Indonesia adalah negara dengan keindahan alam yang begitu luar biasa. Karena keindahannya ini, sampai-sampai ada yang menggambarkan Indonesia dengan ungkapan “sepotong surga yang dititipkan di dunia”. Dengan struktur bentang alam yang berpadu dengan hijaunya pepohonan kawasan hutan, birunya laut dan damainya suasana pantai, pesona alam Indonesia benar-benar mampu memikat mata siapa saja yang memandangnya.

Dengan pesona yang luar biasa ini, Indonesia menjadi salah satu negara di dunia yang paling banyak diincar oleh wisatawan asing untuk dikunjungi pada masa liburan.  Hal ini bisa kita lihat dari data tingkat pertumbuhan wisatawan asing yang datang ke Indonesia yang mencapai rata-rata 21.31 % per tahunnya (Ditjen Imigrasi dan BPS, 2017).

Tidak mengherankan apabila Indonesia mengalami lonjakan wisatawan asing setiap tahunnya mengingat terdapat banyak  destinasi wisata alam di negeri ini yang benar-benar bisa memuaskan mata pengunjung.

Dengan naiknya volume wisatawan yang berkunjung ke tempat-tempat wisata alam di Indonesia, maka potensi keuntungan finansial yang diperoleh, baik secara nasional maupun lokal, akan sangat besar dan bisa menjadi pemasukan potensial bagi Indonesia di sektor pariwisata.

Untuk mewujudkan capaian ini, maka investasi mutlak diperlukan untuk menciptakan infrastruktur ekowisata yang handal. Ruang investasi di sektor ekowisata harus di buka seoptimal mungkin agar pengelolaanya mampu menghasilkan narasi positif; terutama untuk kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Namun sayangnya, jumlah investasi di sektor ekowisata masih terbilang sangat rendah. Promosi investasinya pun masih kalah populer bila dibandingkan dengan promosi investasi di sektor migas dan barang tambang lainnya.

Padahal, berinvestasi di sektor ekowisata, selain menghasilkan keuntungan yang cukup besar, juga dapat menjadi langkah konkrit, terutama bagi negara-negara maju penghasil gas karbon terbanyak di dunia, untuk ikut terlibat dalam upaya mengkonservasi lingkungan dan mengentaskan kemiskinan; dua masalah utama yang tengah dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini. 

Dengan berinvestasi di sektor ekowisata, diharapkan masalah kemiskinan dan kerusakan lingkungan dapat teratasi secara sistemik dan komprehensif melalui sebuah program investasi global yang bisa kita sebut sebagai the earth investment; sebuah strategi investasi jangka panjang, berkelanjutan , dan pro lingkungan dengan menitikberatkan keuntungan pada aspek-aspek non finansial.

Investasi jangka panjang dengan menargetkan keuntungan non-finansial seperti disebutkan di atas memang jarang dikenal dalam dunia investasi.  Namun, jika keuntungan non-finansial yang dimaksud adalah terpeliharanya lingkungan dan sejahteranya masyarakat, maka ini adalah keuntungan yang nilainya jauh lebih besar bila dibandingkan dengan keuntungan finansial yang cenderung bersifat jangka pendek.

Oleh karena itu, promosi investasi di sektor ekowisata hendaknya juga digalakkan dengan frekuensi yang sama dengan promosi investasi di sektor primer seperti migas dan sejenisnya, sehingga pembangunan di Indonesia tidak semata-mata berorientasi fisik tetapi juga non fisik seperti perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini, pemerintah begitu gencarnya melakukan promosi investasi yang berorientasi pada financial benefit;  tentang berapa keuntungan yang akan diperoleh oleh investor dan apa dampak positifnya untuk pembangunan di Indonesia. Ini memang merupakan tindakan tepat yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia di tengah-tengah lesunya perekonomian nasional dan tingginya angka pengangguran.

