Menurut Prof. Amien Rais, politik dalam praktiknya terbagi menjadi dua jenis, high politic dan low politic. Politik yang benar adalah politik yang masuk jenis high politic. Mereka berpolitik dengan membawa misi untuk menjaga amanah terhadap jabatan yang diberikan.

Bekerja untuk rakyat dengan sepenuh hati dan mengedepankan kepentingan Negara di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Merekalah orang-orang baik yang berpolitik, menjadikan politik sebagai alat untuk mencapai kebaikan bersama. Politik merupakan kendaraan untuk membangun bangsa di segala sektor.

Orang ingin membangun daerahnya, provinsinya, hingga lingkup bangsanya, maka harus terjun ke dunia politik. Karena politik berkaitan dengan pemerintahan dan kepemimpinan yang berkuasa.

Selain itu, kebijakan-kebijakan yang dibuat juga tergantung oleh siapa yang sedang berkuasa saat itu. Sehingga orang-orang baik yang masuk jenis high politic harus mengisi posisi-posisi di pemerintahan agar keinginannya untuk membangun bangsanya tercapai, dan yang lebih penting adalah agar kebijakan-kebijakan yang dibuat bisa pro untuk kepentingan rakyat bukan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.

Realita perpolitikan saat ini justru menunjukkan hal sebaliknya, yaitu cenderung masuk jenis low politic. Dimana orang-orang tidak lagi santun dalam berpolitik. Mereka menghalalkan berbagai cara untuk meraih kursi kekuasaan, hingga dengan cara tidak toleran bahkan sampai menghancurkan satu sama lain.

Lebih dari itu, amanah yang seharusnya dijalankan dengan baik, justru dilalaikan dan diacuhkan. Mereka tak lagi bekerja dengan sepenuh hati, melainkan sepenuh gaji. Bukan rakyat yang menjadi prioritas utama, melainkan mendahulukan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Hal tersebut berimbas pada kompleksnya masalah yang terjadi di Indonesia.

Dewasa ini bangsa Indonesia tengah mengalami krisis multidimensional. Dari mulai masalah ekonomi, politik, sosial, hingga kultural. Yang menjadi isu penting saat ini adalah masalah patologi politik yang sedang menghinggapi bangsa ini. Menurut Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir. Dia mengatakan, ada tiga tren yang terjadi di bangsa ini. Pertama, munculnya tren deviasi (penyimpangan). Kedua, terjadinya proses degradasi (peluruhan) nilai. Ketiga, terjadinya situasi krisis moral.

Politik identik dengan jalannya demokrasi, soal birokrasi di pemerintahan dan partai politik. Kalau kita saksikan bagaimana jalannya demokrasi di Indonesia saat ini, maka kita dapat menilai, betapa kumuh dan kotornya demokrasi Indonesia. Contohnya dapat kita lihat ketika berlangsungnya pemilihan umum.

Pemilihan umum saat ini sudah semakin tidak bermutu. Berhamburannya pemberian uang kepada rakyat sebelum memasuki bilik pemilu atau sering kita dengar dengan istilah serangan fajar sudah bukan menjadi rahasia lagi. Hingga mengakibatkan masyarakat terpecah belah dan saling memaki satu sama lain. Devisa Negara terisap sangat besar untuk menjalankan segala aktivitas yang sebenarnya hanya merupakan sebuah formalitas yang terlanjur dikenal oleh publik sebagai demokrasi.

Penelitian oleh Pramono Anung beberapa tahun silam menyatakan, untuk menjadi anggota parlemen membutuhkan biaya besar, yakni perlu modal rata-rata antara Rp 800 juta hingga Rp 5 miliyar. “Kalau kalian punya uang di bawah itu, lebih baik digunakan untuk keperluan keluarga saja,” Kata Pramono Anung dalam beberapa kesempatan ketika berdiskusi di forum jurnalis parlemen.

