“Pada jangkauan lokal, sinisme saling berkaitan, saling membantu, menyebar dan mendapat dukungan luas,” ungkap Michael Focault terkait efek domino dari sebuah gerakan sosial mengeritisi pembangunan oleh pemerintah.

Tamsil Focault tersebut sesuai dengan ragam paradok  kebijakan pembangunan, ironi politik dan hukum yang ambigu. Kemudian direpresentasikan oleh perilaku korup dan keberpihakan pejabat publik kepada modal akhir-akhir ini. Sebuah ilustrasi banalitas penguasa yang akhirnya melahirkan sinisme kolektif terhadap kekuasaan.

Namun di tengah kemultidimensionalan problem konservasi yang mengerinyitkan hati, tersisa seberkas optimisme pembangunan berkelanjutan dari sektor Ekowisata berbasis masyarakat lokal (baca “Spirit Konservasi Ekowisata”). Optimisme yang menggambarkan ekspektasi besar tentang perbaikan fungsi ekosistem di masa depan.

Contoh Kasus Wisata Ekologis

Sebagai contoh, hal tersebut terungkap dari hasil pencapaian pendapatan daerah Banyuwangi, bahkan melebihi target yang dicanangkan dengan fokus utama andalan sektor Ekowisata. Inflasi yang rendah sehingga menempatkan kabupaten Banyuwangi berpredikat biaya hidup termurah.

Rakyat Banyuwangi secara umum cenderung lebih positif dalam melihat keadaan ekonomi berbasis sumber daya alam ini. Pembangunan Banyuwangi model ini menunjukkan tren positif dan dipandang semakin optimistis. Sehingga mengonfirmasi pada apresiasi yang diberikan berbagai lembaga nasional dan internasional beberapa waktu lalu kepada Banyuwangi.

Besarnya jumlah kaum intelektual muda kreatif merupakan salah satu variabel yang turut berperan dalam mengerek naik optimisme pembangunan berkelanjutan di Banyuwangi. Kelompok ini diyakini menjadi penggerak utama sektor Ekowisata sehingga perekonomian Banyuwangi tahan guncangan krisis.

Pertumbuhan sektor ekowisata yang cenderung stabil, semakin memperluas akses lapangan kerja sehingga berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat lokal. Membaiknya tingkat kesejahteraan merangsang tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Sebagaimana disebutkan Rhenald Kasali (2010), salah satu ciri kelas menengah adalah gaya hidup yang cenderung konsumtif.

Hal ini bisa kita lihat di Banyuwangi, semakin menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan dengan jumlah pengunjung yang membludak. Kafe, resto, dan tempat kongkow-kongkow juga dipenuhi oleh anak muda. Angka pembelian kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat. Berdirinya bandara Blimbingsari mengiringi peningkatan volume transportasi udara yang sekarang sedang proses perluasan dan penambahan rute.

Gelombang gaya hidup seperti ini sekaligus bisa menjadi instrumen optimisme pembangunan berkelanjutan.

Kebangkitan kelas menengah dengan gaya hidup yang khas tersebut merupakan peluang besar untuk semakin mengakselerasi sektor ekowisata sehingga mendongkrak pelestarian alam. Namun, era globalisasi juga menyebabkan semakin mudahnya ivestasi yang merusak alam dan merusak moral anak muda menjadi ancaman utama.

Maka itu, perlu langkah-langkah strategis dalam menjalani era Ekowisata ini. Pertama, perlu standardisasi program, baik zonasi dan pengaturannya. Kualitas ekologis sebagai sumber pesona wisata harus bisa mengimbangi atau bahkan mengalahkan produk asing. Jadi, ada semacam semangat standar nasional Indonesia (SNI) untuk ekosistem yang berkulitas fungsi ekologisnya.

Kedua, kampanye “Wonderful Indonesia‘’ harus dimasifkan hingga menciptakan awareness (kesadaran) konservasi alam yang terpatri secara kolektif. Kemudian, Brand ekologi Indonesia harus diungkit menjadi prestise tersendiri. Dalam hal ini, masyarakat dengan organisai lokal pun perlu memperkuat branding dengan pendekatan rasional dan emosional.

Rasional dalam arti, secara kualitas keanekaragaman hayati terjaga, alami dan kefungsian ekosistem. Emosional berarti mengangkat sisi lokalitas sebagai kebanggan, seperti kebudayaan setempat. Peluang memperkuat branding ekowisata lokal ini semakin terbuka dengan kreasi-kreasi baru anak Indonesia yang belakangan marak, seperti festival-festival unik dan iven internasional. Ini momentum baik yang harus dimanfaatkan.

Konservasionis Muda

Akhirnya, optimisme tersebut tak cukup menjadi sekadar bak lukisan indah di permukaan air, namun bisa sirna seketika hanya oleh riak kecil. Apalagi saat ini badai investasi menyerang sumber daya alam Indonesia terus meminta tumbal, menyeret negara-negara berkembang menuju kehancuran ekosistemnya.

Variabel lain yaitu gejolak politik. Kondisi perpolitikan inilah turut memengaruhi hingga menghambat iklim ekowisata jika tak disertai kemampuan mengelola dinamika kepentingan yang kian menggila. Karena itu, pemerintah sebagai pengatur kebijakan harus menutup celah yang bisa membuat bangunan konservasi lingkungan keropos. Pertama, mengarahkan investasi dan maksimalisasi kebijakan pada sektor ekowisata.

Kedua, membuka peluang-peluang baru yang melibatkan konservasionis-konservasionis muda dengan mempermudah akses perizinan sehingga pada gilirannya berperan sebagai bantalan konservasi lingkungan. Apalagi kita ketahui bonus demografi Indonesia mencapai titik tertinggi. Artinya, banyak calon konservasionis muda di negeri ini.

Hanya dengan langkah-langkah tersebut, optimisme pembangunan berkelanjutan (contoh yang direkam Banyuwangi) bermanfaat untuk mengonstruksi konservasi alam secara berkesinambungan. Yaitu, pembangunan berkelanjutan dengan pola pertumbuhan ekonomi berbasis kelestarian alam untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan tetap menjaga lingkungan sebagai habitus resources.

Dengan demikian, kebutuhan SDA tersebut tidak habis untuk generasi sekarang, melainkan tetap terjaga untuk generasi masa depan. Pola ini disebut Environment, Local People and Future (ELF).