Melakukan proses pembelajaran di rumah masih sangat relevan untuk dilakukan saat ini. Mengingat tingginya risiko yang ditimbulkan jika harus melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah.

Menurut beberapa hasil penelitian, ternyata risiko terpapar virus dalam ruangan juga lebih besar jika dibandingkan dengan di luar ruangan. Di lain sisi, vaksin virus SARS-CoV-2 juga belum ditemukan, sedangkan jumlah angka kesakitan penyakit Covid-19 masih belum menunjukkan adanya penurunan.

Proses pengajaran yang selama beberapa bulan ini dilakukan dari rumahmemaksa para orang tua untuk menjadi guru bagi anak-anaknya. Terutama pada anak dengan jenjang pendidikan PAUD dan TK, yang masih sangat membutuhkan bimbingan belajar dari orang tuanya.

Hal tersebut ternyata menciptakan masalah baru karena sebagian besar orang tua akan lebih banyak menuntut anaknya untuk dapat menguasai keterampilan tertentu, seperti membaca, menulis, dan berhitung.

Banyak orang tua yang merasa bangga jika dalam usia tersebut anaknya sudah mahir membaca, menulis, dan berhitung, begitu pun yang terjadi sebaliknya. Padahal anak usia PAUD dan TK merupakan anak yang memiliki naluri dan hasrat bermain yang masih tinggi. 

Sehingga menuntut mereka secara berlebihan untuk menguasai keterampilan tertentu sebaiknya tidak dilakukan. Sebab hal tersebut akan berdampak pada masalah psikis anak lebih lanjut. Beberapa pakar psikologi juga mengatakan bahwa anak pintar itu ada waktunya.

Banyak hal sebenarnya yang dapat diajarkan pada anak selain keterampilan membaca, menulis, dan berhitung. Seperti mengajarkan anak tentang ilmu alamiah dasar dengan mengajaknya mengamati lingkungan sekitar.

Kita juga dapat mengasah keterampilan sosial dan emosi anak. Keterampilan tersebut penting diberikan dan diasah sejak usia dini. Nantinya mereka menjadi anak yang memiliki rasa sosial tinggi, dapat mengendalikan emosinya, sehingga dapat hidup bermasyarakat dengan baik.  

Mengajarkan Konsep Ilmu Alamiah Dasar  

Kita dapat mengajarkan anak jenjang PAUD dan TK tentang ilmu alamiah dasar dengan mengoptimalkan lingkungan sekitar sebagai media belajar bagi anak. Kita dapat mengajarkan mereka materi tentang komponen ekosistem, interaksi makhluk hidup, sifat benda, rantai makanan, dan seterusnya.

Mengajarkan anak tentang komponen ekosistem, yaitu makhluk hidup dan benda tak hidup. Bahwa di alam terdapat makhluk hidup yaitu manusia, hewan, dan tumbuhan, serta terdapat benda tak hidup seperti air, udara, tanah, angin, dan seterusnya. Kedua komponen tersebut saling melakukan interaksi dan saling membutuhkan.

Mengajarkan macam-macam interaksi pada makhluk hidup, seperti parasitisme, komensalisme, mutualisme, netralisme serta interaksi lainnya.

Parasitisme atau interaksi yang merugikan salah satu pihak dan menguntungkan pihak lainnya, contohnya interaksi antara nyamuk dan manusia.

Komensalisme atau interaksi yang menguntungkan salah satu pihak tetapi tidak merugikan pihak lainnya, contohnya pohon anggrek dengan pohon mangga. Mutualisme atau interaksi yang saling memberi keuntungan, contohnya interaksi antara serangga penyerbuk seperti kupu-kupu dengan bunga. Netralisme atau interaksi yang tidak saling memengaruhi antara satu dengan yang lainnya, contohnya interaksi antara ayam dan kucing.

Mengajarkan anak tentang macam-macam sifat benda, yaitu benda padat, cair dan gas. Benda padat yang memiliki bentuk dan volume yang tetap, seperti tas, pensil, buku, dan seterusnya. Benda cair yang memiliki volume tetap dan bentuk tidak tetap, contoh air. Benda gas yang memiliki bentuk serta volume yang tidak tetap, seperti asap.

Mengajarkan anak tentang sistem rantai makanan, bahwa untuk tetap hidup semua makhluk hidup membutuhkan makanan, seperti tumbuhan yang membutuhkan air, hewan yang membutuhkan air dan makanan, serta manusia yang membutuhkan air dan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan ternak.

Asah Keterampilan Sosial dan Emosional pada Anak

Orang tua dapat mengoptimalkan proses pembelajaran anak selama di rumah, dengan menjadikan rutinitas sebagai bagian dari pembelajaran. Jadi bukan hanya terfokus pada kemampuan membaca menulis dan berhitung. Namun ada hal penting yang seharusnya dapat ditanamkan pada anak usia PAUD dan TK, yaitu kemampuan sosial dan emosional.

Orang tua seharusnya perlu lebih khawatir ketika anaknya tidak mau bekerja sama, tidak mau berbagi, tidak mau membantu orang lain, tidak berani mengutarakan keinginan atau pendapatnya, tidak mau mendengarkan orang lain ketika sedang berbicara dengannya, dan seterusnya.

Orang tua memiliki peran yang sangat besar untuk menanamkan kedua keterampilan tersebut. Karena selama masa pandemi, proses belajar anak dilakukan di rumah.

Para orang tua dapat mengajarkan anaknya untuk selalu mengucapkan minta tolong ketika membutuhkan bantuan, mengucapkan terima kasih ketika diberi sesuatu atau setelah dibantu, mengajarkan anak untuk minta maaf jika berbuat salah, berbagi makanan atau mainan, membantu orang tua, dan seterusnya.

Hal ini sangat penting dilakukan karena sejatinya manusia merupakan makhluk sosial, kelak mereka akan tumbuh dan hidup bersosialisasi di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja maupun lingkungan masyarakat luas.

Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa anak yang memiliki keterampilan sosial dan emosional yang baik akan menjadi orang sukses di masa depan. Sehingga penting bagi orang tua untuk mengoptimalkan kemampuan anak dalam menguasai keterampilan sosial dan emosional.