Begitu juga partai politik, kini semakin melupakan idealismenya sebagai penopang utama demokrasi. Mereka sekarang tak lebih dari kartel perusahaan yang dimiliki sekelompok elit yang kaya dan berperilaku feodal. Situasi kehidupan rakyat saat ini makin sulit, karena demokrasi menjadi hamba kaum elit yang punya uang dan kuasa. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang dahulu diharamkan sekarang semakin marak dilakukan.

Isu sekaligus sorotan penting publik saat ini adalah soal korupsi dan sanak saudaranya yang bernama kolusi, manipulasi, komisi terselubung, atau upeti. Penyakit-penyakit tersebut sudah begitu menghujam di dalam kehidupan bangsa ini.

Sungguh ironi ketika hampir setiap hari kita disuguhkan berita-berita tentang korupsi. Soal pejabat yang menyelewengkan anggaran pemerintah, atau pejabat yang menganggap jabatan yang diberikan kepadanya bukan sebuah amanah untuk mengemban tugas-tugas berat nasional, guna menyejahterakan rakyat secara keseluruhan. Melainkan jabatan itu dianggap sebagai kunci untuk menumpuk kekayaan pribadi dan keluarga.

Sikap mental pejabat saat ini, mengabdi bukan lagi sepenuh hati namun sepenuh gaji. Mungkin masih hangat di ingatan kita, kasus korupsi yang dilakukan oleh mantan Menteri Agama, Surya Dharma Ali, kemudian kasus suap yang menjerat ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mukhtar.

Dan baru-baru ini, kasus yang sama juga menjerat Irman Gusman, ketua DPD RI. Sungguh ironi, orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan, yang dijadikan teladan, menjalankan tugas dan menjaga amanah dengan sebaik-baiknya, kini justru terjerat kasus yang sangat memalukan dan publik pun juga banyak yang kecewa.

Dari beberapa realitas yang terjadi dewasa ini tentang isu-isu dalam dunia politik, membuat citra politik semakin memburuk.

Para kader partai politik yang terjerat kasus korupsi, tidak amanah dalam menjalankan tugasnya, lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya daripada rakyat, membuat masyarakat justru semakin pesimis dan apatis untuk terjun ke dunia politik.

Khusunya dari kalangan pemuda, yang notabene adalah orang-orang yang akan melanjutkan perjuangan Indonesia, mereka yang akan mengisi posisi-posisi di pemerintahan. Namun dengan realitas politik saat ini, anak-anak muda seolah menjauh dari dunia politik, bahkan mereka lebih memilih untuk tidak ikut dalam partai politik.

Mereka menganggap terjun di dunia politik dan ikut dalam partai politik, hanya akan mengotori diri dan merusak nama baik. Ujung-ujungnya juga korupsi lalu mendekam di balik jeruji besi. Atau jika ikut bergabung dalam partai politik, dan mencoba untuk baik dan benar di jalurnya, lama-kelamaan juga tidak akan kuat dengan sistem yang biasa disebut dengan lingkaran setan. Begitu ironis pandangan anak muda saat ini soal politik.

Ditambah fenomena saat ini, menurut analisis Prof. Denny Indrayana, staf khusus presiden pada masa kepemimpinan SBY, dia mengatakan bahwa saat ini ruang publik lebih banyak dijejali dengan kabar-kabar buruk. Postulat pemberitaan bahwa: bad news is good news, kabar buruk adalah pemberitaan yang baik, betul-betul dipraktikkan. Postulat yang nyata-nyata salah.

Bagaimana mungkin bad news is good news. Yang benar seharusnya adalah: bad news is bad news. Good news is good news. Bad news is not good news. Good news is not bad news. Pemberitaan yang baik seharusnya adalah pemberitaan yang mengungkapkan fakta apa adanya. Pemberitaan yang fair, berimbang dan adil.

Pemberitaan yang mengangkat kabar baik, sekaligus juga kabar buruk sesuai dengan kenyataannya, sesuai faktanya. Pemberitaan harus yang berimbang. Pemberitaan tidak cukup hanya cover both sides, tetapi juga cover all sides.

