Mahasiswa
1 tahun lalu · 1183 view · 5 min baca menit baca · Perempuan 22322.jpg
pxhere

Oppression Tubuh Perempuan dalam Citra Boneka Silikon Seks

Harus diakui bahwa wacana seksualitas saat ini mulai menemukan ruang kebebasan. Setiap orang mampu membicarakannya, mulai dari ruang tempat tidur, ruang bisik-bisik yang masih bertirai, hingga menjelma di ruang-ruang publik, ruang studi, ruang diskusi sesuai keinginan mereka tanpa batas, tanpa sekat.

Donny Gahral Adian (lulusan filsafat UI) pernah mengatakan, seks yang awalnya diperbincangkan secara diam-diam malahan meledak, berkecambah, dan menyebar dalam berbagai bentuk wacana.

Seksualitas tak lagi menjadi hal yang selalu bersifat privat. Ia dipaksa hadir dalam sebuah “ranjang raksasa” untuk berebut memasuki ruang publik. Makin menggelindingnya wacana seksualitas di ruang publik juga membuat etika dan moralitas yang menjadi selubung seks kian pudar dan semakin kabur.

Baru-baru ini, saya melihat beredarnya video mengenai seorang pria Jepang bernama Masayuki Ozaki (45 tahun) menyatakan dirinya merasa jatuh cinta dan ingin hidup bersama dengan boneka seks miliknya.

Di Jepang, persoalan seks dikemas menjadi komoditas industri oleh tangan-tangan kapitalis demi mendatangkan keuntungan. Industri seks menampilkan seksualitas yang digambarkan dengan sangat vulgar tanpa selubung etika dan moralitas.

Dulu, industri seks hadir di ruang remang-remang tersembunyi dan dilakukan secara terselubung di arena pelacuran. Tubuh yang dulu dijadikan obyek dalam pelacuran kini dengan semakin canggihnya teknologi tubuh tersebut dihadirkan dalam dimensi kehampaan dengan penuh manipulasi dalam wujud boneka seks.

Boneka seks membawa citra bagaimana tubuh perempuan mudah dikonstruksi menurut selera penikmatnya di mana ukuran dada harus besar, berpinggul kecil, berbokong besar, rambut indah, mata indah, bibir sensual, dan pilihan warna puting payudara yang bisa disesuaikan dengan keinginan pembeli.

Sampai di sini, saya berpikir bahwa boneka seks diciptakan dengan mendekonstruksi tubuh perempuan hingga ke bagian tubuh paling intim sebagai sarana pemuasaan hasrat seksual para pembeli dan penikmat seks yang didominasi kaum laki-laki.


Lalu di manakah pabrik boneka seks dibuat? Di Jepang, pabrik boneka silikon seks tertua bernama Orient Industry sudah beroperasi sejak tahun 1977 dan memproduksi boneka seks dengan cara handmade. Pabrik pembuatan boneka seks juga terdapat di Amerika Serikat bernama Real Doll di San Marcos, California.

Boneka seks yang diklaim paling canggih bernama Harmony oleh perancangnya bernama Matt McMullen akan diproduksi akhir tahun ini. Boneka seks akan didesain untuk bisa berbicara, mendesah layaknya perempuan sedang orgasme, hingga diprogram untuk bisa menghafalkan puisi.

Masih ingatkah kalian bahwa Amerika juga pernah meluncurkan boneka mainan anak-anak yang kemudian menjadi ikon budaya popular? Yup, boneka barbie.

Saat itu, boneka barbie menggambarkan citra perempuan muda ideal ialah mereka yang mempunyai badan langsing, bibir tipis, rambut berwarna pirang, dan mata besar. Para perempuan pun akhirnya berlomba-lomba untuk mendapatkan tubuh ideal seperti barbie dengan merogoh uang tak sedikit.

Dalam waktu sekejap, citra yang dibawa oleh boneka barbie tentang sosok wanita ideal tersebut mendapat kritik keras dan menjadi bahan diskursus dalam konteks budaya popular.

Sekarang, industri yang lebih gila dari sekadar boneka barbie telah lahir, industri boneka silikon seks yang diciptakan untuk boneka “mainan” laki-laki dewasa. Para kreatornya mengklaim boneka seks merupakan solusi tepat bagi laki-laki yang kesulitan menjalin hubungan dengan perempuan.

