Peneliti
2 minggu lalu · 1003 view · 3 menit baca · Agama 54013_46293.jpg

Orang Berpuasa Tak Butuh Dihormati

Sebuah video amatir diunggah oleh sebuah akun di Facebook, sekelompok orang berseragam putih, berkendara roda empat dan roda dua, sedang pawai keliling kota. Rombongan yang mengenakan atribut Ormas itu mengancam warga untuk tidak menjual makanan, tidak membuka warungnya di siang hari, selama Ramadan.

Sweeping Ormas itu sudah berlangsung pada tahun-tahun sebelumnya. Aksi demonstratif, menebar intimidasi. Mengira sedang menjalankan amanah agama: amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak berbuat kebaikan dan memerangi kejahatan). Mereka menuntut dihormati, tapi dengan cara yang tidak terhormat.  

Ormas tukang sweeping itu tak sendiri. Beberapa Pemda (di antaranya: Kabupaten Lebak, Serang, Kota Padang, Bandung, Tangsel, Tangerang) telah melegitimasi larangan buka warung di siang hari selama Ramadan melalui Perda. Pemda yang memiliki Perda anti warung buka siang ini mengarahkan pasukan Satpol untuk merazia warung-warung.

Orang-orang berpuasa berharap dihormati. Imbauannya, orang-orang yang makan jangan di tempat umum, demi terhindar dari penghilatan atau aromanya tercium olehnya. Bagaimana mengendalikan orang-orang yang tak berpuasa, agar mereka menepi, atau sebaiknya menunda untuk tidak ke warung. Tapi, eh, warungnya pun dilarang buka. Ribet, kan?

Puasa (bukan) hanya tentang makan

Di kota yang berpenduduk plural, orang-orang berinteraksi sebagaimana biasa, juga yang sedang berpuasa. Pemandangan orang-orang makan dengan lahapnya, plus aroma menyegat, akan menggoda mereka yang berpuasa.

Tapi, persoalannya bukan itu. Seperti keinginan makan tidak selalu karena dorongan lapar. Rasa lapar bukan timbul karena banyaknya iklan makanan atau aroma sup yang tiba-tiba menusuk hidung.    

Lagi pula, persoalan lainnya, apakah puasanya orang-orang yang ribet itu hanya berpantang makanan? Meski memang disadari, banyak orang mengira ia lapar ketika mencium aroma gulai, melihat gambar nasi goreng atau paha ayam.

Demonstrasi menyoal makanan menunjukkan derajat puasa yang masih level perut dan tenggorokan. Mereka lupa esensi puasa, yakni menahan diri. Persoalan orang yang berpuasa adalah pada dirinya yang dituntut mengendalikan diri, bukan pada (mengendalikan) orang lain.

Merazia warung dan mengancam orang-orang yang tak puasa, juga menunjukkan lemahnya sikap toleran. Mereka abai pada perempuan yang memiliki siklus haid, anak-anak, orangtua renta, pekerja kasar, juga musafir, adalah daftar mereka yang tidak diwajibkan puasa.

Mereka yang beragama berbeda, jelas punya hak untuk tidak diganggu. Bahkan mereka yang seagama pun, tak seorang bisa menghukumnya, ketika ia memilih untuk tidak puasa. Bukankah puasa adalah bentuk ritual ibadah yang sifatnya paling personal? Seharusnya, tak ada perbedaan yang mencolok antara mereka yang sedang dengan yang tidak berpuasa.

Mereka lupa hakikat puasa, yang sejatinya membentuk manusia menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri. Mereka yang mampu mengendalikan diri juga sekaligus memiliki kepekaan sosial  yang tinggi. Karenanya, dengan puasa, seharusnya ia mampu melepaskan diri untuk tidak melakukan tindakan tercela.

Baca Juga: Puasa Plastik

Anda sedang berpuasa, menjalankan perintah tuhan, (berharap) dapat imbalan pahala. Itu rumus umumnya. Sebagaimana ibadah fardhu ain (kewajiban individu), implikasi langsung juga berdampak ke individu, berupa pengaturan pola makan yang sehat, juga tabungan pahala untuk akhirat.

Dalam Islam, dalam kondisi tertentu, tak semua diwajibkan puasa di Bulan Ramadhan. Perempuan yang memasuki siklus haid, anak kecil, orang sakit, pekerja keras, atau mereka yang sedang dalam perjalanan dengan catatan kondisional.

Persoalan klasiknya adalah, apakah yang berpuasa harus dihargai? Secara prinsip, manusia, siapapun harus dihargai, tanpa pengecualian mereka yang beragama atau atheis. Praktek agama adalah urusan individu, juga puasa.        


Mereka yang berpuasa namun masih memendam ketakutan terhadap godaan aroma makanan bakal mengganggu puasanya, sebenarnya ia belum siap puasa. Atau, bisa saja ia mengurung diri di kamar seharian, demi mengalihkan perhatian dari makanan.

Toleran terhadap yang (tidak) puasa      


Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dikecam. Ia disebut liberal, karena membalik logika yang selama ini dianggap sesuatu yang absolute, “yang puasa menghargai yang tidak puasa.” Bukan sebaliknya. Menteri Lukman dikecam karena dianggap tidak pro-Islam. Padahal, Lukman ingin menunjukkan bahwa Islam dapat menjadi bagian dari terwujudnya masyarakat yang toleran.

Puasa sebagai sarana mengontrol diri, menghendaki orang lebih bijaksana dan menguatkan sikap empati. Kontrol diri yang efektif, tidak hanya menahan haus dan lapar, juga yang paling penting adalah menahan diri untuk tidak riya (mempertontonkan ibadah). Biarlah puasa hanya diri dan Tuhan yang tahu.

Karenanya, mereka yang berpuasa seharusnya lebih dituntut menghargai mereka yang tidak berpuasa, karena kematangan diri, bukan karena mereka tidak makan di siang hari. Sebagaimana setiap kampanye Bulan Ramadhan sebagai bulan suci dan dilimpahi berkah. Mereka yang berpuasa diharapkan menebar kebaikan, sebuah nilai yang seharusnya ditunjukkan oleh umat Islam.  

Akhirnya, bukan iklan makanan atau warung yang merusak puasa. Namun hasrat yang tak terkontrollah yang mereduksi nilai-nilai puasa.

Artikel Terkait