Penulis masih ingat ketika masih duduk di bangku sekolah dasar ibu selalu berusaha membelikan buku tulis terbaik untuk anak-anaknya. Pada waktu itu dalam paradigma kami-keluarga penulis- buku SIDU adalah buku yang terbaik. 

Dengan varian kartun yang sesuai umur anak-anak dan kertas yang putih menjadi faktor utama buku tulis tersebut menjadi minat orang tua untuk memberikan anak-anaknya buku tulis yang terbaik. Tak hanya itu, buku tulis SIDU dulunya dianggap sebagai kebutuhan tersier dan dapat dikategorikan sebagai jenis barang mewah dalam dunia belajar-mengajar.

Harga untuk satu buku tulis SIDU bisa dua kali lipat lebih mahal dari pada buku tulis lain yang kertasnya berwarna abu-abu. Oleh karena itu fungsi buku tulis tak hanya sebagai alat tempat mencatat pelajaran sehari-hari, buku tulis juga menjadi cerminan tingkat ekonomi para siswa. 

Selain menjadi cermin tingkat ekonomi para siswa, buku tulis juga menjadi cermin kepedulian orang tua akan pendidikan anak-anaknya. Dan dalam takaran ini penulis termasuk cermin yang kedua, karena dalam kondisi kepepet seperti apapun, orang tua akan membelikan buku dengan kertas terbaiknya.

Kertas sebagai output proses industri

Kertas-kertas yang kita nikmati bukanlah merupakan suatu hal yang alami terjadi dan tumbuh seperti buah. Buah tumbuh dan hadir dengan eksistensinya sebagai buah tanpa menghasilkan limbah-limbah yang berbahaya. 

Buah hadir dengan adanya proses penyerapan air, karbon dioksida dan zat hara dalam tanah tanpa adanya proses yang mengorbankan sumber daya dan ekosistem sekitar. Output dan input yang terjadi dalam proses penghasilan buah tak ada yang bersifat parasitisme sehingga terjadi keseimbangan ekosistem, namun tidak demikian dengan kertas.

Pembuatan kertas sebagai barang pabrik menghasilakan limbah-limbah yang tak bisa dihilangkan begitu saja, mengingat hal ini bukanlah suatu proses yang alami. Setidaknya ada empat jenis limbah pabrik berupa limbah padat, gas, cair dan partikulat yang sangat berbahaya bagi lingkungan sekitar(Rini,2002).

Selain dampak yang ditimbulkan dan merusak lingkungan, hasil limbah juga sangat berbahaya terhadap manusia. Antara lain asbes yang dapat menyebabkan kanker paru-paru, aditif kertas yang dapat menyebakan kanker pada manusia, debu kayu, hidrazin, styren, minyak mineral dll. Senyawa-senyawa tersebut berpeluang besar menyebabkan kanker(Green,2005).

Ada fakta yang mencenganngkan bagi penikmat kertas pada umumnya. Harga satu rim kertas ukuran A4 hanyalah berkisaran pada harga Rp. 37.000,00,- akan tetapi untuk membuat kertas sebanyak satu rim setidaknya diperlukan 1 pohon berusia 5 tahun. Setiap jam, Dunia kehilangan 1.732,5 hektar hutan kayu untuk dijadikan bahan baku kertas. 

40% industri kayu global memproduksi kertas dan seluruhnya adalah penyumbang gas emisi rumah kaca. Dalam proses pembuatannya pun menggunakan bahan bakar fosil yang tidak sedikit. sehingga kerugian yang diciptakan dalam proses pembuatan kertas sangatlah besar, dan ini bukanlah suatu hal yang murah.

Kehadiran eksistensi kertas di dunia dihiasi dengan pengorbanan-pengorbanan yang tidak murah. Laju deforestasi tak terhindarkan secara legal maupun ilegal rakus meratakan hutan-hutan. Wacana reboisasi sebagai penanggulangan bahaya deforestasi pun kalah marak dengan semangat pembabatan lahan kapitalis dunia. 

Indonesia merupakan negara yang meproduksi gas emisi rumah kaca ketiga terbesar di dunia stelah Cina dan Amerika Serikat dengan 85% emisi berasal dari kerusakan dan berkurangnya jumlah luas hutan di Indonesia(bbc.com,2014).

Pohon memanglah sumber daya alam yang bisa diperbaharui, namun deforestasi yang tak terkendali dapat merusak tatanan alam secara signifikan. Bagaimanapun asas waktu tak akan pernah terpisahkan dari segala sesuatu sehingga sumber daya alam yang bisa diperbaharui juga memerlukan waktu secara mutlak untuk tetap eksis. 

