Psikolog Feminis
5 bulan lalu · 108 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 29386_93255.jpg
Pixabay

Optimis atau Pesimis?

Sebagai orang yang “mengaku” optimis, saya merasa agak kurang nyaman berada di tengah-tengah mereka yang “menurut saya” cenderung pesimis. Apa mau dikata, sejak tinggal di Normandie (Perancis Utara), saya justru berinteraksi dengan sebagian besar dari mereka.

Mungkin sedikit menggeneralisasi, namun penduduk sini memang dikenal pesimis. Tetapi mereka tidak terganggu dengan pelekatan sikap ini sebagai bagian dari “identitas” mereka. Mereka malah bangga. Mereka meyakini bahwa sikap pesimis justru membuat mereka berpikir jernih, lebih realis, dan lebih cerdas. 

Demikian yakinnya mereka, membuat saya bertanya-tanya jika yang mereka katakan memang benar…

Keuntungan si optimis, kerugian si pesimis

Adalah Christophe André, psikiater dan psikoterapis di Rumah Sakit Sainte-Anne, Paris, penulis lebih dari 20 buku seputar psikologi positif, pernah mengalami jadi orang pesimis selama puluhan tahun. 

Awalnya ia meyakini bahwa sikapnya yang pesimis mempersiapkannya untuk menghadapi masalah atau hal-hal yang tidak menyenangkan. Namun belakangan, ia menemukan bahwa ia justru tidak sesiap itu untuk keluar dari masalah.


Sebagai orang yang pernah pesimis sekian lama, André mengakui cenderung membayangkan yang buruk akan terjadi. Dan ini sangat melelahkan dan membuatnya stres.  Seperti orang pesimis lainnya, ia selalu berusaha membuktikan bahwa semua ramalan negatif mereka akan terjadi.

Saya perhatikan bahwa orang-orang pesimis tampaknya mengalami belief perseverance, yakni kecenderungan manusia untuk bersikukuh pada apa yang ia yakini meski kenyataan membuktikan sebaliknya. Kecenderungan ini semakin menguatkan sikap pesimisme mereka. 

Seperti yang diceritakan André : Ketika hal buruk yang saya bayangkan tidak terjadi, ketimbang mensyukuri karena yang buruk yang saya bayangkan itu akhirnya tidak terjadi, saya malah tetap bersikukuh pada keyakinan saya, bahwa hal buruk itu memang tidak terjadi tetapi sebenarnya dapat saja terjadi (2018).  

Penelitian-penelitian psikologi juga membuktikan bahwa orang-orang pesimis cenderung mudah depresi ketimbang mereka yang optimis. Sepertinya karena cenderung melihat dunia secara negatif, membayangkan yang buruk-buruk, hidup mereka jadi lebih “hitam”, kurang gembira.

Sementara itu, orang-orang optimis, cenderung lebih sehat dan lebih bahagia. Dalam keadaan sehat, mereka lebih menikmati hidup. Ketika mereka jatuh sakit, mereka akan lebih cepat sembuh karena mereka umumnya lebih mampu merawat diri.

Meyakini bahwa mereka akan sembuh, orang-orang optimis percaya akan saran pengobatan dokter dan menjalaninya tanpa ragu. Jikapun suatu metode terapi tidak efektif, mereka tidak putus asa untuk mencari alternatif pengobatan.

Mereka yang pesimis, karena sudah meragukan lebih dahulu efektivitas dari suatu terapi/obat, akhirnya lebih sulit untuk sembuh. Obat ini tidak perlu diminum, toh tidak akan mempan. Terapi ini tidak perlu dijalani karena tidak akan efektif. Dll.

Masalah optimisme-pesimisme ini juga terkait erat dengan harapan. Orang optimis memiliki harapan, dan ini yang membuat mereka selalu yakin akan ada solusi untuk setiap masalah, akan selalu ada jalan untuk mencapai yang diinginkan, yang buruk selalu dapat diperbaiki.

