Sudah dua Minggu penduduk kota itu merasa resah atas perilaku seseorang yang mengganggu arus perjalanan pada trotoar yang digunakan mereka ketika terjadi kemacetan.

“Masa ada orang yang berperilaku seperti itu.” Ujar salah satu lelaki yang hampir tiap harinya memandang orang gila itu dalam setiap tindakannya.

“Iya, perbuatan seperti ini sangat tak layak dijadikan sebuah pemandangan. Buruk! Sangat buruk, betapa jalangnya. Bahkan sengit tak bermoral. Baiknya orang itu diusir dari pekarangan ini.” Tambah pengunjung yang lain.

“Atau kita laporkan pada pihak yang berwajib.”

Orang gila itu sangat tak berpengharapan. Dirogohnya ke dalam bak sampah berukuran sedang menyidik-nyidik apa saja yang bisa dimakannya. Satu per satu di angkat dari bak sampah tersebut dan orang gila itu hanya bisa menerawang lalu kembali tersenyum sambil tangan kirinya menggambar sesuatu yang mirip sebuah panggung.

Menjadi satu kelumrahan kenapa kerap orang yang melintasi jalan itu merasakan ada sesuatu yang mengganggu. Orang gila itu agak berbeda. Ia tak sama dengan orang gila yang lainnya. Orang gila itu, ketika sudah menemukan satu tempat yang disukainya maka tak pernah henyak dari tempat tersebut.

Kewalahan lainnya merusuh pandangan lain dan melibatkan semua indra adalah tubuhnya yang jijik. Tubuhnya bermandikan ulat-ulat membuat aroma amis bercampur aroma yang sudah tak sanggup dijelaskan lagi bau semacam apa yang hinggap pada tubuhnya.

Berjuta-juta penghinaan, caci maki, bahkan orang gila itu ditendang seperti bola, tidak terlepas juga dari tamparan-tamparan  yang begitu keras. Namun ia sadar karena dilabeli orang gila maka ia hanya mampu membalasnya dengan seutas senyum.

Tiba-tiba datanglah seorang petugas keamanan.

Karena terbiasa dengan—entah, pelatihan atau bukan petugas tersebut—mulanya menegurnya santun. Mula-mula orang-orang pun takzim melihat petugas itu maksum.

“Permisi, pak.” Tegur petugas itu sopan dengan badan setengah membungkuk.

Orang gila itu tampak tak menjawab. Petugas itu tetap mengakui diamnya itu.

“Permisi, Pak.” Ia mengulanginya lagi. Kembali ia tak menemukan jawaban. Sampai diulanginya beberapa kali.

“Pak orang gila mana ada otaknya jeli bercakapan dengan kita?” Lihainya salah seorang yang tadinya memanggil petugas itu.

“Saya tahu. Bahkan saya memahami hal itu. Tapi... ya, harus saya katakan bahwa dia juga manusia sama seperti kita.”

“Yah, Pak, sekarang ini kejadian seperti ini tidak bisa ditanggapi dengan bijak. Ini zaman modern, Pak. Sebaiknya bapak segera amankan orang itu daripada malah hanya menciptakan kegaduhan. Otak saya pak, merasa semacam kerusuhan melihat perbuatannya.”

“Ya, saya paham. Tapi tak bisa seenaknya juga mengusirnya. Kita punya aturan.” Kata petugas itu seraya mencari-cari napas yang mulai terbersit dari amarahnya. “Selaku manusia, saya sendiri juga sering membuat dosa. Saya juga akui saya sering membuat kesalahan, untuk itu, orang ini, saya tak bisa mengambil tindakan yang melebihi tindakan seorang manusia.”

 Lelaki yang sedari tadi meracau tentang orang gila itu, bergumam-gumam terkesan mencampakkan hinaan terhadap petugas tersebut. “Kau tahu, jika perbuatan yang diambil melampaui tindakan manusia—tak kurang lebih seperti seekor hewan yang semena-menanya memuasi diri.” Tambah petugas itu.

Menjelang tiga minggu ke depan dan sudah tiba hari ke-21, yaitu pengadaan sebuah festival sastra yang sudah diagendakan secara rutinitas.

Orang gila itu sudah tidak ditemui lagi, kerap kali orang-orang yang melintasi trotoar tersebut tak mengadu, mengeluh, maupun menciptakan suasana-suasana rusuh akibat ulah orang gila itu.

Begitu ramai pekarangan trotoar yang masih tersimpan segenap rindu. Momen ini memang jarang diingat, sehingga ketika tenda dan panggung mau didirikan antusias maupun pertanyaan-pertanyaan kagum terus terlempar.

