Musyawarah Nasional PBSI 2020 yang diselenggarakan 5-6 November akhirnya selesai dengan terpilihnya Agung Firman Sampurna sebagai Ketum PBSI 2020-2024.

Bagi yang belum kenal dengan Pak Agung, mungkin menganggap biasa saja. Memang jarang muncul di media massa. Tapi ternyata, Pak Agung Sampurna ini adalah Ketua BPK RI 2019-2020 dan sekarang akhirnya merangkap Ketua Umum PBSI 2020-2024.

Mungkin banyak fans bulutangkis yang akhirnya kecewa dengan terpilihnya Pak Agung ini, karena menganggap bidangnya beliau bukan di bulutangkis. Apalagi sekarang beliau merupakan orang nomor satunya BPK, tidak etis menjabat sebagai ketua di dua bidang yang berbeda, apalagi dengan organisasi maupun lembaga yang berskala nasional.

Tapi ini hal yang wajar di tubuh PBSI itu sendiri, karena dua ketum sebelumnya juga demikian. Pak Wiranto menjabat Menkopolhukam, di lain sisi menjabat juga sebagai Ketum PBSI. Begitu pun Pak Gita Wirjawan Menjabat Ketum PBSI di saat beliau menjadi Menteri Perdagangan. 

Jadi impaslah 3 periode Ketum PBSI dijabat oleh pejabat penting yang merangkap jabatan. Tidak jauh berbeda dengan PSSI yang sebelumnya juga dijabat oleh Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi.

Tidak masalah siapa ketuanya, selama bisa serius membawa bulutangkis berjaya, ya no problem. Asal jangan cuman numpang nama saja, lalu pengurus di bawahnya yang kocar-kacir. 

Karena apabila pengurusnya yang bermasalah, jangan harap bulutangkis akan makin lebih baik. Lihat saja apa yang terjadi beberapa tahun belakangan ini pada PSSI yang selalu bermasalah dalam kepengurusannya, bahkan sempat juga dibekukan oleh pemerintah. Yang akhirnya membuat sepak bola yang dirugikan.

Walaupun begitu, dengan semangat anak muda--kita harus optimis untuk masa depan Bulutangkis Indonesia yang lebih baik. Apalagi bulutangkis menjadi olahraga andalan Indonesia yang sering menyabet gelar bergengsi dan mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional. Salah satunya merebut medali emas Olimpiade Rio 2016 oleh Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Selain terpilih secara aklamasi artian dia merupakan calon tunggal, Pak Agung ini juga menyampaikan visi-misinya di hadapan para peserta Munas PBSI di Tangerang. Setidaknya ada 5 poin dari visi misi tersebut.

Pertama, Organisasi, akuntabilias dan transparansi. Kedua, Rekrutmen atlet, pelatihan dan prestasi. Ketiga, Kemitraan. Keempat, Partisipasi masyarakat dan pengembangan klub bulutangkis. Kelima, Industri olahraga.

Dari kelima poin tersebut, setidaknya ada empat keuntungan yang bisa membawa PBSI menjadi lebih baik lagi. Di antaranya:

1. Sponsor

Karena beliau merupakan seorang pejabat negara yang bertugas sebagai Ketua BPK RI, tentunya mempunyai relasi atau jejaring yang luas untuk menggaet para sponsor untuk membantu memajukan bulutangkis. Inilah salah satu alasan kenapa para pejabat negara yang memimpin PBSI, supaya dalam mengurus masalah kemitraan dan pendanaan menjadi lebih mudah, karena tentunya mereka orang yang berpengaruh.

Sponsor sangat berpengaruh bagi perkembangan industri bulutangkis, apalagi sering mengirimkan atletnya ke berbagai kompetesi atau event bergengsi yang ada di luar negeri. Begitupun dengan sarana dan prasarana yang harus ada untuk menunjang skill dan latihan-latihan lainnya.

2. Transparansi

Salah satu legenda Bulutangkis Indonesia, Taufik Hidayat, pernah membeberkan bagaimana bobroknya PBSI yang tentunya tidak transparan dan sebagainya. Maka dari itu, Pak Agung dengan semangatnya sebagai Ketua BPK, menginginkan adanya perbaikan di internal PBSI terutama masalah akuntabilitas atau tata kelola keuangan yang lebih transparan.

Masalah internal kepengurusan memang sering menerpa berbagai bidang olahraga, begitupun dengan PBSI yang notabene harus selalu transparan agar dana maupun kebijakan-kebijakan kainnya tidak disalahgunakan.

3. Pemberdayaan

Dari 34 Pengprov PBSI yang ada, Pak Agung dipercaya oleh 29 Pengprov untuk maju menjadi ketua umum. Maka dari sini, kita bisa melihat ada harapan dari pengprov untuk kemajuan bulutangkis dibawah pimpinan Pak Agung Firman Sampurna. Apalagi dalam pidatonya pada munas mengatakan untuk melakukan pemberdayaan pengprov untuk sarana bulutangkis di daerah.

Dalam hal ini, memang dibutuhkan kolaborasi antara pengurus pusat maupun pengurus daerah untuk sama memajukan Bulutangkis dan tentunya dapat melahirkan bibit-bibit baru untuk regenerasi atlet yang telah gantung raket.

4. Rekrutmen

Ini menjadi hal penting dalam olahraga tepok bulu tersebut, yaitu rekrutmen baik dari pelatih dan jajarannya maupun para atlet khususnya. Dan beliau juga menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan sistem rekrutmen dan pembinaan yang transparan dan juga pengembangan inovasi industri olahraga dengan partisipasi masyarakat.

Tentunya kita berharap yang terbaik, siapa pun itu, semoga bisa membawa Bulutangkis Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya tentunya dengan torehan-torehan prestasi dari atlet kebanggaan kita.

Apalagi Olimpiade Tokyo sudah di depan mata, yang awalnya tahun ini diselenggarakan harus ditunda  tahun depan karena pandemi. Tapi dengan begitu, persiapan-persiapan semakin dimatangkan dan tentunya kepengurusan yang baru bisa membawa angin segar bagi kejayaan Bulutangkis Indonesia.