Dunia terus berputar pada porosnya. Siang berganti malam. Mentari terbit di pagi hari, terbenam sore hari. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Tahun pun berganti tahun. Itulah kehidupan dunia. 

Sebentar lagi tahun 2021 akan berlalu. Tahun 2022 pun menyusul. Bentang waktu yang kita semua jalani bersama. Seperti apa kehidupan kita nanti juga tak bisa dipastikan. Lalu bagaimana sikap kita sebagai orang beriman?

Ada pengalaman unik dari seorang teman yang berprofesi sebagai dokter. Sebut saja teman itu dokter Markus. Ia bertugas di sebuah rumah sakit negeri di suatu kota kecil.

Suatu ketika ia menangani seorang pasien yang akan menjalani operasi jantung. Si pasien tampak gelisah dan cemas atas operasi besar yang akan dijalaninya.

Ia bertanya kepada dokter Markus yang datang hendak memeriksanya: “Dokter, saya takut mati. Seandainya operasi ini gagal dan saya harus mati, tolong katakan, apa yang akan terjadi dengan saya di kehidupan selanjutnya di luar sana?"

Dokter Markus memandang si pasien dengan tatapan haru dan berkata: “Sejujurnya, saya tidak tahu persis tentang kehidupan di sana.”

“Dokter tidak tahu? Bukankah setahu saya dokter seorang beriman, seorang Katolik? Bagaimana mungkin dokter tidak tahu bagaimana kehidupan sesudah kematian?” tanya si pasien dengan suara lirih.

Sebelum dokter Markus sempat menjawab, di balik pintu ruangan itu, terdengar suara agak gaduh seperti suara garukan dan cakaran di pintu. Seakan ada sesuatu yang mendorong dan sedang berusaha keras masuk pintu.

Dokter Markus segera bergegas membuka pintu tersebut. Dan... seketika itu juga seekor anjing kecil milik dokter Markus menerobos masuk. Ekornya ia kibas-kibaskan penuh semangat, tanda kegirangannya.  Ia meloncat-loncat gembira ria mengitari kaki tuannya. Molly, itulah namanya.

Dengan segera dokter Markus membopong Molly. Molly pun tiada henti berusaha menciumi pipi tuannya. Tampak Molly bersukacita.

Sambil tersenyum dokter Markus berkata kepada pasien: “Kamu lihat si Molly ini? Dia belum pernah masuk ruangan ini sebelumnya. Dia tidak tahu apa-apa tentang ruangan ini dan seisinya."

"Satu hal yang dia tahu dengan pasti, bahwa tuannya ada di dalam ruangan ini. Maka ketika pintu terbuka, ia langsung berlari masuk dengan penuh sukacita."

Sambil tersenyum si dokter berkata: "Saya pun tidak tahu banyak tentang kehidupan di 'sana' sesudah kematian. Satu hal yang saya yakin, Tuhan saya ada di sana, siap menyambut kedatangan saya setiap saat. Dan itu cukup bagi saya.”

****

Saat ini kita sedang menyongsong tahun baru, tahun 2022. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun baru ini.  Banyak hal yang belum pasti. 

Kita seakan seperti hendak memasuki sebuah ruangan asing yang kita belum tahu apa yang akan terjadi saat kita masuk ke dalamnya.

Namun satu hal yang pasti, jika kita cukup beriman, kita percaya bahwa Tuhan masih tetap ada bersama kita. Dan itu seharusnya cukup bagi kita untuk memulai tahun baru ini dengan penuh keberanian, harapan dan sukacita.

Dengan segala ketidakpastian dan kekacauan di tengah pandemi yang belum berlalu, dua tahun yang kita lalui adalah tahun di mana kita sepertinya tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan.

Begitu banyak kehilangan, begitu banyak kesusahan dan kesedihan. Kita berjuang dalam ketidak pastian. Begitu banyak hal yang harus kita ubah dan begitu asing rasanya.

Dulu yang kita anggap hal yang lumrah dan otomatis kita miliki, ternyata harus berubah. Kini untuk menghirup udara segar dan bersih pun, kita tidak bisa lagi melakukannya secara cuma-cuma dan leluasa.

Sekarang kita takut untuk menghirup udara segar tanpa masker. Kita takut kalau-kalau ada virus beterbangan dan membuat kita sakit.

Kita juga takut berpegangan tangan seperti dulu, takut tertular penyakit. Kita tidak bisa lagi bebas berpeluk sapa, bersalaman, dan duduk berdekatan.

****

Tahun baru 2022 ini menjadi kesempatan bagi kita untuk belajar lebih menghargai kehidupan. Belajar menghargai apa yang masih kita punyai: keluarga, sahabat dan teman, dan pekerjaan. Kita syukuri, kita masih bisa makan, masih bisa hidup dan bergerak walau terbatas.

Tahun baru ini menandai kita dengan usia yang semakin bertambah tua, bertambah satu tahun. Namun seharusnya bukan hanya fisik dan usia kita yang semakin tua, sementara pikiran dan cara pandang kita malah semakin ‘muda’ dan kekanak-kanakan.

Harusnya, semakin bertambah usia, mental dan sikap berpikir kita juga harus semakin dewasa serta matang menyiasati kehidupan ini.

Kita harus mulai memasuki tahun baru ini dengan hidup penuh keutamaan. Lebih mengutamakan pengampunan, belas kasih, saling membantu, dan saling menguatkan.

Selamat memasuki tahun baru 2022! Kiranya berkat, belas kasih, dan penyertaan kasih Tuhan selalu melimpah bagi Anda dan keluarga,  serta semua yang Anda cintai. Selamat menyongsong dan memasuki tahun baru 2022. ***