Bagi yang merasa penasaran tentang festival itu silih menggantikan pertanyaan-pertanyaan. Dan bagi orang-orang yang sudah mengetahuinya—barangkali mereka-mereka inilah yang sadar terhadap sejarah—mengendus penuh haru.

Sementara pertanyaan tentang orang gila tersebut terus mengambang dalam penduduk. Ironisnya, orang gila itu sudah dikenal banyak orang. Mereka yang sering kali bertindak amoral terhadap orang gila itu hanya bisa berbicara tanpa alasan dan kadang juga berharap orang gila itu kembali. Mungkin, mereka merindukannya sebagai sebuah dinamika kehidupan baru. Sebab, hanya orang gila itulah yang mampu menciptakan keramaian.

Kini kota ini begitu sunyi. Petugas itu pun turut kehilangan meski ia sadar kadang tersembul kebencian dalam dirinya ketika ia hendak ditawari oleh orang-orang yang mengeluh itu lantas kepongahan orang gila itu dan gara-gara perilakunya yang membuat sederet amarah petugas itu mencuat.

Hari mulai gelap. Aktivitas kota dipenuhi riuh-riuh yang terbentang dari semangat mereka terhadap  festival tersebut. Festival itu menampik segala perhatian dan menjadi titik fokus segala aktivitas orang-orang di sekitar itu.

Pembawa acara pun mulai menghadapkan dirinya pada khalayak ramai, lalu memperkenalkan dirinya.

Festival ini pada umumnya dihantar oleh ceremoni-ceremoni sebagai pembuka semangat agar kantuk tak menyerang para penonton sembari menunggu tamu undangan: Gubernur, Walikota, dan pejabat besar lainnya.

Selain itu, ada yang menarik perhatian banyak orang mengenai festival tersebut. Tiap tahunnya konsep dan tata ruang festival itu mengalami perubahan. Artinya ada perubahan-perubahan yang dibuat dengan beragam variasi.

“Para penonton yang terhormat.” Berkatalah pembawa acara tatkala Walikota dan Gubernur beserta jajarannya memasuki panggung. Kemudian ia melanjutkan dengan memberi penghormatan kepada mereka.

Riuh-riuh makin terjamah. Tetapi acara itu tak kunjung masuk pada acara inti. Karena melihat kesunyian mulai merambat dari ekspresi para penonton, maka akhirnya acara di mulai dengan salam, lalu sambutan.

Sambutan yang terakhir wajib disampaikan oleh desainer festival itu. Tetapi desainer itu belum juga datang. Untuk melemas kantuk yang berkutat pada penonton maka pembawa acara itu membaca sebuah puisi. Tepat puisi yang dibacanya rampung maka desainer itu pun menampakkan dirinya.

Lagi, suasana sengit tercipta. Para penonton terperangah melihat desainer itu. Orang yang tak asing. Mereka tampak mengenalnya dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Pakaian yang sama kumuhnya serta tubuh yang masih sama tempat tinggalnya ulat-ulat dan serangga lainnya.

“Selamat malam.” Tuturnya lembut kepada para penonton setelah diberinya kesempatan untuk menyampaikan sambutan.

Orang gila itu bercakap lama. Diberinya motivasi tentang gambaran kehidupan dan manusia modern yang lupa terhadap esensinya hingga eksistensinya melewati asas dalam peri kemanusiaan. Air mata para penonton—terutama yang pernah menghina dan mencacinya, meski hanya sepintas.

Petugas yang pernah ingin memperlakukannya dengan baik lantas berubah tindakan gara-gara ulah orang gila tersebut hanya mampu menutup pandangannya yang mulai bergeming.

Serentak kepala tertunduk nyaris yang terlihat hanyalah pemandangan rambut dan tangan yang ditengadahi para penonton guna menutup kesedihan mereka.

Ketika ia hendak meminta maaf, dan ketika usai pembicaraannya, maka sebelum masuk ke acara berikutnya—adalah kelaziman untuk memberikan penghargaan kepada seorang desainer yang sudah menciptakan antusias besar terhadap festival itu.  

“Jalangnya perbuatanku. Nyatanya orang gila itu adalah seorang desainer termasyhur. Aku teringat waktu mencemoohnya, di hadapannya terdapat gambar yang betul-betul sama dengan panggung ini. Ah, betapa sederhananya desainer itu dan mestinya sudah terpikirkan tidak ada orang gila yang mampu menggambar sebaik itu.” Seru lelaki yang pernah memanggil petugas untuk menampiknya. Ia terharu dengan air mata melilit pada wajahnya penuh haru dan sesal.