Dengan pemberitaan media yang lebih sering menampilkan bad news dan dijadikan sebagai good news, lama-kelamaan akan membuat rasa pesimis masyarakat khususnya anak-anak muda dalam memandang politik. Seolah-olah tidak ada sisi postitifnya dari dunia perpolitikan.

Jika hal ini terus dibiarkan, perpolitikan di Indonesia akan semakin jauh dari kata baik dan maju. Apakah kita akan membiarkan politik di Indonesia semakin memburuk? Atau kita membiarkan pemerintahan ini dipegang atau di isi oleh orang-orang yang tidak baik?

Meski jalan untuk menuju perubahan politik yang lebih baik tidaklah mudah, namun paling tidak sikap optimis harus tetap dihidupkan. Say no to pesimism. Say yes to optimistism.

Coba kita perhatikan, langkah dan niat para pemuda dan orang-orang baik yang saat ini terjun di dunia politik, mereka mempunyai misi untuk merubah wajah perpolitikan di Indonesia, yang tadinya dianggap kotor, diubah menjadi wajah baru yang lebih bersih.

Sebut nama misalkan, Anies Baswedan sebagai penggagas Indonesia Mengajar, yang memutuskan untuk ikut konvensi partai Demokrat, kemudian sempat menjadi ketua pemenangan capres dan cawapres Jokowi/JK, dan akhirnya beliau diangkat sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada pemerintahan presiden Jokowi.

Ada juga Ridwan Kamil, beliau memutuskan untuk terjun di dunia politik dengan menjadi Walikota Bandung, yang latar belakang hidupnya adalah seorang arsitek, sempat hidup mapan di nagara paman Sam, namun ia memilih untuk pulang ke Indonesia dan membangun daerahnya. Satu lagi contoh, Sandiaga Uno. Dia adalah seorang pengusaha sukses dan saat ini memutuskan untuk mencalonkan diri menuju DKI satu.

Selain nama-nama tersebut, masih banyak nama-nama yang bersih dan berintegritas terjun di dunia politik, ada Yoyok Bupati Batang, Bima Arya Walikota Bogor, Prof Nurdin Abdullah Bupati Bantaeng, Tri Risma Harini Walikota Surabaya, dan nama-nama tokoh lain yang natabene adalah orang-orang yang bersih dan terjun ke dunia politik dengan membawa misi mengubah wajah perpolitikan Indonesia menjadi lebih baik.

Beberapa nama dari mereka masih tergolong muda, bahkan ketokohan dan track record mereka mampu menggerakkan anak-anak muda untuk sama-sama turun tangan membenahi republik ini.

Menurut analisis Anies Baswedan, saat ini terjadi rusaknya wajah perpolitikan di Indonesia, bukan karena tidak adanya orang baik, melainkan karena orang-orang baik memilih diam dan mendiamkan kerusakan yang terjadi. Oleh karena itu harus banyak orang-orang yang baik berpolitik, sehingga mereka mampu merubah wajah perpolitikan di Indonesia ke arah yang lebih baik.

Mereka menjadi para pemimpin dengan kepala tegak, dan menyelesaikan tugasnya juga dengan kepala tegak. Bukan menyelesaikan tugas dengan kepala merunduk, karena malu telah berbuat keji, melakukan korupsi yang berakhir di balik jeruji besi.

Setelah kita melihat, bahwa masih banyak orang baik yang memilih untuk tidak diam melihat situasi politik di negeri ini. Mereka memutuskan untuk turun tangan bukan hanya sekedar urun angan dan melipat tangan, bukan memaki namun menawarkan solusi.

Langkah yang sudah mereka lakukan, seharusnya bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda untuk tidak apatis terhadap politik dan tetap optimis memandang politik bangsa ini. Saya dan para pemuda di seluruh penjuru Indonesia, memilih optimis memandang politik bangsa. Politik bukan untuk dijauhi, namun harus didekati lalu kemudian kita perbaiki. Say no to pesimism. Say yes to optimistism.#LombaEsaiPolitik