaimana dari berita dan cerita handai tolan, terutama yang jadi Nakes atau tak bisa work from home, betapa sibuk dan babak-belurnya mereka menghadapi tugas di masa pandemi.

Kalau sampai terjadi hal yang lebih buruk menimpa Syekh Ali Jaber, betapa memilukannya. Masih berjuang menghadapi deraan pandemi, ditambah harus menghadapi koyaknya harmoni di antara umat beragama.

**

Perhatian saya kemudian serupa dengan perhatian khalayak pada umumnya, terarah pada siapa dan mengapa pelaku melakukan hal yang nekat tersebut.

Berbagai versi bertebaran saya simak satu per satu. Baik dari media maupun dari ujaran, yang saya temukan di akun media sosial organisasi maupun pribadi. Obrolan di grup WhatsApp dan Telegram-pun tak luput saya ikuti.

Secara kronologis, konon katanya, pelaku ini mengalami gangguan jiwa sejak empat tahun lalu. Menurut penjelasan sang ayah, diduga sejak ibunya menjadi TKW di negeri seberang.

Pelaku yang masih berusia 24 tahun ini mengaku kerap berhalusinasi. Dan di dalam halusinasi itu sang Syekh hadir, hingga kemudian menimbulkan hasrat pemuda yang ternyata aktif fesbukan ini, untuk mencelakai sang ulama.

Terdengar janggal memang. Didatangi pemuka agama yang sejauh pengamatan saya tidak ada seram-seramnya, baik dalam penampilan dan tutur kata, kok malah terganggu dan ada obsesi untuk mencelakai.

**

Saat kecil, saya pernah mengalami hal yang agak mirip. Waktu taman kanak-kanak, saya ingat, saya baru bisa tidur jika dipeluk erat ibu, karena takut didatangi Idi Amin.

Kontroversi dan kekejaman diktator Uganda itu memang sedang jadi buah bibir saat saya kecil. Jika saya berulah sedikit saja, maka saya akan ditakuti-takuti, "Awas... nanti Idi Amin datang!"

Apakah perasaan dihantui semacam itu yang pelaku rasakan? Kalau serupa, kontras sekali karakter sosok yang kami takuti. Saya wajarlah takut dengan Idi Amin. Umum sekali waktu itu. Tapi takut pada Syekh Ali Jaber? Terdengar ganjil bagi saya. Seperti mengada-ada.

Kalau ada yang menakut-nakutinya dengan sosok Syekh Ali Jaber ini, hingga dia merasa terhantui, barulah agak masuk akal. Orang yang menakut-nakuti ini pada akhirnya harus juga masuk pertimbangan penyidik.

**

Klaim penyerang mengidap kelainan jiwa, dalam kasus penyerangan pada ulama, juga bukan hal yang baru sama sekali.

Peristiwa penganiayaan tokoh agama di Cicalengka dan Cigondewah, keduanya Kabupaten Bandung, pada beberapa tahun lalu contohnya. Kesimpulannya, pelakunya orang gila juga.

Ada kesan yang mengemuka di kalangan masyarakat umum, pengambinghitaman orang gila ini untuk menutupi dalang sesungguhnya.

Kalaupun, ternyata sebenarnya pelaku penusukan Syekh Ali Jaber kini itu memang menderita gangguan jiwa setelah ditelusuri oleh penyidik, para netizen, yang biasanya berasal dari kalangan yang selalu kritis terhadap pemerintah, tetap akan curiga dan bertanya: siapa sih dalang sesungguhnya?

**

Bagi saya, apakah ada dalangnya atau memang murni dipicu kelainan jiwa, dua kemungkinan itu sama-sama meresahkannya.

Jika memang ada dalangnya, ini ancaman terhadap dakwah qur'ani yang santun, sebagaimana dilakukan selama ini oleh Syekh Ali Jaber.

Jika murni gangguan jiwa, ini pun bukan ancaman yang enteng, mengingat banyak sekali contoh kasus yang mengindikasikan, bahwa kelainan kejiwaan pada pemuda seusia pelaku, sebetulnya sudah tergolong endemik di masyarakat kita.

Dalam berbagai tingkat keparahan, tanda-tanda ketidakberesan dalam masalah kejiwaan ini tampak menjangkiti pemuda-pemuda seusia pelaku, dan menjadi viral justru di masa-masa sulit ini.