Tetapi, dalam proses ini, ada satu hal yang sering lupa dipertimbangkan; investasi asing yang masuk ke dalam negeri, terutama di sektor industri ekstraktif dan pengolahan sumber daya alam, bisa jadi akan meninggalkan narasi negatif berupa kehancuran ekologi dan kegagalan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal; dua masalah utama yang berpotensi terjadi apabila pengelolaan investasi itu tidak direncanakan dengan matang. 

Oleh karena itu, disamping gencar mempromosikan ruang-ruang investasi potensial kepada dunia internasional, pemerintah Indonesia hendaknya juga mempromosikan the earth investment ini kepada dunia dengan memberikan narasi positif yang kaya akan keuntungan-keuntungan non finansial yang nilainya jauh lebih baik dari pada sekedar mengejar keuntungan finansial.

Investasi yang akan masuk ke Indonesia hendaknya tidak sering diterjemahkan sebagai jalan masuk untuk mendulang keuntungan yang semaksimal mungkin (devisa-sentris).  Investasi bisa juga ditargetkan untuk meraih keuntungan-keuntungan non finansial yang bersifat jangka panjang, yaitu untuk kemaslahatan umat manusia dan pemulihan kerusakan lingkungan di bumi.

Sebuah gagasan yang sangat relevan untuk dimulai dari Indonesia, mengingat bahwa Indonesia merupakan negara dengan predikat paru-paru dunia dan salah satu pemilik kawasan hutan tropis terbesar. Dengan dua posisi strategis ini, maka Indonesia sebisa mungkin harus mampu tampil menjadi negara pioneer yang mempelopori gagasan the earth investment ini ke seluruh dunia.

Mempromosikan investasi asing di sektor ekowisata untuk kepentingan konservasi dan pengentasan kemiskinan merupakan sebuah pemikiran yang berpijak pada pandangan visioner tentang keselamatan bumi di masa depan; sebuah ajakan kepada dunia internasional agar bersama-sama ikut dalam gerakan investasi untuk kehidupan bumi yang lebih baik. 

Tujuan untuk memaksimalkan keuntungan finansial hendaknya tidak mengurangi kepeduliaan kita terhadap alam, sebab usaha-usaha untuk melestarikan lingkungan dan mensejahterakan masyarakat sama sekali tidak kontradiktif terhadap tujuan tersebut.  Keduanya bisa berjalan beriringan dan saling mengisi antara satu sama lain.

Dengan mempromosikan the earth investment ini, maka citra green development Indonesia akan menjadi semakin kuat.  Hal ini akan sangat menguntukan posisi Indonesia untuk meraih dukungan positif dari dunia internasional dalam rangka mendeklarasikan Indonesia sebagai negara dengan model pembangunan berkelanjutan yang adaptif terhadap kondisi lingkungan dan pro pada kesejahteraan masyarakat. 

Ekowisata, Pengentasan Kemiskinan dan Konservasi Lingkungan

Ekowisata merupakan jenis pariwisata yang menitikberatkan keunggulannya pada keindahan alam dan pesona alami yang dihadirkannya.  Di samping itu, tujuan perjalanan wisatanya bukan semata-mata untuk menikmati keindahan alam di sekitar, tetapi juga untuk ikut dalam usaha-usaha mengkonservasi lingkungan dan membantu ekonomi masyarakat lokal melalui aktivitas berskala kecil.

Wisatawan yang datang pun bisa belajar banyak hal tentang alam dan lingkungan dari interaksi dengan masyarakat sehingga ada proses timbal balik yang terjadi. 

Hal ini sesuai dengan definisi ekowisata yang pertama kali diperkenalkan oleh organisasi The Ecotourism Society (1990) sebagai berikut: " Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat " . 

Menurut berbagai sumber, kegiatan ekowisata mulai digalakkan ketika banyak para ahli lingkungan dan budaya merasakan adanya dampak negatif dari kegiatan pariwisata konvensional, dimana perjalanan wisata yang dilakukan oleh para turis yang berkunjung ternyata banyak menyisakan narasi negatif.