Seakan ingin mengamini apa yang diciptakan oleh kreatornya, pembeli boneka seks mengaku lebih nyaman menjalin hubungan dengan boneka silikon karena bisa diatur sesuai keinginan, menuruti perintah, tidak melayangkan protes, bahkan bisa memilihkan baju dan aksesoris boneka sesuai selera yang dikehendaki.

Mereka berdalih bahwa menjalin hubungan dengan boneka adalah hubungan yang ideal di sela-sela kesibukan dan terbatasnya waktu untuk bisa berkencan dengan seorang perempuan sungguhan.

Menurut saya, ketika laki-laki mengalami kesepian karena kesulitan menjalin hubungan dengan lawan jenis, sebagai makhluk sosial, seharusnya mereka memperbaiki dan menciptakan hubungan dengan sesama manusia yang lebih humanis.


Memproduksi boneka seks sebagai solusi bagi pria kesepian bukan langkah ideal di tengah masyarakat modern. Hal ini dapat mendorong tercerabutnya nilai kemanusiaan dan memicu semakin lebarnya jurang komunikasi yang seharusnya berjalan penuh ekspresi keramahan dan keintiman menjadi semakin kaku bisu.

Boneka seks yang ide awalnya diciptakan untuk menjembatani dan memperbaiki kualitas hubungan manusia, faktanya justru berdampak pada dehumanisasi. Dalam konteks ini, perempuan tidak lagi dianggap sebagai manusia seutuhnya.

Perempuan dianggap layaknya boneka, benda mati yang tak punya hak untuk bicara, tak punya hak untuk mengutarakan keinginannya, bahkan hak untuk menolak melakukan aktivitas seks pun juga tak diperolehnya. Ini jelas merupakan perkosaan terhadap hak perempuan.

Citra kekasih idaman yang ingin digambarkan dalam boneka seks ialah perempuan harus punya sifat penurut, tidak boleh protes, menyetujui segala perintah dan kemauan pemiliknya, serta selalu setia di rumah menunggu si pemilik pulang kerja.

Ketika eksploitasi tubuh perempuan dalam wujud boneka seks semakin menunjukkan tahap yang menyeramkan, ini menjadi gejala paling ironis.

Selain diklaim sebagai teknologi mutakhir yang dianggap sebagai solusi manusia dalam aktivitas dan perilaku seks, bagi saya, evolusi seks yang tergambar dalam tubuh sebuah boneka silikon juga mewakili capaian terburuk dalam peradaban.

Alih-alih menciptakan hubungan manusia yang lebih alamiah, boneka seks yang bentuknya dirancang sangat mirip dengan perempuan ini justru semakin menempatkan tubuh perempuan dalam jurang patriarkis paling buruk. Perempuan ditempatkan hanya sebatas obyek kesenangan laki-laki dan fantasi seksual saja, tidak lebih dari itu.

Seks adalah kesenangan, kesenangan adalah seks, dan tubuh perempuan adalah obyek seks.

Menghadapi kenyataan dan gejala perubahan ekspresi seksualitas dan perilaku seksual manusia di era modern seperti sekarang seharusnya penghormatan terhadap tubuh perempuan ditempatkan pada level setinggi-tingginya karena seks adalah sesuatu yang bernilai luhur. Sudah saatnya wacana seks dan seksualitas keluar dari dimensi paradoks yang kian menjebak dan menempatkan perempuan sebagai obyek seks dan kesenangan.


Seks sejatinya bukan hanya sebatas pada obrolan kamar tidur saja, namun seks bisa ditempatkan pada ruang-ruang publik sebagai wacana untuk memproduksi pengetahuan seksualitas yang lebih adil dan berperspektif gender. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan martabat seks agar lebih beretika dan bermoral.

Boneka seks yang diproduksi massal oleh industri kapitalis bisa menjadi ikon oppression gaya baru dalam mengekploitasi tubuh perempuan. Setali tiga uang dengan logika kapitalisme, patriarki yang memberikan kuasa lebih kepada laki-laki untuk mengatur, mengontrol, dan menguasai tubuh perempuan akhirnya semakin menyulitkan perempuan untuk membebaskan tubuhnya.

Tubuh perempuan yang terjebak dalam perangkap kapitalisme, tubuh yang tak mampu melepaskan diri dari kontrol simbol oppression, dan pengetahuan yang terus menerus memproduksi kekuasaannya, di situlah cengkraman patriarki makin tak bisa dilepaskan.

Artikel Terkait