Deforestasi yang terjadi secara membabi buta-ilegal logging-memberantas habis pohon-pohon dan waktu pemberdayaannya sekalian. Sehingga hutan tak hanya kehilangan pohon-pohonya, melaikankan kehilangan waktu untuk menyediakan stok pohon untuk masa depan. 

Hutan tanaman industri (HTI) tidak mampu mencukupi kebutuhan kertas(Restu Indah, 2014).hal itu menunjukkan bahwa hutan tidak mampu membendung kegiatan konsumsi kertas yang berlebih dari masyarakat dunia. 

Saat ini konsumsi kertas di dunia sebanyak 394 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada tahun 2020(Haris Munandar, 2013). Ukuran uang sebesar Rp. 37.000,00,- adalah sangat murah dan tidak sebanding dengan pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan untuk mewujudkan eksistensi kertas.

Eksistensi kertas di era industri 4.0

Era industri 4.0 mengikis segala kegiatan yang bersifat manual dan beralih pada Dunia otomasi untuk mempermudah masyarakat dalam melakukan kegiatan individu-sosial. Jarak tak lagi menjadi persoalan dan waktu pun bisa diefektifkan. 

Pemangkasan jarak dan waktu dilakukan dengan kecepatan dan sinyal sebagai media penghantar, hal itu memungkinkan segala kebutuhan informasi dapat tersebar secepat kecepatan cahaya.

Pada era industri 4.0 yang mewajibkan tekhnologi sebagai alat utama dalam melakukan segala proses kehidupan sosial, mulai dari pendidikan, ekonomi, politik dan kebudayaan. Tekhnologi menjadi suatu keharusan yang tak terhindarkan dari roda kehidupan masyarakat sekitar, bahkan orang yang menolaknya akan tertelan oleh zaman.

Penggeseran budaya yang diakibatkan oleh tahapan era industri 4.0 juga menyentuh pada penggunaan kertas sebagai sarana baca-tulis. Era ini memungkinkan tekhnologi mengambil alih semua hal yang berbau dengan kegiatan baca-tulis mulai dari buku, koran bahkan Qur’an beralih secara digital. Hal ini menimbulkan wacana bahwa digitalisasi pada era industri 4.0 dapat mengurangi konsumsi kertas. 

Namun Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar mengatakan walaupun ada penggunaan media online, pada kenyataannya tidak menghambat perkembangan industri pulp dan kertas karena penduduk dunia diproyeksikan menjadi 9 milliar orang pada tahun 2050 dan hampir 60%-70% berada di kawasan Asia yang diprediksi masih menggunakan kertas untuk berbagai keperluan. Hal itu menunjukkan bahwa kertas tetaplah eksis di zaman sekarang.

Kertas abu-abu untuk kepentingan yang masih abu-abu

Dilansir dari media Indonesia, sampah Nasional yang dihasilkan sekitar 170 ribu ton/hari. Dari jumlah itu sampah kertas menyumbang 10% atau sekitar 17 ton/hari indeks sampah Nasional. 

Siti Nurbaya selaku kementrerian lingkungan hidup dan kehutanan membidani kelahiran gerakan tiga jari kelola sampah yaitu pilah, kompos dan daur ulang menuju Indonesia bersih 2020. Prinsip utama dari gerakan itu adalah 3R (reduce, reuse, recycle) yang diartikan sebagai mencegah timbulnya sampah, mengguna ulang sampah dan mendaur ulang sampah.

Dalam konsep lebih baik mencegah daripada mengobati mengisyaratkan bahwa pembudayaan kegiatan menghasilkan sampah minimalis- sampah kertas-dalam individu masyarakat adalah garda terdepan dalam mencegah terjadi deforestasi dan pengurangan limbah serta polusi akibat proses industri kertas. 

Hal ini tidak harus dilakukan dengan cara mengurangi jatah buku bacaan maupun jatah buku tulis individu masyarakat, melainkan mengalihkan penggunaan jenis kertas.

Kertas dibagi menjadi dua, yaitu kertas putih sebagai kertas yang berasal dari pengolahan pohon secara langsung dan kertas abu-abu yang berasal dari sampah kertas melalui proses daur ulang. 

Pengalihan penggunaan jenis kertas salah satu cara mengoptimalkan fungsi kertas abu-abu sebagai sumber daya kertas alternatif dimana saat ini masih dipandang sebelah mata. Penulis pernah izin kepada salah satu dosen pengampu filsafat ekonomi islam untuk menggunakan kertas abu-abu dalam melaksanakan tugas resume yang beliau berikan. Respon beliau hanya mengatakan, “ekonomis sekali kau nak” kemudian disambut tawa oleh teman-teman sekelas. 