Dampak yang dirasakan berupa kerusakan lingkungan, terdegradasinya kearifan dan budaya lokal, melemahnya peran masyarakat setempat dan ditambah dengan adanya kompetisi bisnis yang terkesan mengabaikan eksistensi lingkungan, budaya dan ekonomi masyarakat lokal.

Oleh karena itu, untuk mengontrol naiknya eskalasi kerusakan akibat dampak perjalanan wisata alam yang tidak menguntungkan ini, kegiatan pariwisata berbasis alam` berusaha diarahkan orientasinya ke ekowisata yang dianggap lebih ramah lingkungan, terutama jika lokus atau tempat wisata alam yang akan dikunjungi masih fresh dan interaksi antara masyarakat dengan alamnya masih sangat kuat.

Kondisi alam yang masih fresh dan interaksi masyarakat lokal yang masih kental dengan nuansa kearifan lokalnya inilah yang kemudian dijadikan sebagai komoditas wisata utama sehingga perjalanan wisata yang akan dilakukan oleh para wisatawan akan lebih berorientasi kepada konservasi lingkungan dan penghayatan atas nilai-nilai budaya lokal yang masih hidup.

Ekowisata merupakan sektor yang paling cocok untuk dipromosikan dalam ide investasi the earth investment, sebab di dalam aktivitasnya mencakup pemberdayaan ekonomi lokal dan pelestarian lingkungan; dua hal utama yang menjadi sasaran dalam ide investasi the earth investment.  Umumnya, objek ekowisata relatif sama dengan obyek wisata pada kegiatan wisata alam populer, tetapi muatan kegiatanya lebih mengedepankan nilai-nilai moral serta tanggung jawab terhadap obyek wisatanya.  Secara umum, kegiatan ekowisata dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

JENIS WISATA

AKTIVITAS/OBYEK WISATA

1

2

Wisata pemandangan
Objek-objek alam (pantai, air terjun, terumbu karang);
Flora (hutan, tumbuhan langka, tumbuhan obat-obatan)
Fauna (hewan langka dan endemik) Perkebunan (teh, kopi)
Wisata petualangan
Kegiatan alam bebas (lintas alam, berselancar)
Ekstrem (mendaki gunung, paralayang)
Berburu (babi hutan)
Wisata kebudayaan dan sejarah
Suku terasing (orang Rimba, orang Kanekes)
Kerajinan tangan (batik, ukiran)
Peninggalan bersejarah (candi, batu bertulis, benteng kolonial)
Wisata penelitian
Pendataan spesies (serangga, mamalia dan seterusnya)
Pendataan kerusakan alam (lahan gundul, pencemaran tanah)
Konservasi (reboisasi, lokalisasi pencemaran)
Wisata sosial, konservasi dan pendidikan
Pembangunan fasilitas umum di dekat objek ekowisata (pembuatan sarana komunikasi, kesehatan)
Reboisasi lahan-lahan gundul dan pengembang biakan hewan langka
Pendidikan dan pengembangan sumber daya masyarakat di dekat objek ekowisata (pendidikan bahasa asing, sikap)

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Membuka ruang investasi asing berjangka panjang pada sektor ekowisata memang bukanlah hal yang lazim atau populer.  Sasaran investasi yang terjadi selama ini masih dimenangkan oleh industri pengelolaan sumber daya alam yang sarat akan kegiatan eksploitatif.

Meskipun memiliki keindahan alam yang megah, Indonesia ternyata belum cukup kuat menarik minat investor asing untuk berinvestasi pada sektor yang lebih menawarkan keuntungan-keuntungan non finansial seperti ekowisata ini.

Namun sebagai salah satu negara yang mulai tumbuh sebagai negara besar yang banyak dituju oleh para investor asing,  tak ada salahnya bagi Indonesia untuk mencoba mengkontruksi gagasan the earth investment ini agar bisa mengundang perhatian negara-negara luar, sehingga tema-tema yang berkaitan dengan “ investment for conservation and empowerment”  bisa menjadi pembahasan di tingkat internasional.