Tentu saja, segala sesuatu tidak selalu terjadi sesuai dengan harapan mereka yang optimis. Kadang kala, mereka juga salah dalam peramalan mereka. Tetapi seperti yang André tanyakan secara retorik, lantas kenapa? Lebih baik kecewa sekali-sekali tetapi tetap punya hidup yang ceria ketimbang sesekali benar tapi hidup dalam “ketakutan” menantikan terjadinya hal yang tidak menyenangkan (André, 2018).

Sikap mental, konsekuensi perilaku, dan ramalan pemenuhan diri


André mendefinisikan optimisme dan pesimisme sebagai sikap mental dengan konsekuensi perilaku ketika berhadapan dengan suatu masalah. Sikap mental seseorang dikatakan optimis jika ia meyakini bahwa ada solusi untuk masalah yang ia hadapi, meski solusi ini mungkin tidak sempurna. 

Konsekuensi perilaku dari sikap optimis ini adalah kita akan bertindak, melakukan sesuatu agar solusi ini benar-benar ada. Orang yang optimis tidak berarti meyakini bahwa tidak akan ada masalah tetapi ia cenderung tergerak untuk menemukan atau menciptakan solusi. Biasanya ia pun akan berhasil menemukan jalan keluar. 

Hal ini dikarenakan optimisme-pesimisme terkait dengan ramalan pemenuhan diri (self-fulfilling prophecy) : ketika kita meyakini sesuatu, biasanya sesuatu itu akan terjadi. Karena keyakinan kita akan suatu hasil akan mengarahkan kita untuk bertindak, mengambil langkah-langkah yang dapat mewujudkan keyakinan kita itu (entah positif ataupun negatif).

Ramalan pemenuhan diri ini juga dapat berlaku bagi orang lain. Jika kita menaruh kepercayaan pada kompetensi dan kapasitas seseorang, kita juga akan cenderung bersikap dan berperilaku dalam cara-cara yang mendukungnya untuk berhasil. 

Dan ia akan berhasil. Ini yang dinamakan dengan pygmalion effect atau Rosenthal-Jacobson effect (karena didasarkan hasil penelitian Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson). 

Sebaliknya, jika kita meragukan bahwa seseorang akan berhasil, disadari ataupun tidak disadari, kita akan bersikap dan berperilaku dalam cara-cara yang dapat mengantarkan orang ini dalam kegagalan. Rosenthal, Babad E.Y, dan Inbar J menamakannya sebagai golem effect.

Terkait dengan hal ini, André tidak bercerita tentang dampak sikapnya yang pesimis dalam menangani pasien/klien (ketika ia masih mengadopsi sikap ini). Meski saya sendiri meyakini bahwa sikap pesimis seorang terapis dapat menghambatnya dalam membantu klien/pasiennya. 

Apakah pesimisme sama sekali tidak baik?

André yang tidak diragukan lagi memang pernah jadi orang pesimis ini, telah mengingatkan kita bahwa optimisme-pesimisme adalah sikap mental. Sebagai sikap mental, keduanya bukanlah bagian kepribadian yang tidak dapat diubah, atau bahwa manusia hanya memiliki salah satunya. Sebaliknya, keduanya sudah ada dalam diri kita.

Saya coba memahami gagasan beliau, bahwa sebagai sikap mental, optimisme dan pesimisme memang dapat dikembangkan dan dapat ditumbuhkan. 


Kita sudah memiliki keduanya dalam diri kita, hanya saja selama ini kita hanya berfokus pada penggunaan salah satunya. Padahal kita tidak perlu memilih salah satunya, untuk menjadi optimis atau pesimis.

Sikap pesimis, biar bagaimanapun, membantu kita untuk mengantisipasi "bahaya", kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Kita membutuhkan keduanya, optimisme dan pesimisme. Kita dapat menggunakan keduanya, namun kita harus menggunakannya dalam takaran yang tepat :

Perlu banyak optimisme untuk mengaktifkan keyakinan dan energi untuk menemukan solusi ketika berhadapan pada suatu masalah, untuk menemukan jalan menuju tujuan yang diharapkan. Namun optimisme ini perlu dipadukan dengan sedikit pesimisme untuk mengantisipasi kemungkinan adanya bahaya (André, 2018).

Hmm, saya kira pendapat André ini adalah sebuah kompromi yang baik. Bagaimana menurut Anda?

Artikel Terkait