Kalau di luar negeri daerah Eropa, Amerika, dan belahan dunia bagian barat, Bali lebih dikenal ketimbang Indonesia. Bahkan muncul sebuah lelucon yang dibuat oleh orang lokal terhadap orang asing yang lebih percaya “Indonesia ada di Bali”, ketimbang “Bali ada di Indonesia”.

Bali memang dikenal sebagai pulau eksotis, yang konon katanya dihuni para Dewa. Maka Bali disebut Pulau Dewata. Eksotisme Bali bukan sekadar pada pantainya saja. Tapi Bali dikenal dengan seluruh gegap gemerlap alam semesta yang ada di sana.

Di Bali ada apa pun. Ada pantai yang indah, hamparan pasir yang begitu luas dengan deburan ombak mendayu-dayu sambil memanjakan kulit, telinga, dan mata. Di daerah Selatan Bali, hamparan pantai begitu luar biasa. Sinar ultraviolet yang membuat kulit terbakar bau hangat matahari itu, memanjakan para turis, baik lokal maupun turis internasional. Mereka menikmati pantai-pantai yang ada.

Naik ke utara sedikit, Bali dikenal dengan pegunungan, air terjun, surga yang tersembunyi di dalam kelok-kelok jalan kecil yang sudah diaspal itu. Bali di bagian atas, sejuk. Cocok untuk para wisatawan atau para penduduk lokal untuk menikmati hari-hari mereka. Sawah, terasering, sengkedan, dan beragai sumber daya alam yang indah menghiasi Bali.

Bali, sederhana sekali namanya. Namun di dalamnya tersembunyi surga. Mungkin ketika Tuhan menciptakan Bali, di sanalah Ia tersenyum. Maka Bali begitu indah. Bagi para penantang alam, ada Gunung Batur, Gunung Agung, yang menawarkan keindahan dan kemolekan nusantara.

Itulah keadaan alam di Bali. Selain alamnya yang indah buatan tangan Tuhan, ada hasil buatan tangan manusia yang juga mencerminkan kebesaran kebudayaan Bali. Pura dan candi tegak berdiri di areal besar Pulau Bali itu.

Pura-pura, candi-candi, dan berbagai patung-patung eksotis yang mengundang decak kagum dunia ini, berdiri dengan tegak. Baru-baru ini, mungkin 2-3 tahun kemarin, berdiri sebuah patung megah yang bisa terlihat saat kita mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Bagi para penumpang pesawat yang ingin ke Bali, duduklah di bagian pesawat sebelah kanan. Dari sana, lihat jendela, buka jendela saat ingin mendarat. Berdiri sebuah patung megah yang besar. Bahkan bisa terlihat dari atas langit. Patung Garuda Wisnu Kencana alias GWK, yang diarsiteki oleh I Nyoman Nuarta, seniman Bali yang bermukim di Bandung. Kalau tidak salah, daerah Dago.

Seluruh keindahan dunia ada di Bali. Bali adalah bumi kecil. Sumber air panas dan segala eksotismenya begitu luar biasa memanjakan kita. Selama kita ada di Bali, di sanalah kita ada di surga. Hunian para dewa.

Selain Bali yang dikenal dengan eksotismenya, ternyata ada sebuah tempat yang jauh lebih dikenal. Kali ini bukan orang-orang Barat. Namun orang-orang Timur. Bali dikenal oleh dunia barat. Sedangkan Puncak dikenal oleh dunia Timur. Ya. Arab.

Seorang teman yang baru saja pulang dari ibadahnya di Arab Saudi menceritakan sebuah kisah yang begitu menggelitik dan membuat seluruh keberadaan diri saya terngakak tidak berhenti. Ia mahir berbahasa Arab.

Maka percakapan bahasa Arab pun ia lakukan dengan para jemaah lainnya. Ia mengatakan bahwa dirinya berasal dari Jakarta. Lawan bicaranya pun bertanya di mana Jakarta. Lantas teman penulis mengatakan bahwa Jakarta itu dekat Bogor, Puncak. Lantas mereka pun paham. Oh! Puncak! Tahu-tahu! Kami tahu! Di sana ada saudara kami! Begitulah kisah yang bikin ngakak.

Bogor Puncak dikenal sebagai tempat kawin kontrak antara penduduk lokal di sana dengan lelaki Arab. Beberapa toko di daerah Bogor pun sekarang berdiri megah dengan plang berbahasa Arab. Saya sekitar 20 tahun silam pernah ke sana. Saya merasa asing sekali di sana.

Karena saya tidak bisa membaca tulisannya. Namun ketika berbelanja di salah satu toko di sana, kalau tidak salah toko kue, penulis bertemu seorang yang wajahnya begitu tampan. Alisnya tebal, matanya besar dan logatnya sangat Jawa.

Penulis sengaja mempertanyakan hal yang tidak bisa ia jawab. Lantas ia memanggil ibunya, dan penulis melihat ibunya adalah WNI. Saya tidak berani lanjutkan percakapan mengenai ayahnya. Tapi kemungkinan besar, anak itu sudah ditinggal pergi ayahnya. Karena kawin kontrak di Puncak ini sudah terjadi puluhan tahun.

Memang mirip-mirip dengan Bali. Saya tidak tahu apakah di Bali banyak juga pria yang meninggalkan perempuan Bali atau dinikahi segera. Yang pasti, Bali dan Bogor adalah dua tempat yang begitu dikenal.

Saya kadang bingung, mau bangga atau miris melihat keadaan bangsa ini. Di Bogor, bupatinya berkoar-koar melarang acara perayaan tahun baru dengan terompet dan petasan. Padahal terompet dan petasan adalah budaya biasa saja.

Tidak ada kaitannya dengan agama. Lucu sekali bukan? Tidak bisa dibayangkan berapa banyak orang yang hilang mata pencahariannya karena tidak bisa berjualan terompet dan ornamen tahun baru di Bogor. Sedangkan orang Arab di sana bebas main sana-sini.

Selamat datang di Indonesia, yang tidak lebih terkenal dari Puncak Bogor.