Namun dari beliau penulis sadar bahwa dalam penggunaan kertas abu-abu dalam proses pembelajaran merupakan hal yang sangat ekonomis. Tak hanya ekonomis dalam konteks budgeting saja, melainkan ekonomis dalam menjaga dan menciptakan lingkungan yang harmonis dengan mengurangi limbah, polusi dan efek rumah kaca dalam pembuatan kertas putih.

Pengalihan penggunaan kertas ini tak mungkin bisa semerta-merta diterapkan secara general atas segala kebutuhan kertas. Pengalihan kertas disini cukup digunakan untuk hal-hal yang berbau abu-abu atau tidak pasti seperti halnya buku tulis dan tugas-tugas makalah dari dosen yang umumnya dihambur-hamburkan. 

Kertas putih terlalu mewah untuk disia-siakan oleh semacam corat-coretan dosen atas revisi makalah para mahasiswa. Dalam pandangan penulis corat-coret itu tidak mencoret martabat mahasiswa sebagai akademisi, melaikan mencoret martabat dosen sebagai akademisi yang tak menghargai kertas sebagai barang yang dalam perwujudannya banyak mengorbankan keadaan lingkungan. 

Sedangkan penggunaan kertas putih dialih fungsikan ke dalam media penulisan yang sudah pasti dan bernilai seperti buku bacaan, sertifikat dan makalah yang sudah disahkan oleh dosen pengampu sehingga kertas putih terhindar dari kesia-siaan dari kegiatan yang kurang urgen. 

Suatu hal yang sangat kontradiktif dalam pandangan penulis dalam penggunaan kertas abu-abu pada buku LKS yang notabene menjadi buku ajar, dan menggunakan kertas putih dalam buku tulis sebagai media oret-oretan. Bak dunia penuh dengan kebalikan-kebalikan.

Hal ini bisa diterapkan dengan membuatkan suatu program khusus bagi sekolah mengingat sekolah adalah pusat terjadinya kegiatan konsumsi kertas yang sangat besar dengan tidak lepasnya kegiatan baca tulis secara konvensional. 

Proses pengalihan ini tak bisa lepas dari fungsi sekolah dan lembaga pendidikan yang bertugas sebagai penyelenggara pertama dan utama dalam optimalisasi kertas bekas dan spesialisasi kertas putih. 

Selain berfungsi sebagai tempat implementasi yang kondusif sekolah maupun lembaga pendidikan mampu menyaring sampah-sampah kertas yang dihasilkan oleh anak didik tidak berhamburan ke tempat-tempat yang tidak jelas. Caranya dengan meng-cover laju penggunaan kertas para siswa, mahasiswa, guru maupun dosen dalam ranah sekolah. 

Hal ini digunakan untuk mencegah keluarnya sampah-sampah kertas bekas yang sudah dipakai dalam lingkup sekolah sehingga tidak terjadi kesukaran dalam pengumpulan kertas bekas. Hasil dari kertas yang terkumpul dalam sekolah dialokasikan kepada lembaga daur ulang kertas atau pabrik kertas yang bersedia membuat buku tulis ramah lingkungan yang menandakan kepedulian kepada lingkungan tak hanya pada keuntungan. 

Setelah itu buku tulis ramah lingkungan tersebut dialokasikan kepada sekolah-sekolah untuk dimanfaatkan ulang dan membudayakan kecintaannya terhadap lingkungan. Budaya penggunaan kertas abu-abu dalam kegiatan tulis-menulis sebagai optimalisasi penggunaan kertas daur ulang dapat mengurangi dampak dari perwujudan eksistensi kertas di dunia.

Akhir-akhir ini Filipina memberikan syarat untuk menanam 5 pohon bagi kelulusan para pelajar. 5 pohon sebagai ganti dari kisaran 5 rim kertas yang digunakan dalam kegiatan mereka dalam proses belajar-mengajar. Hal ini mengisyaratkan bentuk pelajaran penting bagi kecintaan terhadap lingkungan karena bagaimanapun lingkungan adalah tempat manusia bersandar. 

Saat manusia merusak sandarannya sendiri menandakan manusia yang tak tahu diri. Membabat habis hutan dengan alasan bersimpuh dalam dunia akademisi pun menandakan ia manusia yang mencoreng misi akademisi. Dibutuhkan kertas yang mengisi dunia akademisi dengan mengurangi gas emisi. 

Kertas abu-abu yang diwujudkan demi lingkungan yang tak kelabu. Mungkihkan ini terjadi? Bersedikah PT. Pulp & Paper sinar mas menyediakan kertas ini dan bekerja sama dengan sekolah-sekolah yang peduli? Semoga terjadi...