Ada Ferdian Paleka dengan prank baksosnya di bulan ramadhan lalu. Ada Edo Dwi Putra dengan prank daging kurban isi sampahnya, ketika Idul Adha lalu. Dan dalam tingkat yang lebih parah, Alfian Andrian penusuk Syekh Jaber di acara wisuda tahfidz kemarin.

Gejala-gejala ini harusnya diwaspadai juga, di samping dugaan siapa dalang, yang ujung-ujungnya malah lebih sering dibumbui kecurigaan-kecurigaan politis.

**

Ibarat benih, bibit sakit jiwa pada anak muda kita ini sedang berada pada waktu dan tempat terbaik untuk tumbuh dan berkembang.

Waktunya di masa-masa pandemi melanda negeri-negeri di seluruh dunia, ketika ekonomi menuju titik depresi dan tingkat kematian begitu tinggi. Tekanan pemenuhan kebutuhan yang dihadapi orang tua, misalnya. Bisa saja berpengaruh juga secara psikis pada mereka.

Adapun tempat terbaiknya adalah di negeri yang seperti negeri kita. Sebuah negeri yang saya saksikan masih saja disibukkan dengan hiruk pikuk politik, lanjutan dari polarisasi pilpres, yang berdampak pada kekurang-kompakan seluruh elemen elit politik dalam mitigasi bencana.

Sebuah negeri yang sebagian penduduknya juga tak malu-malu bergerombol, memamerkan foto piknik tanpa social distancing sambil tertawa, bahkan ada yang antimasker juga, sementara di rumah sakit-rumah sakit ratusan tenaga kesehatan syahid, dalam tugasnya merawat pasien Covid 19.

**

Generasi Z yang rentan akan masalah kesehatan jiwa itu lalu berlari menuju internet. Sebuah dunia, yang dibandingkan dengan generasi lainnya, sebetulnya lebih akrab dengan mereka.

Tapi apa yang ada dan viral di sana? Mayoritas konten sudah dikemas bukan untuk memberikan benefit pada masyarakat, melainkan untuk profit pembuat konten. Pamer hedonism, hasutan berbungkus himbauan moral, humor-humor saru, mengafirmasi generasi muda kita setiap hari.

Semuanya itu kemudian menjadi stressor. Yang mendorong mereka melakukan paling ringan prank, dan paling berat upaya sabotase atau menganiaya seseorang.

Potensi endemik sakit jiwa ini karenanya perlu menjadi isu yang diperhatikan pula oleh individu, kelompok dan pemerintah di negeri kita, di samping melanjutkan proses hukum untuk mencari dalang dan membuktikan kebenaran dari peristiwa penusukan kemarin.

Menafikan dugaan sakit jiwa, apalagi menjadikan kemungkinan ini sebagai olok-olok, menurut saya juga sesuatu yang kontraproduktif. Sebab hakikatnya orang gila bukan hanya orang yang lusuh, kotor, tak berpakaian, auratnya ke mana-mana, rambutnya kusut, berbicara sendirian atau lantas wara-wiri di jalan raya.

Orang gila bisa saja aktif di media sosial, makan di warteg atau resto, atau bisa menulis diari setiap hari. Oleh karenanya, para public figure, entah dia pemuka agama, elite politik, atau penyanyi dangdut sekalipun, mulai kini harus lebih hati-hati saat tampil di mana saja.

Sebab, orang gila, bisa ada di mana saja, tanpa menunjukkan gejala. Disuruh atau tidak disuruh seseorang, dibisiki atau tidak dibisiki bisikan gaib, orang gila tetaplah berpotensi membahayakan diri kita.

Selain proses hukum, isyu wellbeing dan mental health rupanya harus juga dikedepankan pada masa-masa sulit seperti ini.

Mudah-mudahan Syekh Ali Jaber, lekas pulih dan kembali berdakwah lagi. Ulama sekaliber beliau saya yakin, secara pribadi akan memaafkan si pelaku. Kemarin saja beliau sendiri yang mencegah massa main hakim sendiri.

Saya tidak akan merasa kaget, jika besok-besok malah beliau sendiri yang membimbing sang pelaku memperdalam agama, bahkan membimbingnya untuk menjadi tahfidz.

Energi seperti itulah yang memang seharusnya ditebarkan oleh rohaniwan dan dibutuhkan seluruh elemen masyarakat di masa-masa sulit ini. Untuk ditiru oleh masyarakat awam seperti saya, terutama untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani, yang merupakan kunci menjalani hidup di jaman yang serba sulit ini.